Tottenham Hotspur Resmi Pecat Thomas Frank
Tottenham Hotspur secara resmi telah memecat manajer Thomas Frank menyusul rentetan hasil buruk yang membuat klub kini terpuruk di papan bawah klasemen Premier League.
Keputusan yang dikonfirmasi oleh pihak klub pada Rabu (11/2) pagi waktu setempat ini diambil kurang dari 24 jam setelah atmosfer beracun menyelimuti Tottenham Hotspur Stadium saat Spurs tumbang 1-2 dari Newcastle United. Kekalahan tersebut memperpanjang rekor tanpa kemenangan Spurs menjadi delapan pertandingan liga berturut-turut, meninggalkan mereka di peringkat ke-16, hanya terpaut lima poin dari zona degradasi.
Perjudian yang Gagal
Saat Daniel Levy memboyong Frank dari Brentford pada Juni lalu dengan biaya kompensasi sebesar £6,7 juta, banyak yang berharap pelatih asal Denmark ini mampu memberikan identitas taktis yang stabil. Namun, masa jabatannya hanya bertahan delapan bulan.
Setelah awal yang gemilang melawan Paris Saint-Germain di Piala Super Eropa dan dua kemenangan beruntun di awal Premier League melawan Burnley dan Manchester City, serta membawa Spurs lolos ke Babak 16 Besar Liga Champions, performa domestik mereka justru menjadi bencana. Frank meninggalkan London Utara dengan catatan statistik yang kelam.
Baca juga: Krisis London Utara Memuncak, Newcastle United Permalukan Tottenham di Kandang
Rentetan delapan pertandingan tanpa kemenangan mereka di Premier League saat ini adalah yang terpanjang sejak Juande Ramos dipecat pada tahun 2008 usai rentetan sembilan pertandingan tanpa kemenangan.
“Hasil dan kinerja telah membuat Dewan menyimpulkan bahwa perubahan pada titik ini di musim ini diperlukan,” tulis Spurs dalam pernyataan resminya.
“Sepanjang masa jabatannya di Klub, Thomas telah menunjukkan komitmen yang teguh, memberikan segalanya dalam upayanya untuk memajukan Klub. Kami ingin mengucapkan terima kasih atas kontribusinya dan mendoakan kesuksesan baginya di masa depan.”
Secara keseluruhan, ia hanya memenangkan 13 dari 38 pertandingan di semua kompetisi, dengan persentase kemenangan liga yang sangat rendah di angka 26,9%.
Ketegangan Ruang Ganti dan Protes Fans
Tanda-tanda keretakan sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa pekan terakhir. Ketegangan mencapai puncaknya awal bulan ini ketika kapten tim, Cristian Romero, mengkritik kedalaman skuad di media sosial sebagai sesuatu yang memalukan, sebuah insiden yang terpaksa diselesaikan Frank secara internal.
Meski Frank berkilah bahwa krisis cedera pemain yang belum pernah terjadi sebelumnya menjadi penyebab utama (Spurs kehilangan 10 pemain tim utama saat melawan Newcastle), para pendukung sudah kehilangan kesabaran.
Selama pertandingan Selasa malam, tribun selatan terdengar menyanyikan nama mantan bos mereka, Mauricio Pochettino, sebuah sinyal jelas bahwa publik London Utara merindukan standar lama yang gagal dipenuhi rezim saat ini.
Baca juga: Spurs Makin Tertekan, Frank: Bukan Cuma Salah Manajer
Siapa Pengganti Selanjutnya?
Waktu pemecatan ini terbilang krusial sekaligus brutal. Tottenham kini memiliki jeda sebelas hari sebelum menghadapi laga paling bergengsi musim ini, yaitu Derby London Utara melawan Arsenal.
Tanpa adanya nama manajer interim yang ditunjuk secara instan, spekulasi mengenai pengganti permanen mulai memanas.
Pochettino, yang saat ini melatih tim nasional Amerika Serikat, disebut-sebut untuk peran tersebut, bersama dengan Oliver Glasner, yang bulan lalu mengkonfirmasi bahwa ia akan meninggalkan Crystal Palace pada akhir musim.
Selain itu, nama-nama beken juga muncul seperti Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann, yang mungkin tersedia setelah Piala Dunia.
Siapa pun pelatih, baik interim atau pelatih tetap, yang akan duduk di kursi panas, ia akan memiliki kesempatan untuk langsung bersaing di babak gugur Liga Champions.
Ini adalah manajer permanen keenam dalam tujuh tahun terakhir sejak kepergian Pochettino pada 2019. Saat klub kembali melakukan perombakan, pertanyaan besar tetap membayangi: apakah masalahnya terletak pada sosok di kursi pelatih, atau ada sesuatu yang lebih mendalam di dalam klub.