Di tengah sorotan tajam publik sepak bola dunia terhadap penurunan produktivitas Erling Haaland, manajer Manchester City, Pep Guardiola, pasang badan. Pasca kemenangan tipis City di Anfield baru-baru ini, sang pelatih asal Katalunya itu secara tegas meminta mesin golnya tersebut untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri dan berhenti merasa menderita jika tidak mencetak gol di setiap laga.

Meskipun Haaland baru saja mengonversi penalti krusial pada menit ke-93 untuk mengamankan poin penuh melawan Liverpool di Anfield, fakta bahwa ia belum mencetak gol dari permainan terbuka dalam beberapa pekan terakhir menjadi topik hangat di media Inggris. Standar tinggi yang diciptakan pemain berusia 25 tahun itu kini seolah menjadi bumerang bagi ketenangan mentalnya sendiri.

Terjebak dalam Standar Sendiri

Dalam konferensi pers menjelang laga tengah pekan melawan Fulham, Guardiola mengungkapkan bahwa ia telah berbicara secara personal dengan sang striker. 

Baca juga: Guardiola Peringatkan Arsenal Usai Kemenangan Epik Man City di Anfield

Guardiola menekankan bahwa beban sejarah yang diciptakan Haaland pada musim debutnya kini menjadi tekanan psikologis yang berat.

“Setiap musim yang dia jalani, dia menjadi pemain yang lebih baik untuk musim berikutnya. Bagaimana dia lebih mengenal tubuhnya, bagaimana dia tahu apa artinya bermain setiap hari. Kita tidak boleh melupakan pertandingan-pertandingan terakhir. Mungkin dia tidak memiliki jumlah gol yang diinginkannya, tetapi kita berada di posisi ini berkat dia.”

“Selama tiga perempat musim, jika dia tidak mencetak gol, saya tidak tahu siapa yang akan mencetak gol. Kita berada di posisi ini di Liga Champions [hingga babak 16 besar], dan terutama di Liga Premier, tanpa Erling itu tidak mungkin terjadi.”

Guardiola mengakui bahwa ia melihat semangat membara yang nyata di mata Haaland saat melawan Liverpool. “Ini tidak mudah – Anfield, menit ke-91, 92, dan situasi yang kita hadapi, menghadapinya dengan ketenangan seperti ini, bahasa tubuhnya, di matanya ada semangat membara, dan itu tidak mudah,” ujarnya. 

“Itulah yang mendefinisikan pemain bagus. Semoga dia bisa bangkit kembali. Dan alasan mengapa dia lelah, sedikit lesu, itu karena satu alasan – jadwal pertandingan. Jadi tidak lebih dari itu.”

Faktor Kelelahan?

Jadwal padat di tahun 2026 ini jelas menguras fisik sang raksasa Norwegia.  Dengan City yang masih aktif di empat kompetisi berbeda, termasuk persiapan final Piala Liga melawan Arsenal, hilangnya ketajaman Haaland lebih disebabkan oleh faktor kelelahan fisik daripada hilangnya kualitas.

Baca juga: Manchester City Comeback Dramatis, Tekuk Liverpool 2-1 di Anfield

Sepanjang musim ini, ia telah mencetak 28 gol dari 36 pertandingan di semua kompetisi.

“Kita tidak boleh lupa bahwa dia bukan berusia 29 atau 30 tahun; dia masih muda dan itu bagian dari proses,” ujarnya.

Saat Manchester City berupaya mengejar selisih enam poin dari Arsenal di puncak klasemen, pesan dari Etihad Stadium sangat jelas: gol-gol akan kembali datang secara alami, asalkan Haaland memberi ruang bagi mentalnya untuk bernapas.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!