Rahasia Fabregas Bakar Semangat Como Tumbangkan Napoli di Coppa Italia
Di balik keberhasilan bersejarah Como menembus semifinal Coppa Italia untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, terselip sebuah pidato singkat namun magis dari Cesc Fabregas. Sesaat sebelum adu penalti dimulai melawan Napoli di Stadion Diego Armando Maradona yang intimidatif, pelatih asal Spanyol itu membisikkan satu hal yang mengubah ketegangan menjadi keberanian.
"Saya pernah berada di situasi mereka," ujar Fabregas kepada media setelah kemenangan adu penalti 7-6 yang dramatis setelah imbang 1-1 di waktu normal. Sebuah pernyataan yang merujuk pada pengalamannya selama bertahun-tahun membela klub-klub raksasa seperti Barcelona, Arsenal, dan Chelsea.
Memanfaatkan Tekanan Tim Besar
Fabregas mengungkapkan bahwa kunci kemenangan anak asuhnya bukan hanya soal teknis menendang bola, melainkan cara mereka memandang lawan.
Baca juga: Coppa Italia: Como Menuju Semifinal usai Singkirkan Napoli Lewat Adu Penalti
Di hadapan skuad muda yang memiliki rata-rata usia 22 tahun, Fabregas memberikan perspektif yang berbeda tentang tekanan.
“Saya memberi tahu mereka, saya pernah berada di posisi Napoli sebagai tim ‘besar’ yang diharapkan menang dan itu menambah sedikit rasa takut,” kata Fabregas.
“Kami juga beruntung bisa menjadi yang pertama dalam undian, karena itu membantu. Saya berterima kasih kepada para pemain atas semua yang mereka lakukan, karena dengan mengeluarkan beberapa pemain senior seperti Moreno, Morata, dan Alberto, usia rata-rata adalah 22 tahun.”
Instruksi Fabregas terbukti ampuh. Meski Maximo Perrone gagal mengeksekusi penalti, para pemain muda Como tetap tenang. Sebaliknya, dua pilar senior Napoli, Romelu Lukaku dan Stanislav Lobotka, gagal menjalankan tugasnya, memastikan tiket semifinal jatuh ke tangan tim tamu dari Lombardy.
Taktik Cerdas di Tengah Badai
Sepanjang laga, Fabregas menunjukkan kematangan taktis yang melampaui masa jabatannya yang masih seumur jagung.
Ia secara cerdik menarik keluar bek muda Jacobo Ramon setelah pemain berusia 21 tahun itu beruntung terhindar dari kartu merah usai melanggar Rasmus Hojlund.
“Jelas, dia akan dikeluarkan jika melakukan pelanggaran berikutnya, dia masih berusia 20 tahun dan kurang berpengalaman, ini musim penuh pertamanya sebagai pemain profesional. Sisi baiknya adalah Anda tidak merasakan tekanan, tetapi sisi negatifnya adalah Anda bisa terlalu santai dan mudah teralihkan,” jelas Fabregas.
“Saya harus menariknya keluar, karena bermain dengan 10 pemain dalam situasi seperti ini akan membuat segalanya jauh lebih sulit.”
Baca juga: Fabregas Tak Gentar, Como Siap Sambangi Napoli dengan Filosofi Menyerang
Derby Lombardy Menanti
Kini, Fabregas harus segera membawa skuadnya tetap membumi. Euforia di Naples harus segera berganti dengan persiapan taktis menyambut Derby Lombardy melawan Inter di semifinal yang akan dimainkan dalam dua leg.
“Ini adalah pencapaian bersejarah, momen positif, tetapi kami memiliki pertandingan penting lainnya yang akan datang pada hari Sabtu. Kita harus menyimpan euforia ini untuk akhir musim,” ucap Fabregas.
“Akan sulit untuk menghilangkan adrenalin, tetapi kami mendengarkan musik selama 10 menit di ruang ganti, sekarang kami akan mulai mempersiapkan diri untuk akhir pekan, karena kami menginginkan tiga poin penuh.”
“Kita perlu tetap rendah hati dan terus bekerja, karena kita sudah meraih tiga kemenangan beruntun sekarang.”