Sebuah gol hanyalah separuh cerita. Dalam sepak bola, apa yang terjadi beberapa detik setelah bola bersarang di gawang sering kali justru melahirkan momen-momen paling ikonik dalam olahraga ini, momen yang bertahan lebih lama dari skor pertandingan itu sendiri dan menjadi identitas abadi seorang pemain. 

Dari tarian yang sudah dilatih matang-matang hingga duka yang diubah menjadi penghormatan, berikut sederet selebrasi yang mendefinisikan sepak bola modern.

Tarian Roger Milla di tiang bendera sudut

Kamerun, Italia '90

Jauh sebelum rutinitas terkoreografi menjadi hal lumrah, tarian pinggul Roger Milla di sekitar tiang bendera sudut pada Piala Dunia 1990 dianggap luas sebagai selebrasi yang memicu lahirnya era modern selebrasi gol yang terencana. 

Di usia 38 tahun, Milla mengubah perjalanan Kamerun hingga perempat final menjadi momen kegembiraan global, dan sepak bola tak pernah sama lagi sejak itu.

Baca juga: Siapa yang Membuat Trofi Piala Dunia?

Ayunan bayi Bebeto

Brasil, AS '94

Tak banyak selebrasi yang punya kisah semanis ini. Setelah mencetak gol melawan Belanda di Piala Dunia 1994, Bebeto mengayunkan kedua lengannya seolah sedang menggendong bayi, diikuti rekan setimnya Romário dan Mazinho, sebagai perayaan atas kelahiran putranya di kampung halaman. 

Gerakan ini kemudian menjadi salah satu selebrasi yang paling banyak ditiru sepanjang sejarah.

"Kursi dokter gigi" Paul Gascoigne

Inggris, Euro '96

Selebrasi paling teatrikal dalam sepak bola Inggris ini terjadi saat melawan Skotlandia di Euro '96. Setelah mencetak gol, Gascoigne berbaring di rumput sementara Alan Shearer menuangkan air ke mulutnya dan Jamie Redknapp berpura-pura memeriksa giginya, sindiran cerdas atas insiden malam liburan kontroversial jelang turnamen yang sempat heboh di tanah air.

Sliding lutut Thierry Henry

Tak ada selebrasi lain yang lebih identik dengan gaya penuh percaya diri sang striker selain sliding lututnya, paling dikenang setelah gol individu memukau melawan Tottenham Hotspur. 

Sederhana secara konsep, namun cara Henry memadukannya dengan gol-gol solo yang menakjubkan mengubah sekadar sliding menjadi ciri khas, yang diabadikan menjadi patung di luar stadion Emirates.

Baca juga: Piala Dunia Disimpan di Mana?

Salto, guling, dan tembakan pistol Robbie Keane

Sebagian akrobat, sebagian teater, rutinitas Keane berupa salto, guling ke depan, lalu isyarat menembak dengan jari menjadi salah satu ciri khas paling dikenal dalam sejarah Premier League Inggris. 

Sang pemain asal Irlandia belakangan mengungkap bahwa seluruh rangkaian gerakan itu sebenarnya berasal dari permainan masa kecil bersama teman-temannya di halaman sekolah.

"Siuuu" milik Cristiano Ronaldo

Lahir dari reaksi spontan dalam wawancara usai memenangkan Ballon d'Or 2014, lompatan dan teriakan khas Ronaldo kini menyertai hampir setiap gol yang ia cetak sejak saat itu, berkembang menjadi mungkin selebrasi paling dikenal secara global dalam sepak bola saat ini. 

Dari stadion hingga halaman sekolah di berbagai benua, "Siuuu" telah menjadi fenomena budaya tersendiri.

Sujud Mohamed Salah

Selebrasi yang jauh lebih tenang namun tak kalah kuat maknanya. Salah bersujud dalam gestur Islami setelah hampir setiap golnya, sebuah ekspresi keimanan dan rasa syukur yang menjadi salah satu selebrasi paling dihormati dalam sepak bola modern.

Pose lengan bersilang Kylian Mbappé

Pertama kali terlihat saat masa awal kariernya di Monaco, pose tenang dengan lengan bersilang milik Mbappé menjadi simbol ketenangan yang mendefinisikan permainannya, selebrasi yang justru dibangun dari kesunyian, bukan kemeriahan, yang justru membuatnya semakin menonjol.

Kaus penghormatan Andrés Iniesta dan Jesús Navas

Final Piala Dunia Spanyol 2010

Mungkin momen paling menyentuh dalam daftar ini. Setelah Iniesta mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia 2010, ia mengangkat kausnya untuk memperlihatkan pesan yang didedikasikan untuk mantan kapten Espanyol, Dani Jarque, yang meninggal dunia setahun sebelumnya. 

Baca juga: Daftar Lengkap Juara Piala Dunia

Dalam perayaan yang berlanjut, rekan setimnya Jesús Navas melakukan hal serupa untuk Antonio Puerta, pemain muda Spanyol lain yang meninggal di lapangan beberapa tahun sebelumnya. Momen ini tetap menjadi salah satu pengingat paling mengharukan bahwa sepak bola lebih besar dari sekadar satu pertandingan.

Pose "zen" Erling Haaland

Terinspirasi dari kebiasaan meditasinya sendiri, pose duduk bersila Haaland menjadi ciri khasnya selama masa di Borussia Dortmund, yang secara ikonik pernah ditiru sebagai ejekan oleh seluruh skuad PSG usai kemenangan Liga Champions pada 2020. 

Bertahun-tahun kemudian, dengan sederet trofi kini menghiasi kariernya, sang pemain Norwegia itulah yang tertawa terakhir.

Kaus terbuka Lionel Messi

El Clásico 2017

Messi jarang berselebrasi berlebihan, dan justru itulah yang membuat momen ini begitu berkesan. Setelah mencetak gol kemenangan di menit-menit akhir melawan Real Madrid di Santiago Bernabéu dan golnya yang ke-500 untuk Barcelona, Messi melepas kausnya dan mengangkatnya ke arah tribun pendukung Madrid, membungkam stadion yang semalaman mencemoohnya.

Selebrasi Buat Gol Jadi Abadi

Selebrasi gol telah berkembang menjadi bahasa tersendiri, sebagian identitas pribadi, sebagian penghormatan, sebagian lagi murni kegembiraan. Baik itu keimanan yang tenang dari Salah, teriakan lantang Ronaldo, atau keanggunan tragis dari kaus Iniesta, momen-momen ini melakukan sesuatu yang tak pernah bisa dilakukan oleh sekadar skor akhir: mengubah satu tendangan bola menjadi kenangan yang dibawa oleh satu generasi penuh.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!