Setiap empat tahun sekali, puncak panggung sepak bola internasional selalu ditutup dengan satu pemandangan ikonik: seorang kapten tim mengangkat trofi emas murni ke udara di bawah sorotan lampu stadion. Ribuan juta pasang mata mengenali lekukan anggun dari piala paling bergengsi di dunia ini. Namun, tak banyak yang mengetahui kisah tentang seniman tenang asal Italia yang tangannya sendiri memahat simbol kejayaan sepak bola global tersebut.

Trofi resmi Piala Dunia FIFA yang kita kenal saat ini diciptakan oleh Silvio Gazzaniga, seorang pemahat patung berbakat dan seniman ahli asal Milan.

Pencarian Simbol Baru Sepak Bola Dunia

Kisah lahirnya trofi modern ini bermula setelah gelaran Piala Dunia 1970 di Meksiko. Saat itu, Brasil berhasil mengklaim gelar juara dunia ketiga mereka. Sesuai aturan FIFA pada masa tersebut, Brasil berhak menyimpan trofi lama, Jules Rimet, yang dirancang oleh pemahat Prancis, Abel Lafleur, secara permanen.

Baca juga: Piala Dunia Disimpan di Mana?

Kehilangan piala utama untuk turnamen terbesarnya membuat FIFA membuka kompetisi desain internasional pada awal tahun 1971. Badan pengawas sepak bola dunia tersebut mengundang para pemahat dan desainer dari seluruh penjuru bumi untuk mengirimkan ide desain trofi baru.

Sebanyak 53 karya masuk dari para seniman yang tersebar di 25 negara. Di antara para peserta tersebut, terdapat Gazzaniga yang saat itu menjabat sebagai direktur artistik di bengkel kerajinan terkenal G.D.E. Bertoni di Milan.

Visi yang Lahir dari Cetakan Gipsum

Di saat sebagian besar peserta hanya mengirimkan sketsa gambar dua dimensi di atas kertas, Gazzaniga mengambil langkah berani yang membedakannya dari kandidat lain. Ia mengurung diri di dalam lokakarya dan memahat langsung prototipe tiga dimensi menggunakan bahan gipsum.

Gazzaniga ingin desainnya mampu menangkap tiga emosi utama manusia dalam olahraga sepak bola: perjuangan sang atlet, detik-detik kemenangan, serta kegembiraan bersama para pendukung.

“Idenya adalah untuk menciptakan sesuatu yang melambangkan usaha, dinamisme, dan kegembiraan seorang atlet di saat kemenangan, dengan segala kebahagiaan yang menyertainya,” jelas Gazzaniga dalam sebuah wawancara dengan FIFA beberapa tahun sebelum ia meninggal pada tahun 2016. 

Baca juga: Berapa Berat Trofi Piala Dunia?

“Sosok-sosok yang muncul dari material dasar yang kasar membangkitkan rasa sukacita dalam kemenangan. Cincin malachite di alasnya sangat cocok dengan patung tersebut karena warnanya hijau, seperti lapangan sepak bola, dan juga merupakan batu mulia.”

Prototipe buatan Gazzaniga tersebut akhirnya terpilih secara mutlak oleh komite FIFA.

Spesifikasi dan Ciri Khas Trofi

Dipahat menggunakan bahan emas murni 18 karat dengan dua cincin batu malakit hijau yang tertanam di bagian dasarnya, trofi ini berdiri sebagai salah satu objek paling dikenali di dunia olahraga. 

Trofi ini memiliki tinggi 36,8 sentimeter dan berat mencapai 6,175 kilogram, di mana 75 persen dari material utamanya adalah emas murni. Bagian alasnya diperindah oleh dua pita lingkar dari batuan alam malakit hijau yang elegan.

Baca juga: 11 Legenda Internasional yang Resmi Pensiun Usai Piala Dunia 2026

Warisan Abadi Sang Maestro

Pertama kali diangkat oleh Franz Beckenbauer saat Jerman Barat meraih gelar juara di rumah sendiri pada Piala Dunia 1974, desain karya Gazzaniga merevolusi bentuk trofi olahraga. Sebelum kehadirannya, trofi olahraga hampir selalu berbentuk cangkir atau piala kaku yang tradisional. Gazzaniga membawa gerakan yang dinamis, energi, dan estetika seni murni ke dalam dunia olahraga.

Meskipun Silvio Gazzaniga telah tutup usia pada tahun 2016 di umur 95 tahun, mahakaryanya tetap hidup sebagai simbol puncak pencapaian atletik di muka bumi. FIFA dipastikan akan terus menggunakan desain mahakarya ini sebagai trofi resmi Piala Dunia setidaknya hingga gelaran tahun 2038 mendatang.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!