Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Setiap empat tahun sekali, belasan pria mencapai puncak kejayaan olahraga dengan mengangkat mahakarya emas murni seberat 6,17 kilogram ke udara usai memenangkan Piala Dunia. Hujan konfeti membendung haru, dan jutaan pasang mata menyaksikan momen yang diabadikan dalam sejarah. Namun, begitu pesta usai dan lampu stadion dipadamkan, sebuah kenyataan unik mengemuka: sang juara sama sekali tidak membawanya pulang.
Lantas, di manakah piala paling diperebutkan di jagat raya ini bersemayam saat sedang tidak dipeluk oleh para juara dunia?
Untuk menemukan Trofi Piala Dunia FIFA yang asli, Anda harus melangkah ke sebuah museum yang tenang di pusat kota Zurich, Swiss. Berada tepat di seberang stasiun kereta api Enge, trofi berharga tersebut tersimpan rapi di dalam Museum FIFA. Ia dijaga ketat di dalam peti kaca antipeluru dengan sistem keamanan tingkat tinggi, persis seperti perhiasan kerajaan yang tak ternilai harganya.
Dirancang oleh seniman patung asal Italia, Silvio Gazzaniga, pada tahun 1971 dan mulai digunakan sejak Piala Dunia 1974 di Jerman Barat, trofi ini berstatus milik mutlak FIFA. Peraturan resmi menegaskan bahwa tidak ada satu negara pun yang berhak memiliki trofi asli ini secara permanen, tidak peduli berapa kali pun negara tersebut memenangkan kejuaraan.
Baca juga: Mbappe di Puncak, Berikut Daftar Pencetak Gol Terbanyak dalam Sejarah Piala Dunia
Saat dipajang dalam pameran bertajuk Planet Football di Zurich, trofi ini berdiri anggun sebagai daya tarik utama. Bentuknya menggambarkan dua sosok manusia yang menopang bola dunia dengan tumpuan dua lingkaran batu malakit berwarna hijau. Di bagian bawah alasnya, nama-nama negara pemenang sejak tahun 1974 terukir rapi membentuk barisan melingkar.
Aturan ketat mengenai penyimpanan ini berakar dari sejarah kelam pencurian trofi di masa lalu. Sebelum trofi buatan Gazzaniga ini lahir, dunia mengenal Trofi Jules Rimet. Saat itu, aturan lama menyatakan bahwa negara pertama yang berhasil menjuarai Piala Dunia sebanyak tiga kali berhak menyimpan trofi tersebut selamanya, sebuah rekor yang diraih Brasil pada tahun 1970.
Namun, nasib Trofi Jules Rimet berakhir tragis. Setelah sempat dicuri di London pada tahun 1966 dan ditemukan oleh seekor anjing bernama Pickles, trofi tersebut kembali dicuri pada tahun 1983 dari markas Federasi Sepak Bola Brasil di Rio de Janeiro. Trofi legendaris itu tak pernah ditemukan lagi dan diduga kuat telah dilebur menjadi batangan emas oleh kawanan pencuri.
Baca juga: Daftar Lengkap Juara Piala Dunia
Belajar dari trauma masa lalu, FIFA memperketat aturan saat meluncurkan trofi baru pada tahun 1974. Ketika seorang kapten tim menaikkan trofi tersebut di atas podium pemenang, mereka memang memegang trofi yang asli. Namun, hanya dalam hitungan menit setelah perayaan usai, petugas keamanan akan langsung mengambil kembali trofi murni tersebut untuk disimpan aman oleh FIFA.
Sebagai gantinya, federasi negara pemenang akan diberikan sebuah replika resmi bernama FIFA World Cup Winner’s Trophy. Replika yang terbuat dari perunggu berlapis emas inilah yang diperbolehkan dibawa pulang untuk disimpan selamanya di museum atau markas sepak bola negara pemenang.
Bagi para penggemar yang ingin melihat langsung trofi asli di luar negara Swiss, kesempatannya sangatlah langka dan terbatas pada momen tertentu saja.
Baca juga: Berapa Berat Trofi Piala Dunia?
Pertama, trofi ini akan keluar dari brankas saat agenda Trophy Tour, yaitu perjalanan keliling dunia ke beberapa negara pilihan beberapa bulan sebelum turnamen dimulai dengan pengawalan bersenjata super ketat. Kedua, trofi akan diterbangkan ke negara tuan rumah untuk dipajang di dalam koper khusus buatan Louis Vuitton pada seremoni pembukaan dan partai final.
Ketiga, setiap kali turnamen berakhir, trofi asli akan dibawa secara rahasia ke sebuah bengkel perhiasan di Italia. Di sana, para pengukir andal akan memahat nama negara pemenang terbaru di bagian bawah alasnya, sebelum akhirnya menerbangkannya kembali ke rumah abadinya di Zurich.
Sampai juara dunia baru lahir di masa mendatang, sang cawan suci sepak bola akan tetap beristirahat tenang di balik kaca antipeluru di Swiss, menanti momen singkat berikutnya untuk kembali disentuh oleh tangan-tangan manusia terpilih.