Tak Takut Status Underdog, Rudi Garcia Optimistis Belgia Mampu Redam Spanyol
Skuad Belgia sepenuhnya merangkul status underdog menjelang laga krusial perempat final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol di SoFi Stadium. Alih-alih merasa tertekan oleh reputasi mentereng sang juara Eropa, pelatih kepala The Red Devils, Rudi Garcia, justru menegaskan bahwa anak asuhnya memiliki kualitas lini serang mumpuni dan keyakinan penuh untuk menciptakan kejutan besar.
Pragmatisme dan keberanian Garcia dalam mengambil keputusan besar menjadi modal utama Belgia melangkah sejauh ini. Dengan torehan 13 gol di sepanjang turnamen, menjadikan mereka tim tersubur kedua, Belgia datang bukan untuk sekadar menjadi pelengkap babak delapan besar.
Siap Redam Spanyol
Bagi publik sepak bola Belgia, situasi menjelang laga kontra Spanyol ini memicu nostalgia mendalam pada Piala Dunia 2018 di Rusia. Kala itu, generasi emas Belgia juga berstatus non-unggulan sebelum akhirnya berhasil menumbangkan raksasa Amerika Latin, Brasil, dengan skor 2-1 di fase yang sama. Atmosfer serupa kini diembuskan oleh Rudi Garcia ke dalam ruang ganti timnya.
Baca juga: Kabar Buruk Belgia: Piala Dunia Onana Berakhir Tragis Akibat Cedera ACL
"Kami tahu kami sedang bermain melawan salah satu tim favorit. Spanyol mungkin yang terbaik dalam penguasaan bola dan mereka telah bermain dengan cara yang khas selama 15 atau 20 tahun," kata Garcia.
"Tapi kami memiliki tim yang hebat. Kami adalah pencetak gol terbanyak kedua di Piala Dunia dan kami menghadapi tim dengan ekspektasi gol tertinggi. Kami pikir kami bisa melakukannya."
Optimisme Garcia didukung oleh catatan impresif di atas lapangan. Sejak kekalahan mengejutkan dari Ukraina di Nations League, Romelu Lukaku dan kawan-kawan kini mengantongi rekor tak terkalahkan dalam 18 pertandingan (12 menang, 6 imbang).
Skuad ini telah membuktikan mentalitas baja mereka, termasuk saat melakukan comeback epik 3-2 kontra Senegal di babak 32 besar dan membantai tuan rumah Amerika Serikat 4-1 di babak 16 besar.
Perjudian Taktis dan Kebugaran Pemain
Faktor krusial yang membuat Belgia begitu berbahaya di bawah arahan Garcia adalah keberaniannya menerapkan asas meritokrasi, hanya menurunkan pemain yang benar-benar siap dan sesuai kebutuhan taktik.
Kebijakan ini terlihat jelas dari keputusan berani mencadangkan maestro Kevin De Bruyne dalam kemenangan telak atas Amerika Serikat demi memberikan waktu pemulihan penuh agar sang gelandang siap tempur menghadapi determinasi lini tengah Spanyol.
Baca juga: Belgia Singkirkan AS di Piala Dunia, Raskin: Selalu Ada Keadilan
Selain itu, kembalinya Jérémy Doku yang sempat absen di fase grup akibat infeksi pernapasan diyakini akan menjadi kartu as bagi sektor sayap Belgia. Doku, yang baru masuk di menit ke-67 saat melawan AS, diproyeksikan tampil sejak awal untuk menguji ketangguhan bek sayap Spanyol dengan kemampuan dribbling satu-lawan-satu miliknya.
Di lini depan, Romelu Lukaku kembali menemukan sentuhan magisnya sebagai supersub paling mematikan di turnamen ini dengan koleksi tiga gol, memberikan opsi taktis yang sangat mewah bagi Garcia jika pertandingan berjalan buntu hingga babak kedua.
"Jika Anda sudah sampai sejauh ini, Anda tidak bermain hanya untuk pulang," ujar Lukaku
"Spanyol adalah tim yang luar biasa. Mereka mencari pemain ketiga, mereka memiliki kecepatan di sisi sayap dan mereka memberikan kedalaman. Tetapi kami telah mempersiapkan diri dengan baik dan kami memiliki aset yang dapat mempersulit mereka."
Pertemuan di Los Angeles ini diprediksi akan menyajikan duel sengit antara penguasaan bola dominan khas Spanyol melawan transisi cepat mematikan milik Belgia. Di atas kertas, Spanyol diunggulkan untuk melaju. Namun, di bawah langit California, Rudi Garcia dan pasukan serigala Belgia sudah siap menerkam dan membalikkan semua prediksi awal.