Martínez Bela Intervensi VAR Usai Portugal Menang Dramatis atas Kroasia
Pelatih Portugal, Roberto Martínez, pasang badan membela rentetan intervensi Video Assistant Referee (VAR) yang mewarnai kemenangan dramatis timnya 2-1 atas Kroasia di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
Menurut Martínez, teknologi bekerja dengan semestinya dan seluruh keputusan krusial di atas lapangan sudah benar, sehingga tidak ada ruang untuk menyebut kemenangan Selecao das Quinas sebagai sebuah keputusan keberuntungan.
Bukan Menang Beruntung
Laga yang berlangsung di Toronto Stadium pada Kamis malam (Jumat WIB) itu mencatatkan sejarah baru Piala Dunia setelah empat gol dianulir dalam satu pertandingan yang sama.
Baca juga: Portugal Singkirkan Kroasia 2-1 Lewat Gol Telat dan Drama VAR
Kroasia harus gigit jari setelah tiga gol mereka dibatalkan oleh VAR, termasuk gol penyeimbang Joško Gvardiol di menit ke-103. Sementara itu, megabintang Portugal Cristiano Ronaldo juga sempat mendapati satu golnya dianulir akibat offside.
“Semua keputusan hari ini sudah benar, penalti [untuk Portugal] jelas. Sayang sekali salah satu dari kedua tim harus kalah, tetapi tidak ada keputusan yang buruk atau beruntung,” kata Martinez usai laga.
Drama Teknologi Tinggi di Menit-Menit Akhir
Pertandingan fase gugur ini berjalan relatif seimbang sebelum Ivan Perišić membawa Kroasia unggul terlebih dahulu pada menit ke-53. Ketegangan mulai memuncak saat Igor Matanovic mengira telah menggandakan keunggulan Kroasia, sebelum akhirnya dianulir akibat offside.
Portugal kemudian bangkit setelah wasit Espen Eskas menunjuk titik putih menyusul peninjauan VAR atas pelanggaran terhadap Renato Veiga. Cristiano Ronaldo yang maju sebagai eksekutor sukses menyamakan kedudukan 1-1, sekaligus mengukir rekor sebagai pencetak gol tertua (41 tahun) di fase gugur sejarah Piala Dunia.
Baca juga: Martínez Sebut Portugal Mulai Piala Dunia Kedua Lawan Kroasia
Puncak drama terjadi di masa injury time. Gonçalo Ramos sempat membuat pendukung Portugal bersorak lewat sundulan mautnya di menit ke-94 untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Namun, Kroasia hampir saja memaksakan babak perpanjangan waktu andai gol Gvardiol di detik-detik akhir laga tidak dianulir. Teknologi snick-o-meter di dalam bola mendeteksi adanya sentuhan tipis sebelum bola jatuh ke kaki Mario Pašalić yang berada di posisi offside.
Martínez menambahkan bahwa penggunaan sensor internal pada bola Piala Dunia edisi kali ini membuat keputusan menjadi sangat hitam-putih.
“Saya sangat mengagumi Kroasia dan saya mengagumi jiwa sportif mereka,” tambah Martínez.
"Tetapi bola sekarang memiliki pantulan, dan jelas mengapa VAR turun tangan. “
Dalić: Matinya Emosi Sepak Bola
Kontras dengan Martínez, pelatih Kroasia Zlatko Dalić tidak mampu menyembunyikan kekecewaan mendalam atas hasil yang diraih anak asuhnya. Walau tetap memuji performa Portugal, Dalić menilai bahwa kehadiran VAR yang terlalu dominan secara perlahan membunuh esensi dan kegembiraan sejati dari permainan sepak bola.
Baca juga: Jangan Panik, Félix Minta Publik Portugal Tetap Tenang Jelang Lawan Kroasia
“Tidak menyenangkan ketika Anda kebobolan gol di waktu tambahan, lalu Anda berlari dan mencetak gol di menit terakhir dan Anda pikir itu gol, tetapi VAR memutuskan sebaliknya,” ucap Dalić.
“Sangat sulit untuk menghadapinya, para pemain mengalami masa sulit. Emosi benar-benar telah dimatikan dan semua keputusan ini menghilangkan kegembiraan. VAR terkadang bisa membantu tetapi juga mematikan emosi. Itu mematikan apa pun yang ada dalam diri Anda dan tidak mudah untuk dihadapi. Sepak bola seharusnya adil tetapi kita sudah terlalu jauh dengan VAR. Kroasia kalah dalam pertandingan dan saya tidak ingin membicarakannya lagi.”
Dengan hasil ini, generasi emas Kroasia yang dipimpin oleh kapten veteran Luka Modrić harus menyudahi perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Sementara itu, Portugal berhak melangkah ke babak 16 besar untuk menghadapi ujian berat sesungguhnya: laga all-Iberian melawan juara Eropa, Spanyol, di Dallas pada 7 Juli mendatang.