Maldini Resmi Pimpin Revolusi FIGC Untuk Bangkitkan Sepak Bola Italia
Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi menunjuk sang legenda, Paolo Maldini, sebagai Direktur Teknis yang baru demi membangkitkan sepak bola Italia dari keterpurukan. Langkah revolusioner ini diperkuat dengan kembalinya mantan rekan setimnya di AC Milan, Leonardo, yang didapuk sebagai penasihat utama federasi.
Pengumuman besar ini dikonfirmasi langsung oleh Presiden FIGC yang baru terpilih, Giovanni Malagò. Langkah ini menandai perombakan total secara struktural setelah era kelam yang membuat mantan presiden Gabriele Gravina, pelatih kepala Gennaro Gattuso, dan kepala delegasi Gianluigi Buffon kompak mengundurkan diri akibat kegagalan beruntun Azzurri.
"Maldini selalu menjadi pilihan pertama saya," kata Malagò. "Saya merasa dia adalah orang yang tepat untuk mengawasi sektor teknis FIGC, yang tidak hanya mencakup tim nasional senior tetapi juga seluruh jalur pengembangan tim nasional junior.
Kekuasaan Penuh untuk Skenario Regenerasi
Mandat yang dipikul Maldini sama besarnya dengan warisan yang ia tinggalkan di lapangan. Pria berusia 58 tahun ini telah menandatangani kontrak berdurasi empat tahun yang mengikatnya hingga selesainya Piala Dunia 2030.
Baca juga: Ranieri Siap Mengabdi: "Jika Panggilan Italia Datang, Jawabannya Adalah Ya"
Lebih dari sekadar Direktur Teknis, Malagò juga mempercayakan Maldini untuk menjabat sebagai Presiden Club Italia, badan yang membawahi seluruh tim nasional Italia di setiap kelompok umur, baik pria maupun wanita.
Peran ganda ini memberinya otoritas mutlak atas semua keputusan olahraga, sebuah hak prerogatif yang dulu juga ia tuntut saat membangkitkan AC Milan hingga meraih Scudetto pada 2021/22.
Sejarah baru-baru ini menjadi tamparan keras bagi Italia. Terlepas dari kejayaan ajaib di UEFA Euro 2020, juara dunia empat kali ini secara menyakitkan gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia berturut-turut. Puncaknya terjadi Maret lalu, saat mereka disingkirkan oleh Bosnia-Herzegovina melalui adu penalti, yang memicu gelombang kemarahan publik dan memaksa federasi melakukan cuci gudang.
Duet Maut yang Kembali Bersatu
Keputusan untuk membawa Leonardo sebagai penasihat merupakan syarat mutlak yang diajukan Maldini dalam negosiasi. Duo ini sebelumnya bekerja bahu-membahu membangun fondasi eksekutif di San Siro.
Selama dua minggu terakhir, kami telah membahas semua proyek secara detail, dan Paolo langsung memberi tahu saya bahwa dia akan senang melibatkan Leonardo sebagai konsultan karena ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan itu akan menuntut dan menantang,” jelas Malagò.
Baca juga: Gravina Ogah Disebut Gagal, Tolak Usulan Italia Gantikan Iran di Piala Dunia
“Saya senang karena saya sangat menghormati Leonardo. Mereka adalah dua sisi dari koin yang sama. Ini adalah komitmen empat tahun yang harus membawa kita dari sini ke Piala Dunia berikutnya pada tahun 2030, dengan Kejuaraan Eropa di antaranya."
Pengalaman administratif Leonardo yang luas, setelah sempat menjabat sebagai direktur olahraga untuk Paris Saint-Germain dan AC Milan, menjadi tameng birokrasi yang sempurna bagi Maldini. Hal ini membuat sang mantan kapten Azzurri bisa fokus penuh pada filosofi sepak bola, jalur pembinaan bakat muda, dan mengembalikan harga diri jersey biru Italia.
Tugas Pertama: Kursi Pelatih yang Kosong
Agenda mendesak pertama yang harus diselesaikan Maldini adalah mengisi kursi pelatih kepala yang ditinggalkan oleh Gattuso. Publik Italia menuntut penunjukan yang cepat demi memulai proses rehabilitasi tim.
Laporan awal dari cerobong asap Coverciano mengindikasikan bahwa Roberto Mancini menjadi kandidat kuat untuk kembali menukari tim nasional, meskipun mantan pelatih Chelsea dan Juventus, Antonio Conte, juga masuk dalam radar. Siapa pun yang dipilih Maldini nanti, mereka akan melangkah ke dalam ekosistem yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh salah satu bek terhebat sepanjang masa.
Bagi negara yang kehilangan identitas sepak bolanya selama satu dekade terakhir, melihat Paolo Maldini memegang kemudi memberikan sesuatu yang lebih berharga daripada cetak biru taktis apa pun: harapan baru. Perjalanan menuju Piala Dunia 2030 telah dimulai, dan Italia akhirnya menemukan kembali kapten mereka.