Ranieri Siap Mengabdi: "Jika Panggilan Italia Datang, Jawabannya Adalah Ya"
Claudio Ranieri telah membuka pintu lebar-lebar untuk kembali dari masa pensiunnya demi membantu tim nasional Italia yang sedang dilanda krisis. Berbicara di ajang Gianni Di Marzio Awards, pria berusia 74 tahun itu menyatakan kesiapannya untuk mengambil peran sebagai pelatih kepala maupun direktur teknik bagi Azzurri.
Komentar ini muncul setelah Italia yang tengah terpuruk usai gagal lolos ke Piala Dunia 2026, yang berujung dengan mundurnya pelatih terdahulu Gennaro Gattuso. Dengan Italia yang mencoba bangkit setelah absen di tiga Piala Dunia beruntun, sosok berpengalaman seperti Ranieri kini dipandang sebagai kandidat kuat untuk menstabilkan kapal yang sedang karam.
Dulu Menolak, Sekarang Bisa
Ranieri mengungkapkan bahwa ia sebenarnya sempat didekati untuk menangani tim nasional di masa lalu, namun terpaksa menolak karena komitmennya bersama klub. Seperti diketahui, Ranieri sempat menjabat sebagai penasihat senior di AS Roma sebelum akhirnya diberhentikan bulan lalu akibat perselisihan tajam dengan pelatih Gian Piero Gasperini.
Baca juga: Setia di Roma, Ranieri Tolak Tawaran Latih Timnas Italia
“Saya menolak tawaran dari Italia sebelumnya karena saya sudah memiliki pekerjaan di Roma dan tidak bisa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus,” kata Ranieri kepada Sky Sport Italia.
“Saat ini, saya bebas, jadi jika ada yang menghubungi, mengapa tidak? Jangan pernah mengatakan tidak mungkin.”
Ketika didesak apakah ia lebih memilih peran di pinggir lapangan atau di jajaran manajemen, sang "Tinkerman" memberikan jawaban khasnya: "Saya tidak tahu. Saat negara memanggil, Anda cukup datang dan membantu. Titik."
Kenangan Leicester dan Masa Depan Italia
Nama Ranieri akan selamanya terukir dalam sejarah sepak bola berkat keberhasilannya membawa Leicester City menjuarai Premier League satu dekade lalu. Ironisnya, tepat 10 tahun setelah keajaiban itu, Leicester kini terpuruk di kasta ketiga sepak bola Inggris, sebuah kenyataan yang disebut Ranieri sebagai tragedi yang sangat disayangkan.
“Di Inggris, Leicester dianggap sebagai klub yang naik turun di dua divisi teratas,” jelas Ranieri.
“Sayang sekali mereka terdegradasi ke divisi ketiga. Saya akan segera pergi ke Leicester untuk merayakan 10 tahun setelah meraih gelar Premier League, dan para penggemar ingin menciptakan kembali suasana itu.”
Bagi publik Italia, kembalinya Ranieri bisa menjadi angin segar. Di tengah memanasnya hubungan antara staf kepelatihan dan manajemen di Coverciano, ketenangan dan kebijaksanaan Ranieri dianggap sebagai penawar yang tepat. Sejumlah pemain veteran, termasuk beberapa yang pernah bekerja di bawahnya di Cagliari dan Roma, dikabarkan menyambut baik kemungkinan ini.
Baca juga: Gravina Ogah Disebut Gagal, Tolak Usulan Italia Gantikan Iran di Piala Dunia
Era Baru Menanti
FIGC (Federasi Sepak Bola Italia) kini berada di bawah tekanan besar untuk segera menunjuk pengganti Gattuso sebelum laga kualifikasi berikutnya bulan depan.
Meskipun beberapa nama muda seperti Enzo Maresca sempat disebut-sebut, pengalaman internasional Ranieri yang membentang dari Spanyol, Inggris, hingga Prancis menjadikannya pilihan paling aman di saat darurat seperti ini.
Akankah FIGC memberikan telepon yang dinanti-nantikan oleh sang maestro? Satu yang pasti: Claudio Ranieri sudah menyiapkan kopernya untuk pengabdian terakhir bagi negaranya.