Dibumbui Sejarah, Tuchel Waspadai Emosi Berlipat Argentina di Semifinal Piala Dunia
Manajer tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, menegaskan bahwa pasukannya harus siap menghadapi intensitas luar biasa dari Argentina yang diprediksi bakal tampil "dibakar oleh sejarah" dalam laga semifinal Piala Dunia 2026. Bertanding di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta pada Rabu malam waktu setempat (Kamis dini hari WIB), duel klasik ini dipastikan membawa tensi tinggi mengingat rekam jejak persaingan panjang kedua negara.
Pertandingan monumental ini akan menandai pertemuan keenam antara Tiga Singa dan La Albiceleste di panggung putaran final Piala Dunia. Menariknya, tiga dari lima bentrokan sarat drama sebelumnya terjadi setelah Perang Falklands (Malvinas) yang meletus pada tahun 1982 silam, sebuah peristiwa politik yang secara tak langsung selalu menyuntikkan sentimen mendalam setiap kali kedua tim bersua di atas lapangan hijau.
Rivalitas Pasca-1982 dan Misi Khusus Messi
Sejarah pertemuan Inggris dan Argentina di Piala Dunia memang selalu melahirkan tinta emas sekaligus kontroversi.
Sebelum perang 1982, Inggris sempat unggul dengan kemenangan 3-1 di fase grup edisi 1962 dan menang tipis 1-0 pada perempat final 1966 sebelum akhirnya keluar sebagai juara dunia. Namun, lanskap persaingan berubah total setelah konflik bersenjata tersebut.
Baca juga: Psywar Semifinal: Guéhi Tegaskan Tekanan Sepenuhnya Ada di Pihak Argentina
Bentrokan paling ikonik sekaligus kontroversial pasca-perang terjadi di Meksiko 1986, saat Diego Maradona mencetak gol "Tangan Tuhan" dan gol solo magisnya untuk membawa Argentina menang 2-1.
Disusul kemudian pada Prancis 1998, di mana drama kartu merah David Beckham berakhir dengan kemenangan adu penalti bagi Argentina di babak 16 besar. Inggris baru bisa membalas lewat penalti David Beckham di fase grup edisi 2002.
Tuchel secara terbuka mengakui bahwa elemen sejarah ini menjadi bahan bakar emosional yang sangat masif bagi sang juara bertahan, terutama dengan adanya misi skuad Argentina untuk mempersembahkan kado perpisahan terindah bagi Lionel Messi di Piala Dunia terakhirnya.
“Saya mengenal beberapa pemain, saya pernah melatih beberapa pemain,” kata Tuchel. “Saya bisa merasakannya. Anda bisa melihatnya. Mereka memiliki semacam keunggulan. Anda bisa merasakannya ketika mereka tertinggal satu gol, ketika pertandingan berlangsung ketat.
“Mereka hampir sama seperti empat tahun lalu. Anda bisa melihat kekompakan, Anda bisa melihat pengorbanan yang mereka lakukan. Mereka percaya pada gaya permainan mereka. Dan gaya permainan mereka adalah gaya yang sangat emosional. Itu ada di Qatar dan sekarang juga.
“Dan, tentu saja, sejarah… mereka juga termotivasi oleh itu. Mereka termotivasi oleh sejarah, itu sangat berarti bagi mereka. Jadi inilah yang pada dasarnya kami harapkan, dan inilah yang kami hadapi. Tetapi kami juga emosional, kami memiliki ketabahan, kami memiliki mentalitas yang dibutuhkan untuk menghadapinya. Dan kami siap untuk itu.”
Meredam Gejolak Ruang Ganti demi Target Final
Di luar urusan tensi politik dan sejarah rivalitas, Tuchel juga menggunakan momen konferensi pers ini untuk meluruskan kabar miring di internal skuadnya. Sebelumnya, sang manajer sempat melontarkan kritik terbuka terkait aspek teknis permainan anak asuhnya usai menang susah payah 2-1 lewat babak perpanjangan waktu melawan Norwegia di perempat final.
Baca juga: Kane Tegaskan Skuad Inggris "Sangat Kompak" Usai Ketegangan Tuchel-Bellingham
Kritik tersebut sempat mendapat respons defensif dari sang pahlawan kemenangan, Jude Bellingham. Kendati demikian, juru taktik asal Jerman itu menegaskan hubungan keduanya sama sekali tidak renggang dan menganggap hal tersebut sebagai riak kompetitif yang wajar di ruang ganti.
“Komentar kami berasal dari tempat yang sama – dari semangat kompetitif dan keunggulan saat kompetisi berlangsung,” jelas Tuchel. “Dia [Bellingham] baru saja dihadapkan dengan kritik terhadap tim saya. Saya [juga] menyebutnya pemain kelas dunia. Saya mengatakan dia kembali menunjukkan aksi kelas dunia untuk menentukan hasil pertandingan. Saya mengatakan mentalitas tim ini luar biasa. Semua itu bukan bagian dari pertanyaan.
“Saya mungkin juga akan membalas ketika saya bermain selama 120 menit, mencetak dua gol, dan memberikan segalanya yang ada di tubuh saya. Itu hanya reaksi yang sangat normal bagi pemain dengan mentalitas seperti dia. Jadi tidak masalah.
“Saya berbicara dengan seluruh tim. Kami membahas [pertandingan]. Saya berbicara dengan seluruh tim setelahnya di ruang ganti, yang pada dasarnya pesannya sama. Dan saya menjelaskannya lagi pada Minggu malam untuk terus maju. Kemudian, dalam pembicaraan [yang sama], kami menetapkan arah baru, kepala baru, yaitu semifinal dan Argentina.”
Pemenang dari laga klasik di Atlanta ini dipastikan sudah ditunggu oleh skuad tangguh Spanyol, yang telah lebih dulu mengamankan tiket ke partai puncak usai menyajikan performa klinis untuk menumbangkan Prancis dengan skor 2-0.