Paolo Di Canio, mantan penyerang ikonik Italia itu melancarkan kritik pedas, menyatakan bahwa AC Milan terlalu bergantung pada kejeniusan individual Rafael Leão dan kini sangat menderita akibat absennya sosok kunci di lini tengah seperti Adrien Rabiot.

Dalam analisisnya di Sky Sport 24's Club, Di Canio menyoroti bagaimana Milan telah kehilangan kolektivitas dan keseimbangan yang menjadi ciri khas mereka di awal musim. Menurutnya, hasil minor yang diraih Milan akhir-akhir ini bukan sekadar kebetulan, melainkan alarm bahaya atas masalah taktis yang mendalam.

Ketergantungan Akan Leão

Di Canio mengakui Leão sebagai pemain paling berbakat yang dimiliki Milan, namun ia mengkritik keras sikap tim yang seolah hanya menunggu magis dari penyerang Portugal tersebut.

"Leão harus selalu bermain—ia adalah pemain paling berbakat mereka," tegas Di Canio. "Namun, jika Anda hanya menunggu Leão membuat pergerakan, ia tidak memberikan titik referensi dan terkadang bahkan berjalan saja. Permasalahannya menjadi terstruktur, bukan individu. Kekuatan Milan sebelumnya datang dari etos kerja kolektif."

Baca juga: Akhir Sebuah Era: Inter dan Milan Ambil Alih San Siro, Siap Bongkar Stadion Ikonik

Komentar ini menyiratkan bahwa ketika sistem kolektif Milan gagal bekerja, Leão, meskipun memiliki kemampuan kelas dunia, tidak mampu memikul seluruh beban kreativitas dan gol sendirian. Inilah yang membuat performa tim menjadi naik-turun dan mudah diprediksi lawan.

Ketiadaan Rabiot Bikin Lubang di Lini Tengah

Titik fokus kritik Di Canio yang paling tajam adalah dampak dari absennya Adrien Rabiot. Ia menilai, kehilangan gelandang Prancis itu telah menciptakan lubang menganga di sisi lapangan, baik dalam fase bertahan maupun menyerang.

"Absennya sangat menentukan," ujar Di Canio, menambahkan bahwa tanpa disiplin dan kontribusi seimbang dari pemain kunci, Rossoneri menjadi mudah goyah.

"Dalam lima pertandingan terakhir, Milan mencetak delapan gol dan kebobolan enam. Tanpa bantuan [Rabiot], dari mana datangnya gol-gol itu?" tanyanya retoris.

Di Canio secara implisit menunjukkan bahwa Rabiot bukan hanya sekadar gelandang, tetapi poros penting yang membantu mempertahankan bentuk tim, memungkinkan Leão dan rekan-rekan di lini depan untuk bergerak bebas. Tanpa dia, Milan kehilangan opsi serangan sekunder dan kedisiplinan yang penting untuk menekan lawan.

Baca juga: Rabiot Desak Leao Segera Bertransformasi Menjadi Bintang Dunia

Ancaman Bagi Ambisi Scudetto

Analisis Di Canio menempatkan pelatih dalam tekanan untuk menemukan solusi taktis segera. Jika Milan ingin mempertahankan ambisi Scudetto mereka dan bersaing di puncak Serie A, mereka harus menemukan cara untuk tidak hanya menutupi absennya Rabiot tetapi juga membangun kembali mesin kolektif yang dapat berfungsi efektif, terlepas dari apakah Leão sedang berada di performa terbaiknya atau tidak.

Ketergantungan yang berlebihan pada satu atau dua talenta, seperti yang ditunjukkan oleh Di Canio, adalah kelemahan fatal dalam perburuan gelar di liga yang kompetitif. Rossoneri perlu membuktikan bahwa kedalaman skuad mereka lebih dari sekadar nama-nama besar di starting XI.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!