Xabi Alonso Ratapi Kegagalan Singkat di Real Madrid
Xabi Alonso akhirnya memecah keheningan setelah pengumuman pemecatannya yang mengejutkan dari kursi pelatih Real Madrid awal pekan ini. Pria asal Basque yang datang dengan reputasi mentereng dari Bayer Leverkusen itu meratapi kegagalan masa tugas tujuh bulannya di Santiago Bernabeu, menyebutnya sebagai periode yang pahit dan penuh pelajaran.
Dalam sebuah pesan emosional melalui media sosial dan pernyataan kepada rekan-rekan pers, Alonso mengakui bahwa ia gagal mereplikasi kesuksesan di Jerman ke dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks di ibu kota Spanyol.
Luka dari Kekalahan Memalukan di Eropa
Salah satu alasan utama di balik keretakan hubungan Alonso dengan manajemen Los Blancos adalah rangkaian hasil buruk melawan rival-rival besar Eropa.
Meski sempat memimpin klasemen La Liga dengan selisih lima poin di awal musim, performa Madrid merosot tajam memasuki bulan November.
Baca juga: Era Baru di Bernabeu: Arbeloa Siap Bertarung demi Warisan Real Madrid
Kekalahan menyakitkan dari Paris Saint-Germain di ajang Piala Dunia Antarklub, serta hasil minor melawan Liverpool dan Manchester City di Liga Champions, menjadi noda yang sulit dihapus.
Puncaknya, kekalahan 2-3 dari Barcelona di final Piala Super Spanyol akhir pekan lalu di Jeddah menjadi vonis mati bagi kariernya di Madrid.
“Babak karier saya ini telah berakhir, dan hasilnya tidak seperti yang kami harapkan. Melatih Real Madrid merupakan suatu kehormatan sekaligus tanggung jawab,” tulis Alonso melalui media sosialnya.
“Saya berterima kasih kepada klub, para pemain, dan terutama kepada para penggemar dan komunitas Madridista atas kepercayaan dan dukungan mereka. Saya pergi dengan rasa hormat, terima kasih, dan kebanggaan karena telah melakukan yang terbaik.”
Clash Ruang Ganti
Di balik layar, masalah Alonso jauh lebih dalam daripada sekadar papan skor. Laporan internal mengungkap adanya ketegangan hebat antara Alonso dengan sejumlah pemain senior, terutama terkait metode kepelatihannya yang dianggap terlalu kaku dan menuntut disiplin taktis yang ekstrem.
Nama-nama besar seperti Vinicius Jr dan kapten pendamping Federico Valverde dikabarkan menjadi sosok yang paling vokal menentang kebijakan rotasi dan pembatasan kebebasan bermain yang diterapkan Alonso.
Insiden di bulan Oktober, saat Vinicius Jr menunjukkan kemarahan setelah ditarik keluar dalam laga El Clasico, disebut-sebut sebagai titik awal hilangnya otoritas Alonso di ruang ganti.
Era Baru di Bawah Arbeloa
Dengan perginya Alonso, Real Madrid kini memasuki fase transisi di bawah kendali Alvaro Arbeloa. Sang pengganti telah berjanji untuk mengembalikan keharmonisan skuad dan mengandalkan pendekatan yang lebih emosional serta mengenal DNA klub.
Alonso sendiri meninggalkan Madrid dengan catatan 24 kemenangan dari 34 pertandingan di semua kompetisi.
Baca juga: Xabi Alonso Resmi Tinggalkan Real Madrid
Meski secara statistik terlihat cukup baik (dengan rasio kemenangan 70,59%), kegagalan memenangkan trofi pertama musim ini dan hilangnya dukungan pemain inti membuat Florentino Perez tidak memiliki pilihan lain selain melakukan perubahan radikal.