Neves: PSG Telah Belajar Cara Menderita demi Kemenangan
Gelandang Paris Saint-Germain, Joao Neves, memuji ketangguhan mental rekan-rekannya setelah sang juara bertahan berhasil meredam tekanan tanpa henti dari Bayern Munich untuk kembali melaju ke final Liga Champions.
Hasil imbang 1-1 di Allianz Arena pada Kamis (7/5) dini hari WIB sudah cukup bagi raksasa Prancis tersebut untuk unggul agregat 6-5. Bagi Neves, keberhasilan ini adalah bukti nyata evolusi PSG menjadi tim yang tidak hanya mengandalkan bakat individu, tetapi juga memiliki ketahanan kolektif di bawah tekanan besar.
Seni Bertahan di Bawah Tekanan
PSG sempat unggul cepat melalui Ousmane Dembele, namun sisa pertandingan praktis menjadi milik Bayern yang membombardir pertahanan tim tamu. Neves, yang tampil disiplin di lini tengah, menyebut pengalaman pahit di masa lalu telah membentuk karakter tim yang sekarang.
Baca juga: PSG Melaju ke Final UCL usai Tahan Imbang Bayern Munich
“Kami tahu bagaimana caranya menderita. Kami siap menghadapi apa pun yang akan datang. Bahkan dengan cedera, semua pemain siap bermain; itulah cara membangun tim yang hebat,” kata Neves.
Kolektivitas di Atas Segalanya
Meskipun Harry Kane berhasil mencetak gol penyama kedudukan di menit-menit akhir masa injury time, PSG tetap tenang dan tidak membiarkan pertahanan mereka runtuh di detik-detik krusial. Neves menyoroti kesiapan setiap pemain dalam skuad, bahkan di tengah badai cedera yang sempat menerpa.
“Kami sangat senang dengan apa yang telah kami lakukan sejauh ini,” tambah Neves. “Saya mengucapkan selamat kepada Bayern Munich. Mereka adalah tim yang hebat. Setelah kami, menurut pendapat saya, mereka adalah yang terbaik di Eropa dan dunia.
“Kami telah berhasil membuktikan di kandang dan tandang bahwa kami adalah tim terbaik. Kami berhasil menyerang, bertahan, menderita, dan bernapas dengan dan tanpa bola. Itulah yang dilakukan oleh tim hebat.
“Ini adalah pertandingan yang sangat sulit, saya lelah dan kesulitan berbicara, tetapi saya sangat senang dengan apa yang telah kami lakukan tidak hanya dalam pertandingan ini, tetapi di seluruh Liga Champions.”
Menatap Budapest
Keberhasilan meredam raksasa Jerman di kandangnya sendiri menjadi suntikan moral yang masif bagi Les Parisiens sebelum terbang ke Budapest. Mereka kini dijadwalkan menghadapi Arsenal di partai puncak yang akan digelar di Puskas Arena pada 30 Mei mendatang.
Baca juga: Neuer Sesalkan Kurangnya Naluri Pembunuh Bayern usai Disingkirkan PSG
“Kami akan menghadapi salah satu tim hebat di dunia, Arsenal, dan kami siap. Staf kami melakukan pekerjaan yang baik dalam mempelajari pertandingan, dan kami mempercayai mereka, dan mereka mempercayai kami,” ujar Neves.
“Final adalah sebuah pertandingan, dan selalu sulit. Sepak bola terkadang adil atau tidak adil. Kita bisa bermain lebih baik atau lebih buruk dan menang atau kalah. Kita masih harus memenangkan liga, yang juga merupakan poin yang sangat jelas bagi kita.
“Saya pikir (final Liga Champions) akan bergantung pada detailnya. Itu tidak 100 persen pasti, tetapi biasanya tim terbaik yang menang, tim yang paling baik mengeksekusi detailnya.”
Bagi PSG, final ini bukan sekadar upaya mempertahankan gelar, melainkan pembuktian bahwa identitas baru mereka yang lebih pragmatis dan tangguh secara mental adalah formula yang tepat untuk mendominasi Eropa.