Legenda AC Milan dan sepak bola Belanda, Ruud Gullit, memberikan peringatan keras kepada sepak bola Italia yang tengah dilanda krisis identitas. Berbicara di ajang Laureus World Sports Awards di Madrid, Gullit mendesak Gli Azzurri untuk berhenti memaksakan gaya bermain sepak bola indah dan kembali ke akar pertahanan mereka yang legendaris jika ingin memulihkan martabat nasional.

Pernyataan ini muncul menyusul kegagalan tragis Italia untuk lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut setelah disingkirkan oleh Bosnia-Herzegovina awal bulan ini. Bagi Gullit, krisis yang dialami Italia saat ini disebabkan karena hilangnya identitas asli sepak bola mereka.

Kembali ke DNA Italia

Gullit, yang pernah merasakan kejayaan di Serie A bersama Milan dan Sampdoria, menilai bahwa Italia terlalu memaksakan diri mengikuti tren global tanpa mempertimbangkan kekuatan tradisional mereka.

"Kalian harus kembali ke DNA Italia, yaitu bek-bek tangguh, kiper handal, dan penyerang tajam," ujar peraih Ballon d'Or 1987 tersebut kepada Sky Sport Italia. 

Baca juga: "Bukan Masalah Taktik,” Calafiori Tanggapi Kegagalan Italia ke Piala Dunia

"Trofi terakhir yang diraih Italia (Euro 2020) sebagian besar berkat peran Leonardo Bonucci dan Giorgio Chiellini. Itulah DNA kalian: memiliki bek-bek terbaik di dunia."

Gullit menambahkan bahwa mencoba meniru gaya bermain penguasaan bola secara berlebihan justru menjadi bumerang bagi Italia. 

Langkanya Bek Tangguh Italia

Selain masalah taktik, Gullit juga menyoroti penurunan kualitas individu di skuat Italia saat ini dibandingkan era keemasannya. Ia mengenang masa ketika ia harus berhadapan dengan nama-nama besar seperti Paolo Maldini, Franco Baresi, hingga Fabio Cannavaro yang mampu memenangkan Ballon d'Or sebagai seorang bek.

“Bukan berarti Anda harus menerapkan taktik bertahan total, tetapi dahulu kala ada Paolo Maldini di lini pertahanan, sementara Fabio Cannavaro memenangkan Ballon d’Or untuk Italia. Bertahan itu penting,” tegasnya.

“Sekarang semua orang ingin memainkan sepak bola tiki-taka yang dibangun dari area penalti sendiri, tetapi itu bukan untuk semua orang.”

Menatap Revolusi FIGC

Komentar Gullit ini menjadi kontras dengan pernyataan Leonardo Bonucci sebelumnya yang menyarankan agar federasi mendatangkan Pep Guardiola untuk melakukan revolusi total. 

Baca juga: Bonucci Bermimpi Guardiola Jadi Pelatih Timnas Italia

Gullit justru percaya bahwa solusinya bukan mendatangkan guru tiki-taka, melainkan memanggil kembali semangat Catenaccio yang telah dimodernisasi.

Dengan kursi kepelatihan yang masih kosong setelah mundurnya Gennaro Gattuso dan pemilihan Presiden FIGC yang dijadwalkan pada 22 Juni mendatang, saran dari Gullit ini menambah panjang perdebatan mengenai ke mana arah sepak bola Italia harus melangkah. 

Apakah mereka akan terus mengejar mimpi bermain indah, ataukah mereka akan kembali menjadi tembok pertahanan yang paling ditakuti di dunia?

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!