Aston Villa Juara Europa League usai Menang Telak 3-0 atas Freiburg
Tiga puluh tahun. Tiga puluh tahun tanpa trofi besar. Dan pada Kamis (21/5) dini hari WIB di Stadion Beşiktaş, penantian itu berakhir. Aston Villa memenangkan gelar Europa League pertama mereka dengan mengalahkan Freiburg 3-0 di Istanbul, yang menjadi trofi Eropa pertama mereka dalam 44 tahun sejak memenangkan European Cup pada 1982. Gol-gol dari Youri Tielemans, Emiliano Buendía, dan Morgan Rogers memastikan kemenangan yang tidak terbantahkan.
Bagi Unai Emery, sang penguasa kompetisi ini, hasil tersebut merupakan gelar Europa League kelimanya, sebuah rekor yang kian sulit dipecahkan. Sementara bagi Freiburg, yang melakoni debut final bersejarah mereka di bawah asuhan Julian Schuster, laga ini menjadi pelajaran berharga tentang betapa kejamnya level tertinggi sepak bola benua biru.
Voli Spektakuler Tielemans Pecah Kebuntuan
Setengah jam pertama di Istanbul berjalan dengan tensi tinggi yang biasa menyelimuti sebuah laga final. Freiburg bermain disiplin dengan blok pertahanan rendah, sembari sesekali menebar ancaman lewat Nicolas Höfler dan Johan Manzambi. Villa memegang kendali tempo pertandingan, namun sempat kesulitan mengirimkan umpan kunci untuk membongkar rapatnya lini belakang klub Jerman tersebut.
Momen yang dinanti akhirnya tiba pada menit ke-41, lahir dari sebuah skema cerdik yang matang. Lucas Digne melepaskan umpan pendek dari sepak pojok kepada Morgan Rogers. Di saat barisan pertahanan Freiburg bersiap mengantisipasi umpan silang konvensional ke tiang jauh, Rogers dengan jeli melihat Youri Tielemans yang berdiri tanpa kawalan di tepi kotak penalti.
Baca juga: Aston Villa: Emery Enggan Disebut Raja Europa League Jelang Final Kontra Freiburg
Rogers mengirimkan umpan lambung terukur, dan Tielemans menyambutnya dengan sepakan voli kaki kanan yang menghujam deras ke pojok bawah gawang Noah Atubolu.
Aksi Gemilang Buendía dan Gol Penentu Rogers
Jika gol pertama meruntuhkan fokus Freiburg, gol kedua yang tercipta di masa injury time babak pertama benar-benar meremukkan mental mereka.
John McGinn melihat Emi Buendía yang memiliki ruang di sisi kanan kotak penalti. Sang playmaker asal Argentina memutar badannya dengan elegan sebelum melepaskan tembakan melengkung yang indah dengan kaki kirinya. Bola bersarang telak di pojok kanan atas gawang.
Freiburg keluar di babak kedua dengan intensitas yang lebih agresif, mencoba mencari celah di lini pertahanan Villa. Namun, duet Ezri Konsa dan Pau Torres tampil sangat solid dan terorganisasi, memaksa Freiburg yang hanya mampu melepaskan empat tembakan dan dua yang tepat sasaran.
Sebelum laga berjalan satu jam, Villa resmi mengunci kemenangan mereka. Buendía, yang terus menerus merepotkan lini belakang Freiburg, merangsek dari sisi kiri dan melepaskan umpan silang mendatar yang tajam ke mulut gawang. Morgan Rogers yang bergerak impresif berhasil membaca arah bola dan menyonteknya di tiang dekat untuk mengubah papan skor menjadi 3-0.
Baca juga: Watkins Puji Kejeniusan Emery Usai Villa Segel Tiket Final Europa League
Villa sejatinya bisa saja menambah keunggulan, andai sundulan pemain pengganti Amadou Onana memanfaatkan sepak pojok McGinn tidak membentur tiang gawang. Hingga peluit panjang berbunyi, papan skor tidak berubah. Aston Villa kembali menegaskan status mereka sebagai kekuatan yang disegani di Eropa.
Reaksi Pasca-Pertandingan
"Saya merasa luar biasa," kata Tielemans kepada TNT. "Kami telah bekerja keras, performa terbaik, kami menjalani musim yang hebat, dan untuk melengkapinya dengan ini, sungguh luar biasa.
"Kami hanya punya satu hari untuk berlatih, kami melakukannya pada hari Senin, dan itu berhasil dengan cemerlang malam ini.
"Ini adalah musim dengan banyak pasang surut. Kami memulai dengan sangat buruk, standar kami sangat rendah, tetapi cara kami membalikkan keadaan sangat hebat, pujian untuk para pemain, pujian untuk staf, kami terus bekerja, terus percaya, dan akhirnya kami meraih kemenangan, Liga Champions musim depan dan sebuah trofi."
Kapten tim, John McGinn, merefleksikan laga ini sebagai malam paling membanggakan dalam kariernya. “Ini adalah momen dan malam paling membanggakan dalam karier saya sejauh ini. Saya akan mencoba menikmatinya. Saya suka berpesta kadang-kadang, tetapi malam ini saya akan mencoba bersantai, menikmati semuanya.
“Saya rasa, bagi saya, di usia 31 tahun, final Eropa pertama saya, saya menyaksikan teman-teman saya memenangkan trofi, Andy Robertson dan Jack Grealish, jadi sekarang giliran saya malam ini. Mungkin bukan trofi besar yang pernah mereka menangkan. Tetapi, bagi saya, ini sangat, sangat istimewa dan saya akan menghargai setiap menitnya.”
Setelah mengamankan posisi di lima besar di Premier League untuk lolos ke Champions League musim depan, trofi Europa League ini menjadi mahkota indah dari transformasi tiga setengah tahun yang luar biasa di bawah asuhan Emery. Penantian panjang sejak 1982 akhirnya resmi berakhir.