Potter Akui Swedia Kalah Kelas Lawan Prancis di Babak 32 Besar
Pelatih tim nasional Swedia, Graham Potter, dengan jantan mengakui bahwa timnya kalah kelas dari performa luar biasa Prancis setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026 menyusul kekalahan telak 3-0 di babak 32 besar pada Rabu (1/7) dini hari WIB.
Mantan manajer Chelsea tersebut mengungkapkan rasa frustrasinya secara jujur, menyebut bahwa performa sempurna sekalipun dari anak asuhnya mungkin tidak akan cukup untuk membendung kedahsyatan Les Bleus.
Kalah Telak di MetLife Stadium
Bermain di Stadion New York New Jersey, taktik defensif yang disiapkan Potter hancur berantakan oleh brace Kylian Mbappé dan satu sumbangan dari Bradley Barcola.
Hasil ini sekaligus menandai akhir dari perjalanan penuh kejutan Blågult yang lolos ke fase gugur lewat jalur peringkat ketiga terbaik, sementara Prancis melenggang mantap ke babak 16 besar.
Baca juga: Prancis Melaju Mulus ke 16 Besar, Brace Mbappé Hancurkan Swedia 3-0
"Tim yang lebih baik menang, selamat kepada Prancis. Saya pikir dari segi permainan, kami harus sempurna dan bahkan jika kami sempurna pun, saya tidak yakin itu akan cukup jika saya jujur, karena lawan kami memiliki level yang tinggi," kata Potter.
"Jika Anda melihat karier dan rekam jejak para pemain timnas Prancis, lalu membandingkannya dengan skuad kami, perbedaannya sangat terlihat. Kami adalah tim muda yang sedang berkembang dengan banyak hal baik di masa depan."
Jurang Kualitas yang Nyata
Swedia sebenarnya memulai laga dengan organisasi pertahanan yang disiplin, membatasi ruang gerak lini serang bertabur bintang milik Prancis sepanjang babak pertama.
Namun, pertahanan kokoh yang digalang Victor Lindelöf akhirnya runtuh tepat sebelum turun minum berkat penyelesaian klinis Mbappé pada menit ke-45.
Memasuki babak kedua, situasi kian sulit bagi Swedia setelah Bradley Barcola menggandakan keunggulan di menit ke-53, sebelum akhirnya Mbappé menutup pesta gol sang juara bertahan di menit ke-74.
Potter menyadari bahwa kedalaman skuad serta jam terbang internasional menjadi pembeda yang sangat mencolok di atas lapangan.
Meskipun harus mengepak koper lebih awal dan mencatatkan tersingkirnya Swedia di fase paling awal sejak Piala Dunia 1990, pelatih asal Inggris tersebut menolak untuk berkecil hati. Ia menganggap kekalahan menyakitkan dari tim favorit turnamen ini sebagai pelajaran berharga bagi masa depan generasi baru sepak bola Swedia.
Baca juga: Berbagi Poin di Texas, Jepang dan Swedia Kompak Melenggang ke Babak Gugur
"Saya tidak punya keluhan sama sekali terhadap para pemain. Saya mengatakan kepada mereka setelah pertandingan bahwa saya rasa kalah dari Prancis bukanlah suatu aib, mereka tim yang lebih baik dan mereka memiliki beberapa pemain kelas atas," tambah Potter.
Menatap Masa Depan Skuad Muda
Dengan hasil ini, Prancis dijadwalkan akan menantang Paraguay di babak 16 besar pada 5 Juli mendatang di Philadelphia. Sementara bagi Potter dan anak asuhnya, kepulangan dari Amerika Serikat ini menjadi awal dari babak baru proyek jangka panjang untuk mengembalikan kejayaan sepak bola Swedia di panggung internasional.
"Tentu saja ini sepak bola, apa pun bisa terjadi," ujar Potter. "Tapi secara pribadi saya belum pernah melihat tim yang lebih baik daripada Prancis."
Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!