Mesir Tak Bisa Tinggal Diam dan Pertanyakan Keadilan Saat Disingkirkan Argentina

Mesir Tak Bisa Tinggal Diam dan Pertanyakan Keadilan Saat Disingkirkan Argentina
9/07/2026 - 15:05 WIB
28

Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) meluncurkan kecaman keras dan menyatakan "tidak bisa tinggal diam" setelah mempertanyakan keadilan serta konsistensi keputusan wasit yang berujung pada kekalahan tragis 3-2 yang dialami tim nasional mereka dari Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026, Selasa lalu.  

Mesir tampaknya berada di ambang sejarah besar untuk menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah turnamen ketika gol dari Yasser Ibrahim dan Mostafa Ziko membawa The Pharaohs unggul 2-0 hingga laga menyisakan 11 menit. Namun, keputusan-keputusan kontroversial dari perangkat pertandingan di sisa laga memicu runtuhnya mental Mesir, membiarkan sang juara bertahan mencetak tiga gol balasan dalam kurun waktu 13 menit yang menyakitkan.  

Pernyataan Keras Mesir

Dalam pernyataan resmi yang dirilis di media sosial pada hari Rabu, federasi Mesir meledak dan menuntut transparansi total atas apa yang mereka sebut sebagai kegagalan fatal dalam penerapan sistem Video Assistant Referee (VAR).  

“Asosiasi Sepak Bola Mesir tidak dapat tinggal diam terkait keputusan wasit yang disaksikan selama pertandingan melawan Argentina serta kegagalan dalam menggunakan sistem asisten wasit video (VAR) dengan tepat,” bunyi pernyataan tersebut. “Beberapa insiden penting menimbulkan kekhawatiran serius dan meninggalkan pertanyaan mendalam tentang konsistensi dan keadilan keputusan yang secara langsung memengaruhi jalannya pertandingan.

“Sejumlah pakar sepak bola dan analis spesialis, baik lokal maupun internasional, telah menyoroti insiden wasit yang kontroversial dan berpengaruh selama pertandingan. Hal ini menggarisbawahi pentingnya menjaga standar integritas, keadilan, dan transparansi tertinggi dalam pengawasan pertandingan, khususnya dalam kompetisi sebesar dan sepenting Piala Dunia.”

Baca juga: Merasa Dicurangi Wasit, Pelatih Mesir Naik Pitam dan Ogah Nonton Sisa Turnamen

EFA melanjutkan, “Sepak bola Mesir selalu menghormati prinsip-prinsip permainan yang adil, integritas olahraga, dan rasa hormat terhadap permainan. Prinsip-prinsip yang sama ini mengharuskan semua tim untuk berkompetisi dengan syarat yang sama dan menerima perlakuan yang sama. Apa yang terjadi selama pertandingan telah menimbulkan frustrasi yang meluas di antara para pemain, staf, dan pendukung kami, yang mengharapkan standar tertinggi dalam perwasitan di panggung sepak bola terbesar.

“Membela hak dan kepentingan tim nasional Mesir bukanlah masalah yang dapat diabaikan, diminimalkan, atau dianggap sebagai hal sekunder. Ini adalah tanggung jawab yang kami emban dengan keyakinan dan tekad penuh. Setiap pemain yang mengenakan seragam Mesir, dan setiap pendukung yang mendukung tim, berhak atas keadilan, rasa hormat, dan penerapan hukum permainan yang sama.”

Titik Didih Kontroversi

Kemarahan luar biasa kubu Mesir berakar dari dua momen krusial yang mengubah total takdir pertandingan di Atlanta Stadium.

Pada menit ke-58, Mesir mengira mereka telah berhasil menggandakan keunggulan menjadi 2-0 (sebelum gol Ziko di menit ke-67) ketika jala Argentina bergetar. Namun, gol tersebut dianulir setelah intervensi VAR mengklaim gelandang Marwan Attia telah melakukan pelanggaran terlebih dahulu terhadap bek Argentina, Lisandro Martínez, jauh di awal proses terjadinya gol di ujung lain lapangan. 

Keputusan ini bahkan menuai kritik dari pakar internasional, termasuk mantan penjaga gawang Inggris Rob Green yang mempertanyakan mengapa VAR bisa mengusut pelanggaran yang terjadi begitu jauh di belakang proses serangan.  

“Tentu saja, ini bukan wewenang VAR untuk meninjau hal ini,” kata Green dalam siaran pertandingan di Fox. “Jaraknya sangat jauh.”

Baca juga: Tangis Haru Scaloni Iringi Kemenangan Dramatis Argentina atas Mesir

Frustrasi Mesir mencapai puncaknya di masa injury time. Saat skor imbang 2-2, klaim penalti Mesir setelah Hamdy Fathy dijatuhkan di kotak terlarang diabaikan begitu saja oleh wasit. Ironisnya, dari serangan balik kilat yang lahir akibat momentum tersebut, Enzo Fernández berhasil menceploskan gol kemenangan bagi Argentina di menit ke-92.  

Seusai peluit panjang berbunyi, situasi di lapangan berubah menjadi ricuh. Pelatih Mesir, Hossam Hassan, tertangkap kamera menyilangkan lengannya membentuk simbol 'X' sebagai protes keras, sementara pelatih kiper Saafan Elsaghir langsung diganjar kartu merah oleh wasit akibat protes yang terlampau agresif.  

Respons Tegas FIFA

Sikap frontal yang ditunjukkan oleh kubu Mesir langsung memancing reaksi dari jajaran petinggi sepak bola dunia. Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, merilis pernyataan balasan untuk membela integritas para petugas lapangan dan mengecam balik tuduhan tak berdasar dari pihak EFA.  

"Tentu saja, diskusi konstruktif tentang keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga kita," ujarnya, dalam pernyataan yang dirilis situs resmi FIFA.

"Tidak seorang pun dapat mempertanyakan integritas para wasit Piala Dunia FIFA. Ketika ini terjadi, hal itu dapat memicu reaksi yang mengarah pada ancaman terhadap mereka dan keluarga mereka. Ini tidak benar.

"Demikian pula, tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa wasit FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh presiden FIFA."

Collina juga menegaskan bahwa pembatalan gol akibat pelanggaran Marwan Attia sudah sesuai dengan regulasi baku protokol VAR, terlepas dari seberapa jauh jarak insiden tersebut dari gawang. Namun bagi masyarakat Mesir, penjelasan teknis tersebut tidak akan bisa menghapus rasa sakit hati akibat hilangnya tiket perempat final yang sudah berada di depan mata.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!

Related News

0 Komentar
Lihat Komentar Lainnya
Ads
Loading...
Tunggu Sebentar...