Jadi Spesialis Bola Mati, Rice Yakin Bisa Terus Cetak Assist Bersama Inggris
Declan Rice mengirim pesan peringatan serius kepada para rival Inggris di Piala Dunia 2026. Gelandang andalan Arsenal ini menegaskan bahwa Tiga Singa siap menjadikan skema bola mati sebagai senjata mematikan, bahkan mengaku selalu memvisualisasikan terjadinya gol setiap kali ia mengambil eksekusi.
Tim asuhan Thomas Tuchel memulai langkah mereka di Grup L dengan kemenangan meyakinkan 4-2 atas Kroasia di Dallas. Hasil tersebut diraih lewat cetak biru taktis yang sangat bergantung pada efektivitas peluang kecil. Sementara Harry Kane dan Jude Bellingham mencuri perhatian lewat gol-gol mereka, statistik menunjukkan bahwa Inggris memimpin turnamen dalam metrik Expected Goals (xG) dari situasi bola mati non-penalti sebesar 1,03.
Asis Perdana di Piala Dunia
Aktor intelektual di balik dominasi tersebut tidak lain adalah Rice. Sang gelandang memberikan umpan lambung akurat yang berbuah gol kedua Kane saat melawan Kroasia. Berbicara di markas latihan Inggris, Swope Soccer Village, menjelang laga kontra Ghana, Rice memancarkan rasa percaya diri yang luar biasa.
"Semua orang menikmati [bola mati] sekarang, kan?" kata Rice kepada BBC Sport. "Semua orang menikmatinya sekarang.
Baca juga: Watkins Ungkap Sisi Lain Tuchel saat Latihan Bersama Timnas Inggris
"Seiring berjalannya waktu, saya merasa sekarang setiap kali meletakkan bola untuk situasi bola mati—baik itu sepak pojok maupun tendangan bebas—saya merasa akan mencetak assist atau menciptakan sesuatu yang berbahaya.
"Itu adalah mentalitas yang bagus untuk menghadapi bola mati, dan para penggemar Inggris boleh merasa bersemangat."
'Berguru' pada Jover dan Arteta di Arsenal
Transformasi Rice menjadi salah satu eksekutor bola mati paling ditakuti di dunia sepak bola modern merupakan hasil dari latihan yang metodis, bukan bakat alami sejak kecil.
Sebelum kepindahan supermahalnya ke London Utara, pemain berusia 27 tahun ini hampir tidak pernah terlihat berdiri di sudut lapangan untuk mengambil sepak pojok.
Perubahan besar terjadi ketika manajer Arsenal, Mikel Arteta, bersama pelatih khusus bola mati legendaris, Nicolas Jover, melihat karakteristik teknik yang unik dalam mekanika tendangan Rice.
Perjudian itu membuahkan hasil manis. Arsenal berhasil mencetak 25 gol dari skema bola mati musim lalu dalam perjalanan mereka merengkuh trofi Premier League pertama sejak 2004 serta menembus final Liga Champions.
"Dulu saya tidak pernah mengambil sepak pojok atau tendangan bebas (sebelum 2024), tetapi Nico dan manajer di Arsenal melihat sesuatu dalam diri saya yang tidak dilihat orang lain," jelas Rice.
Baca juga: Kane Ungkap Pidato Tuchel Jadi Kunci Kemenangan 4-2 Inggris atas Kroasia
"Mereka mengatakan bahwa saya bisa mengirim bola ke area penalti yang tidak bisa dilakukan oleh pemain lain di Arsenal, kecuali Bukayo [Saka]. Sejak momen itu, saya benar-benar memercayainya."
Menyempurnakan Rencana Turnamen Thomas Tuchel
Meski Thomas Tuchel membawa tuntutan taktisnya sendiri yang ketat sejak menukangi posisi pelatih Inggris, juru taktik asal Jerman tersebut cukup bijak untuk tidak merusak chemistry otomatis yang dibawa oleh poros pemain Arsenal ke level internasional.
Rice mengungkapkan bahwa meskipun waktu latihan sangat terbatas di tengah padatnya jadwal turnamen musim panas, fondasi untuk rutinitas bola mati Inggris telah digarap dengan sangat teliti sepanjang tahun lalu.
Pergerakan para pemain di dalam kotak penalti sudah dilatih secara otomatis, meninggalkan Rice dengan satu tanggung jawab tunggal: akurasi eksekusi.
"Kami sudah menerapkan format dan cara mengambil bola mati ini sejak Thomas datang," tambah Rice.
"Para pemain tahu apa yang akan terjadi dan ke mana saya akan mengirimkan bola. Ada rencana permainan yang nyata, dan tugas saya adalah mengirimkannya dengan tepat. Tentu saja, para pemain lain harus pintar-pentar meloloskan diri dari kawalan di kotak penalti."
Dengan kemenangan melawan Ghana yang sudah cukup untuk menyegel tiket ke babak gugur, Inggris kini terlihat sangat menakutkan. Jika Rice terus mengirimkan umpan dengan tingkat kepercayaan diri setinggi ini, Tiga Singa bisa saja mengukir jalan mereka menuju trofi emas Piala Dunia, lewat satu sepak pojok demi sepak pojok.