Dumfries Peringatkan Belanda Bersiap Hadapi Tunisia yang Main Total
Bek tim nasional Belanda, Denzel Dumfries, memberikan peringatan keras kepada rekan-rekan setimnya untuk mengantisipasi permainan agresif dan penuh energi dari Tunisia pada laga pamungkas Grup F Piala Dunia 2026, Jumat nanti. Bek Inter Milan tersebut menolak mentah-mentah anggapan bahwa wakil Afrika Utara itu akan menyerah begitu saja meski sudah dipastikan tersingkir dan didera kekacauan akibat pergantian pelatih di tengah turnamen.
De Oranje menatap laga di Kansas City Stadium ini dengan peluang besar mengunci tiket fase gugur setelah mengoleksi empat poin hasil dari imbang 2-2 melawan Jepang dan kemenangan telak 5-1 atas Swedia. Sebaliknya, nasib Tunisia sudah tamat setelah menelan dua kekalahan beruntun usai dihajar Swedia 1-5 dan dilumat Jepang 4-0, yang berujung pada pemecatan pelatih Sabri Lamouchi untuk digantikan oleh juru taktik kawakan, Hervé Renard.
Main Total Demi Harga Diri
Berbicara kepada media pada hari Senin, bek kanan berusia 30 tahun itu menegaskan bahwa gengsi besar bermain di panggung tertinggi sepak bola dunia akan membuat Tunisia tampil habis-habisan demi harga diri negara mereka. Hal inilah yang membuat sang lawan menjadi batu sandungan yang sangat berbahaya bagi Belanda.
"Kami tahu bahwa mereka mengganti pelatih setelah pertandingan pertama. Tetapi bagi semua orang, bermain di Piala Dunia adalah suatu kehormatan. Jadi yang saya duga adalah mereka akan bermain dengan sepenuh hati," kata Dumfries.
Baca juga: Gakpo: Belanda Wajib Waspadai Isak di Laga Krusial Kontra Swedia
"Setiap pertandingan di Piala Dunia adalah pertandingan yang sulit. Semua orang bermain dengan penuh kehormatan, bangga mewakili negara mereka. Saya menduga mereka akan datang dengan energi penuh, dan kami juga harus menunjukkannya.”
Kewaspadaan Dumfries sangat beralasan. Juru taktik baru Tunisia asal Prancis, Hervé Renard, juga menyuarakan hal serupa setelah kekalahan dari Jepang akhir pekan lalu. Renard secara terbuka menuntut pasukannya untuk tetap menjaga fokus mutlak karena mengenakan jersi tim nasional di Piala Dunia membawa tanggung jawab permanen untuk berjuang hingga peluit akhir berbunyi.
"Bahkan jika kami tersingkir, kami masih memiliki pertandingan ketiga untuk dimainkan. Kami berada di Piala Dunia," tegas Renard.
Menghadapi Badai Perubahan Tunisia
Perjalanan Tunisia di turnamen ini memang bisa dibilang sangat bergejolak. Kebobolan sembilan gol hanya dalam dua pertandingan menunjukkan rapuhnya lini pertahanan mereka, yang langsung memakan korban dengan pemecatan Lamouchi setelah laga pertama.
Meski kedatangan Renard yang mendadak belum mampu memberikan keajaiban instan saat melawan Jepang, waktu latihan ekstra selama beberapa hari terakhir diyakini bisa memberikan struktur pertahanan kokoh yang selama ini hilang dari skuad Elang Kartago.
Baca juga: Koeman Tak Menyesal Usai Ditahan Jepang, Tuntut Belanda Tampil Lebih Garang
Tantangan taktis bagi tim asuhan Ronald Koeman adalah membongkar pertahanan lawan yang tampil tanpa beban berat di pundak mereka. Walaupun hasil imbang sudah cukup untuk meloloskan Belanda, De Oranje dipastikan mengincar kemenangan meyakinkan demi mengamankan status juara Grup F, sekaligus menghindari lawan berat di babak 32 besar melalui keunggulan selisih gol.
Kepercayaan Diri Oranje yang Sedang Memuncak
Suasana di kubu Belanda saat ini sedang sangat positif, terutama setelah performa klinis mereka saat menghancurkan Swedia pekan lalu. Dumfries menjadi salah satu bintang lapangan dalam kemenangan besar tersebut lewat aksi impresifnya di sisi kanan yang menghasilkan dua assist matang untuk Brian Brobbey dan Cody Gakpo.
Performa tajam itu memberikan keyakinan internal bahwa Belanda memiliki kedalaman lini serang yang mumpuni untuk melangkah jauh di Amerika Utara. Namun, Dumfries menegaskan bahwa semua fluiditas serangan itu tidak akan berarti apa-apa jika mereka kehilangan fokus di lini belakang. Menyadari takdir kelolosan berada di tangan mereka sendiri, Oranje tahu betul bahwa menganggap laga terakhir fase grup ini sebagai formalitas belaka adalah kesalahan yang sangat fatal.
"Kami tahu kami memiliki skuad dengan banyak kualitas di lini depan, banyak pemain dengan kemampuan mencetak gol," kata Dumfries. "Ini pertanda baik dan memberikan kepercayaan diri."