Pelatih kepala Inggris, Thomas Tuchel, menegaskan bahwa dirinya sama sekali bukan penggemar aturan hydration break (jeda hidrasi) kontroversial yang diterapkan FIFA di Piala Dunia 2026 kali ini. Tuchel menilai aturan tersebut telah merusak esensi, ritme, dan identitas asli dari permainan sepak bola.

Pernyataan keras ini disampaikan Tuchel menjelang laga krusial Tiga Singa melawan Ghana di Gillette Stadium malam ini. Regulasi wajib yang awalnya diperkenalkan demi keselamatan pemain dalam turnamen format baru 48 tim di Amerika Utara ini, dengan cepat berubah menjadi medan pertempuran taktis dan komersial yang memicu perpecahan. Bagi Tuchel, jeda wajib tiga menit di pertengahan masing-masing babak telah mengubah sepak bola menjadi olahraga yang sama sekali berbeda.

Jeda Hidrasi Ubah Alur Pertandingan

Berbicara sebelum sesi latihan di Boston, di mana suhu udara justru diperkirakan sangat sejuk dan tidak menyentuh 20°C, Tuchel tidak menahan diri saat ditanya mengenai aturan stop paksa tersebut.

"Saya rasa aturan ini mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola, jauh lebih besar dari yang saya bayangkan," aku Tuchel secara terbuka. 

Baca juga: Jadi Spesialis Bola Mati, Rice Yakin Bisa Terus Cetak Assist Bersama Inggris

"Tentu saja, saya pernah mengalami jeda hidrasi sebelumnya ketika cuaca benar-benar sangat panas dan itu memang dibutuhkan. Tapi dulu durasinya lebih singkat dan hanya digunakan dalam beberapa laga tertentu. Sekarang, demi alasan 'keadilan', hal ini terjadi di setiap pertandingan. Ini seperti membagi pertandingan menjadi empat kuarter. Karakteristik permainan berubah total dari apa yang saya harapkan."

Bagi Tuchel, rasa frustrasi ini berakar pada rusaknya momentum fisik dan psikologis pemain. Sepak bola sejatinya adalah olahraga ketahanan, sebuah catur lapangan hijau berdurasi 45 menit tanpa henti di mana sebuah tim sengaja menguras stamina lawan atau bertahan dari tekanan bertubi-tubi. 

Dengan adanya pemberhentian paksa di sekitar menit ke-22 dan ke-67, FIFA dinilai memberikan tactical timeout gratis bagi tim yang sedang kepayahan.

Kekacauan Taktis atau Selundupan Komersial?

Tuchel tidak sendirian dalam menyuarakan kritik ini. Di sepanjang turnamen, para suporter di stadion kerap menyoraki jeda wajib tersebut, dan beberapa manajer elite lainnya mulai menyuarakan kegelisahan serupa. 

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, juga mengakui bahwa jeda ini memaksa para pelatih mengubah total cetak biru permainan mereka di tengah laga.

“Apa pun rencana yang ada dalam pikiran saya dapat berubah berdasarkan apa yang terjadi selama 22 atau 23 menit itu. Kami memiliki pemain menyerang di lapangan, ditambah opsi pemain cadangan. Kami mencari solusi, hal yang sama seperti yang Anda lakukan selama jeda babak pertama,” kata Scaloni, sebelum laga kontra Austria.

"Mungkin saya menyesatkan ketika saya menyebutkan bahwa ini menguntungkan tim yang lebih lemah, ini juga membantu tim penyerang untuk melakukan koreksi. Rasanya aneh beradaptasi dengan ini. Pada akhirnya, ini akan menjadi normal, seperti peningkatan lainnya.

Baca juga: Watkins Ungkap Sisi Lain Tuchel saat Latihan Bersama Timnas Inggris

“Untuk saat ini, terasa tidak biasa karena alurnya sangat terputus-putus. Kami mencoba menganalisis dan melakukan penyesuaian. Pertandingan berlangsung dengan cara yang berbeda, bahkan hanya dalam babak pertama saja. Saya yakin ini akan membaik."

Di balik perdebatan taktis, isu komersial di balik keputusan FIFA ini juga semakin disorot tajam. Para kritikus menuduh badan tertinggi sepak bola dunia tersebut sengaja menyelundupkan jeda iklan dengan kedok keselamatan medis. Karena jeda ini diwajibkan di seluruh 104 pertandingan, tanpa memandang apakah laga dimainkan di dalam stadion tertutup ber-AC atau di malam hari yang dingin, pihak penyiaran langsung memanfaatkan kekosongan tiga menit tersebut untuk menayangkan slot iklan komersial yang sangat menguntungkan.

Pertaruhan Momentum Tiga Singa

Bagi Inggris, menjaga kelancaran permainan adalah kunci utama. Anak asuh Tuchel tampil impresif di laga pembuka dengan kemenangan mendebarkan 4-2 atas Kroasia di Dallas. Ketajaman Harry Kane yang mencetak dua gol, didukung performa apik Jude Bellingham serta Marcus Rashford, membuktikan bahwa lini serang Inggris bisa tampil sangat cair dan mematikan jika diberi kebebasan bermain.

Namun, memaksa tim yang mengandalkan intensitas dan tempo tinggi seperti Inggris untuk menginjak rem setiap 22 menit justru menguntungkan tim yang bermain disiplin dan mengandalkan fisik seperti Ghana.

Tuchel tahu kemenangan malam ini akan mengamankan posisi puncak Grup L dan memuluskan jalan mereka di babak 32 besar. Namun untuk mencapainya, sang taktis asal Jerman ini tidak hanya harus mengungguli strategi Carlos Queiroz di kubu Black Stars, ia juga harus menaklukkan realitas sepak bola empat kuarter yang kini menjadi norma di turnamen ini.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!