Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) resmi memecat pelatih kepala Sabri Lamouchi hanya beberapa jam setelah kekalahan memalukan 5-1 dari Swedia pada laga Grup F Piala Dunia 2026. Keputusan ekstrem ini mencatatkan sejarah baru sebagai pemecatan pelatih tercepat dalam sejarah putaran final Piala Dunia.

Sadar posisi mereka di ujung tanduk, FTF bergerak kilat. Kurang dari 24 hari setelah pembantaian di Stadion BBVA, Monterrey tersebut, Tunisia resmi menunjuk Hervé Renard untuk langsung mengambil alih komando tim di sisa kompetisi.

Bencana Taktis di Monterrey

Kekalahan dari Swedia yang sedang on-fire memang bisa dimaklumi, namun taktik yang ditunjukkan Lamouchi-lah yang membuat federasi langsung kehabisan kesabaran. 

Pelatih berusia 54 tahun itu secara mengejutkan menerapkan formasi hiper-defensif 5-5-0. Ia mencadangkan seluruh penyerang murninya dan memaksa para gelandang tengah bermain sebagai bek sayap dadakan.

Baca juga: Pesta Gol di Monterrey, Swedia Lumat Tunisia 5-1 dalam Laga Grup F

Selain itu, tanda-tanda kemunduran sudah terlihat. Mereka mengalahkan Haiti di pertandingan pertama Lamouchi, tetapi kemudian bermain imbang 0-0 dengan Kanada dan kalah 1-0 dari Austria. Hasil yang paling mengkhawatirkan terjadi ketika mereka dikalahkan 5-0 oleh Belgia

"Memulai kompetisi dengan kekalahan seburuk ini sangatlah berat," ujar Lamouchi dalam konferensi pers terakhirnya yang emosional. "Kami melakukan terlalu banyak kesalahan fatal. Kami menembak kaki kami sendiri."

Catatan Sejarah yang Kelam

Lamouchi, yang baru menangani tim pada Januari lalu, harus angkat kaki setelah hanya mendampingi tim dalam lima pertandingan resmi, dan hanya meraih satu kemenangan. 

Meskipun Tunisia terkenal sebagai federasi yang gemar memecat pelatih di tengah turnamen (seperti saat mendepak Henryk Kasperczak di Piala Dunia 1998), pemecatan setelah laga perdana ini menetapkan standar baru dalam hal instabilitas manajerial.

Baca juga: Pelatih Arab Saudi Piala Dunia 2022

Langkah drastis ini mencerminkan kepanikan luar biasa di internal FTF. Dengan sisa laga berat melawan Jepang dan Belanda di Grup F, pihak klan Eagles of Carthage merasa peluang mereka untuk lolos akan tertutup rapat jika tetap mempertahankan Lamouchi di kursi kemudi.

Magis Hervé Renard Kembali Diuji

Dalam situasi kacau ini, Tunisia berpaling kepada pria yang biasa menjinakkan kemustahilan. Juru taktik asal Prancis berusia 57 tahun tersebut adalah legenda hidup sepak bola Afrika, setelah sukses membawa Zambia (2012) dan Pantai Gading (2015) menjuarai Piala Afrika. Renard juga memiliki reputasi pembuat kejutan di Piala Dunia, termasuk saat menumbangkan Argentina bersama Arab Saudi empat tahun lalu di Qatar.

Tugas Renard kini sudah jelas: mengembalikan struktur pertahanan, menyembuhkan mentalitas ruang ganti yang hancur, dan menyelamatkan selisih gol yang saat ini minus empat. Ia dijadwalkan langsung terbang ke Monterrey untuk memimpin sesi latihan jelang laga hidup-mati kontra Jepang nanti.

Renard pernah melakukan keajaiban dalam waktu singkat sebelumnya, namun mewarisi skuad yang sedang terluka parah di tengah-tengah turnamen terbesar di dunia akan menjadi ujian terberat dalam kariernya.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!