Tim nasional Argentina resmi menobatkan diri sebagai juara Piala Dunia FIFA 2022 setelah mengalahkan juara bertahan Prancis lewat babak adu penalti 4-2 di Stadion Lusail. Kesuksesan besar ini mengakhiri penantian 36 tahun publik Albiceleste sekaligus melengkapi lemari trofi Lionel Messi dengan satu-satunya gelar yang belum pernah ia raih.

Laga final yang berakhir imbang 3-3 selama 120 menit tersebut langsung dicap sebagai salah satu pertandingan terhebat dalam sejarah sepak bola modern. Namun, di balik pesta konfeti di Doha, perjalanan Argentina menuju podium juara diwarnai oleh kebangkitan luar biasa dari keterpurukan, adaptasi taktik yang jenius, dan mentalitas baja.

Kejutan Awal di Lusail

Argentina memasuki turnamen 2022 dengan modal rekor 36 pertandingan tak terkalahkan, membuat mereka sangat diunggulkan untuk melaju mulus dari Grup C. Namun, apa yang terjadi pada 22 November menjadi salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. 

Baca juga: Top Skor Piala Dunia 2022

Arab Saudi yang tampil disiplin dengan strategi high-press berhasil membalikkan keadaan dari tertinggal 1-0 menjadi kemenangan mengejutkan 2-1. Seketika, asa Piala Dunia Argentina berada dalam kondisi kritis bahkan sebelum turnamen benar-benar dimulai. Tekanan yang dipikul Messi dan pelatih Lionel Scaloni terasa begitu menyesakkan.

Panggung Bagi Darah Muda

Menghadapi ancaman eliminasi prematur melawan Meksiko di laga kedua, Argentina tampak lumpuh oleh rasa takut selama 60 menit pertama. Kemudian, sebuah momen jenius murni tercipta. 

Messi menerima operan dari Ángel Di María dan melepaskan tembakan mendatar kaki kiri yang bersarang telak di pojok gawang Guillermo Ochoa. Kelegaan luar biasa langsung terasa, disusul gol indah Enzo Fernández yang melahirkan wajah baru Argentina.

Baca juga: Squad Argentina Piala Dunia 2022

Scaloni melakukan penyesuaian berani dengan memasukkan deretan pemain muda seperti Fernández, Julián Álvarez, dan Alexis Mac Allister ke dalam starting lineup. Pada saat mereka menumbangkan Polandia 2-0 untuk menjuarai grup, tim yang tampak lamban di laga pertama telah menjelma menjadi mesin yang dinamis, bertenaga, dan tak terbendung.

Drama Fase Gugur

Babak gugur membuktikan bahwa Argentina tidak hanya bisa menyajikan sepak bola indah, tetapi juga tahu cara bertarung habis-habisan di bawah tekanan mental yang hebat. 

Pada babak 16 besar melawan Australia, keunggulan nyaman dua gol sempat berubah menjadi menegangkan setelah gol bunuh diri yang tidak beruntung. Diperlukan blok legendaris di menit ke-97 dari kiper Emiliano "Dibu" Martínez untuk menyelamatkan mereka dari babak perpanjangan waktu.

Baca juga: Top Assist Piala Dunia 2022

Ujian mental sesungguhnya datang di perempat final saat melawan Belanda dalam laga yang dikenal sebagai Pertempuran Lusail. Memimpin dua gol lewat asis ajaib dan eksekusi penalti Messi, Argentina kolaps di menit-menit akhir akibat dua gol Wout Weghorst. 

Tensi memuncak dengan rekor 18 kartu kuning dikeluarkan wasit, tetapi Dibu Martínez berdiri kokoh di babak adu penalti dengan menepis dua tendangan pertama Belanda untuk meloloskan timnya.

Di babak semifinal, Argentina menyajikan mahakarya taktis dengan meredam lini tengah Kroasia yang dipimpin Luka Modrić dan menang telak tiga gol tanpa balas. Momen terbaik laga ini terjadi ketika Messi yang berusia 35 tahun menari mengecoh bek muda berbakat berusia 20 tahun, Joško Gvardiol, di sisi kanan sebelum memberikan umpan matang kepada Julián Álvarez untuk mencetak gol pengunci kemenangan.

Final Terhebat Piala Dunia

Pada 18 Desember 2022, selama 80 menit pertama, Argentina membuat Prancis tidak berkutik lewat gol penalti Messi dan penyelesaian skema serangan balik cepat dari Di María. Namun, badai Kylian Mbappé datang menghantam ketika sang penyerang Prancis mencetak dua gol kilat dalam waktu 97 detik untuk menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Baca juga: Kenapa Italia Tidak Masuk Piala Dunia 2022

Memasuki babak perpanjangan waktu, drama berubah menjadi mitos. Messi sempat membawa Argentina unggul kembali di menit ke-108, sebelum Mbappé membalas lewat penalti untuk melengkapi catatan hat-trick miliknya. Skor imbang 3-3 bertahan hingga menit akhir, bahkan Dibu Martínez harus melakukan penyelamatan ajaib menggunakan kaki kirinya untuk menepis peluang emas Randal Kolo Muani di detik-detik pamungkas.

Dalam adu penalti penentu, seluruh eksekutor Argentina tampil tanpa cela. Gonzalo Montiel yang maju sebagai penendang terakhir dengan tenang mengecoh kiper lawan, memastikan kemenangan adu penalti 4-2 dan memicu histeria massal dari Buenos Aires hingga Doha.

Perjalanan panjang dari kekalahan memalukan oleh Arab Saudi, kebangkitan krusial melawan Meksiko dan Polandia, hingga melewati drama menegangkan fase gugur akhirnya terbayar lunas. Dengan kemenangan ini, Messi mengukuhkan tempatnya di samping Diego Maradona di hati rakyat Argentina, mendekap erat trofi emas yang memang ditakdirkan untuk ia angkat. Skenario telah tuntas, dan Argentina resmi menjadi raja dunia.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!