Collina Bungkam Kritik, Tegaskan Independensi Wasit di Laga Argentina vs Mesir
Kepala Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, angkat bicara dan membalas dengan tegas tuduhan korupsi serta bias yang menyelimuti kemenangan dramatis 3-2 Argentina atas Mesir di babak 16 besar Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa perangkat pertandingan bekerja dengan independensi penuh tanpa intervensi mana pun.
Pertandingan yang digelar di Stadion Atlanta ini sejatinya akan dikenang sebagai salah satu laga klasik Piala Dunia. Namun, pasca-pertandingan, atmosfer justru memanas akibat perang kata-kata yang sengit. Mesir sempat mengejutkan sang juara bertahan dengan unggul 2-0 terlebih dahulu melalui gol Yasser Ibrahim dan Mostafa Ziko. Namun, misi penyelamatan luar biasa dari anak asuh Lionel Scaloni membuat mereka mencetak tiga gol dalam 11 menit terakhir, diakhiri oleh sundulan penentu kemenangan dari Enzo Fernández di menit ke-93, yang akhirnya mematahkan hati para pendukung Mesir.
Meski begitu, keputusan wasit asal Prancis, François Letexier, beserta tim VAR-lah yang menjadi sasaran kritik tajam dari kubu negara Afrika tersebut.
Puncak Kontroversi
Kemarahan luar biasa kubu Mesir berakar dari dua momen krusial yang mengubah total takdir pertandingan di Atlanta Stadium.
Pada menit ke-58, Mesir mengira mereka telah berhasil menggandakan keunggulan menjadi 2-0 (sebelum gol Ziko di menit ke-67) ketika jala Argentina bergetar. Namun, gol tersebut dianulir setelah intervensi VAR mengklaim gelandang Marwan Attia telah melakukan pelanggaran terlebih dahulu terhadap bek Argentina, Lisandro Martínez, jauh di awal proses terjadinya gol di ujung lain lapangan.
Baca juga: Merasa Dicurangi Wasit, Pelatih Mesir Naik Pitam dan Ogah Nonton Sisa Turnamen
Keputusan ini bahkan menuai kritik dari pakar internasional, termasuk mantan penjaga gawang Inggris Rob Green yang mempertanyakan mengapa VAR bisa mengusut pelanggaran yang terjadi begitu jauh di belakang proses serangan.
Frustrasi Mesir mencapai puncaknya di masa injury time. Saat skor imbang 2-2, klaim penalti Mesir setelah Hamdy Fathy dijatuhkan di kotak terlarang diabaikan begitu saja oleh wasit. Ironisnya, dari serangan balik kilat yang lahir akibat momentum tersebut, Enzo Fernández berhasil menceploskan gol kemenangan bagi Argentina di menit ke-92.
Setelah peluit panjang berbunyi, delegasi Mesir tidak dapat menahan kekecewaan mereka. Pencetak gol Mostafa Ziko bahkan melontarkan klaim ekstrem bahwa turnamen ini telah "diatur" untuk memenangkan sang juara bertahan. Pelatih kepala Hossam Hassan turut memperkeruh suasana dengan menyatakan: "Mungkin mereka ingin mempertahankan juara dunia tetap berada di kompetisi... Mereka ingin Argentina dan Messi tetap berada di Piala Dunia demi kepentingan pemasaran."
Asosiasi Sepak Bola Mesir (EFA) setelah itu dilaporkan menuntut agar Letexier beserta seluruh kru wasit yang bertugas segera dipulangkan.
Collina Menolak Keras Klaim Pilih Kasih
Memecah kesunyian pada hari Kamis, Collina membela para wasitnya dengan sangat agresif. Ia memperingatkan bahwa tuduhan yang ceroboh dan tanpa bukti telah melewati batas yang berbahaya.
"Tentu saja, diskusi yang konstruktif mengenai sebuah keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, tetapi tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat di olahraga kita," tegas Collina dalam wawancara resmi yang dirilis di situs resmi FIFA.
"Tidak ada yang boleh mempertanyakan integritas perangkat pertandingan FIFA World Cup. Ketika hal itu terjadi, itu bisa memicu reaksi yang berujung pada ancaman terhadap mereka dan keluarga mereka. Ini sama sekali tidak benar."
Baca juga: Mesir Tak Bisa Tinggal Diam dan Pertanyakan Keadilan Saat Disingkirkan Argentina
Collina, yang secara luas dianggap sebagai salah satu wasit terbaik dalam sejarah sepak bola, secara eksplisit menolak narasi bahwa tim-tim raksasa seperti Argentina mendapatkan perlakuan istimewa dari badan pengatur sepak bola dunia tersebut.
"Sama halnya, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa perwasitan FIFA dapat dipengaruhi oleh siapa pun, bahkan oleh Presiden FIFA sekalipun," tambah Collina.
Tekanan Tinggi di Turnamen yang Lebih Besar
Collina juga mengingatkan para kritikus mengenai skala masif dari turnamen yang kini teredistribusi menjadi 48 tim ini, yang secara otomatis menghadirkan tekanan dan volume kerja yang jauh lebih besar.
"Mari kita mulai dengan menyadari bahwa kita telah memainkan 50% pertandingan lebih banyak daripada di Piala Dunia FIFA Qatar 2022, dan masih ada delapan pertandingan besar lagi yang harus dijalani. Secara keseluruhan, kami sangat puas [dengan standar perwasitan],” ujarnya.
Meskipun Mesir harus angkat koper dari turnamen dengan kepala tegak karena berhasil menyudutkan sang juara dunia hingga detik terakhir, perjalanan mereka berakhir dengan rasa pahit yang mendalam.
Bagi Argentina, impian untuk mempertahankan gelar juara tetap terjaga saat mereka melangkah ke babak perempat final, meski perdebatan mengenai bagaimana mereka bisa sampai ke sana dipastikan akan terus bergema di koridor turnamen ini untuk waktu yang lama.