Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Pep Guardiola resmi menutup pintu untuk tim nasional Italia. Mantan bos Manchester City tersebut menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki rencana dalam waktu dekat untuk kembali ke pinggir lapangan, sekaligus meredam spekulasi yang mengaitkan namanya dengan kursi kepelatihan Gli Azzurri yang tengah kosong.
Rumor sempat berembus kencang di Eropa setelah struktur kepemimpinan teknis baru Federasi Sepakbola Italia (FIGC) di bawah Paolo Maldini membidik Guardiola sebagai kandidat impian. FIGC berharap pria asal Spanyol itu bersedia memimpin revolusi total timnas Italia yang secara tragis gagal lolos ke Piala Dunia tiga kali berturut-turut. Namun, pria berusia 56 tahun tersebut menyatakan bahwa fokusnya saat ini adalah murni menikmati masa rehat.
Guardiola baru saja menyudahi masa bakti legendarisnya selama 10 tahun di Etihad Stadium pada akhir musim 2025–2026 dengan torehan fantastis 20 trofi mayor.
Keberhasilan itu menguras energi besarnya, sehingga ia merasa perlu menjauhkan diri sejenak dari tekanan dunia sepakbola modern.
Baca juga: Maldini Resmi Pimpin Revolusi FIGC Untuk Bangkitkan Sepak Bola Italia
"Secara mental, saya tidak merasa kehilangan atau merindukan apa pun," ujar Guardiola secara blak-blakan mengenai kondisinya saat ini.
“Saya mencintai pekerjaan saya, tetapi ada saatnya Anda merasa perlu istirahat. Mungkin suatu hari nanti saya akan bangun dan berkata, ‘Oke, saya ingin melatih lagi.’ Saya perlu merasa merindukannya, dan saat ini saya tidak merasakannya.”
Bagi seorang Guardiola yang menghabiskan hampir seluruh usia dewasanya di dalam pusaran industri sepakbola, baik sebagai gelandang elite maupun pelatih revolusioner, masa rehat ini adalah ruang kebebasan yang langka.
Ia menjelaskan bahwa keputusannya meninggalkan Manchester City sangat didasari oleh keinginan untuk memprioritaskan kesehatan diri dan berkumpul bersama orang-orang tercinta. Jadwal kompetisi klub sepakbola papan atas yang melelahkan selama 11 bulan penuh membuatnya sadar bahwa tubuh dan pikirannya butuh istirahat total.
“Saya mulai melatih ketika berusia 37 tahun dan segala sesuatu dalam hidup saya terhubung dengan sepak bola. Sekarang saya ingin menemukan kehidupan dan bahagia melakukan hal-hal yang tidak berhubungan dengan sepak bola,” jelas Guardiola.
“Saya mencoba memahami seperti apa hidup saya nantinya. Saya memutuskan untuk berhenti karena saya ingin lebih menjaga diri sendiri. Saya ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak saya dan dengan ayah saya, yang berusia 95 tahun dan masih hidup.
Baca juga: Capello Yakin Maldini Bangkitkan Italia dan Tolak Mancini Jadi Pelatih
“Saya sekarang berusia 56 tahun, saya tidak muda lagi, jadi perspektif Anda berubah. Saya masih menyesuaikan diri dengan babak baru ini, tetapi semuanya berjalan cukup baik.”
Penegasan dari Guardiola ini menjadi pukulan telak bagi FIGC yang sedang berambisi mencari sosok kelas dunia untuk membangun ulang fondasi tim nasional mereka. Di tengah perdebatan internal federasi mengenai opsi pelatih lokal lain seperti Antonio Conte atau Roberto Mancini, kehadiran Maldini awalnya diharapkan bisa merayu Guardiola, yang juga fasih berbahasa Italia berkat pengalamannya membela Brescia dan Roma saat masih aktif bermain.
Kendala finansial sebenarnya sudah diprediksi akan mempersulit negosiasi, mengingat gaji fantastis Guardiola di City yang nyaris mencapai €25 juta per musim dinilai jauh di atas kemampuan anggaran federasi. Namun, pada akhirnya, kejenuhan mental sang pelatih, bukan persoalan angka di atas kertas kontrak, yang menyudahi obrolan ini bahkan sebelum sempat dimulai.
Guardiola tidak menutup kemungkinan untuk mencoba peruntungan melatih tim nasional suatu hari nanti, sebuah ambisi jangka panjang yang pernah ia utarakan sebelumnya. Namun pada usianya yang kini menginjak 56 tahun, perspektif hidupnya telah bergeser. Untuk saat ini, papan taktik miliknya resmi dilipat, dan panggung internasional harus mengantre panjang sementara juru taktik paling diburu di dunia sepakbola ini memilih menikmati perannya sebagai seorang anak dan seorang ayah.