Presiden Inter Milan, Beppe Marotta, menegaskan posisi klubnya di pasar transfer dengan menyatakan bahwa bek andalan Alessandro Bastoni tidak akan dijual pada musim panas ini, sekaligus meredam ambisi raksasa La Liga, Barcelona.  

Berbicara dalam wawancara mendalam bersama DAZN pasca keberhasilan Nerazzurri mengawinkan gelar Scudetto dan Coppa Italia musim ini di bawah asuhan pelatih baru Cristian Chivu, Marotta menekankan bahwa klubnya berada dalam posisi finansial yang sehat dan tidak memiliki urgensi untuk melepas aset terbaiknya. Bagi pria berusia 69 tahun tersebut, fokus Inter kini sepenuhnya tertuju pada peningkatan prestasi di kancah Eropa.  

"Kami Bukan Klub Penjual"

Rumor ketertarikan Barcelona terhadap Bastoni sejatinya telah berembus kencang selama beberapa bulan terakhir. Direktur Olahraga Barcelona, Deco, bahkan dilaporkan sempat terbang ke Milan untuk memantau langsung bek tengah berusia 27 tahun tersebut. Namun, Marotta dengan cepat menutup pintu spekulasi tersebut.  

Baca juga: Inter Milan Juara Coppa Italia usai Taklukkan Lazio, Segel Dua Gelar Musim Ini

"Secara prinsip, Inter bukan klub yang gemar menjual pemain bintangnya. Jika ada pemain yang hengkang, itu murni karena sang pemain sendiri yang meminta untuk dipindahkan," ujar Marotta dengan tegas. 

"Saya harus menegaskan bahwa Bastoni sama sekali tidak pernah menyatakan keinginan untuk pergi. Dia sangat bahagia di sini, kami tidak butuh uang dari penjualannya, jadi dia dipastikan akan tetap bersama kami."  

Marotta menambahkan bahwa Bastoni, bersama dengan kapten Lautaro Martinez dan dinamo lini tengah Nicolo Barella, merupakan bagian dari kerangka inti tak tersentuh yang menjadi fondasi kesuksesan klub saat ini. Tugas trio senior tersebut sekarang adalah menularkan mentalitas juara yang mereka miliki kepada para pemain baru yang akan merapat ke Giuseppe Meazza.  

Baca juga: Puyol Ingatkan Bastoni: "Jadi Bek di Barcelona Itu Tidak Mudah"

Penasaran Trofi Si Kuping Besar

Setelah mendominasi panggung domestik Italia, Marotta tidak menutupi rasa penasarannya terhadap trofi Liga Champions. Sepanjang karier manajerialnya yang legendaris bersama Juventus dan Inter, ia telah merasakan kepahitan kalah di empat partai final kompetisi kasta tertinggi Eropa tersebut.  

"Scudetto sebagai Presiden Inter adalah sebuah mimpi, tetapi di situlah Anda harus mulai merajut mimpi-mimpi baru. Kami ingin menargetkan sesuatu yang sangat spesial di Eropa musim depan," lanjutnya.

Inter mengalami musim yang naik-turun di Liga Champions musim ini, termasuk kekalahan mengejutkan dari FK Bodø/Glimt di fase gugur, setelah pada tahun-tahun sebelumnya sempat dua kali menembus final namun harus mengakui keunggulan Manchester City dan Paris Saint-Germain.  

Baca juga: Marotta Ungkap Alasan Pilih Chivu Dibanding Fabregas Sebagai Pelatih Inter

“Dalam olahraga, Anda harus ambisius tanpa menjadi arogan, jadi kami akan sedikit meningkatkan standar. Liga Champions adalah mimpi karena saya menghormati lawan kami, sebuah tujuan sebagai manajer yang harus menetapkan standar bagi tim,” ucapnya.

“Kami ingin kembali ke Final untuk ketiga kalinya dan mudah-mudahan setelah saya kalah empat kali di Final sepanjang karier saya, para pemain dapat memberi saya hadiah Liga Champions ini. Saya berharap dapat mengangkat trofi itu sebelum saya pensiun.”

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!