Marotta Ungkap Alasan Pilih Chivu Dibanding Fabregas Sebagai Pelatih Inter
Inter Milan sedang dalam suasana pesta. Setelah memastikan gelar Scudetto ke-21 mereka akhir pekan lalu lewat kemenangan atas Parma, Presiden klub Beppe Marotta memberikan kepastian mengenai masa depan pilar pertahanannya sekaligus mengungkap dinamika di balik penunjukan pelatih yang sempat mengundang tanda tanya.
Dalam pernyataannya kepada media di tengah perayaan gelar, Marotta mengonfirmasi bahwa Manuel Akanji akan menetap secara permanen di San Siro. Selain itu, ia memberikan pembelaan emosional atas keputusannya memilih Cristian Chivu sebagai nakhoda tim dibandingkan nama besar lainnya.
Kontrak Permanen untuk Akanji
Manuel Akanji, yang bergabung dari Manchester City dengan status pinjaman pada awal musim, telah resmi menjadi milik Inter sepenuhnya. Marotta menjelaskan bahwa keberhasilan meraih gelar juara liga secara otomatis mengaktifkan klausul pembelian wajib sebesar €15 juta.
Baca juga: Inter Milan Segel Scudetto ke-21 usai Bungkam Parma 2-0 di San Siro
“Saat kami menegosiasikan peminjaman, kami juga menambahkan opsi pembelian selain Scudetto. Kami sangat menghormatinya sebagai pemain dan sebagai pribadi, jadi dia akan terus berada di skuad kami,” kata Marotta.
Akanji, yang tampil dalam 44 pertandingan di semua kompetisi musim ini, dilaporkan akan menandatangani kontrak hingga Juni 2028 dengan gaji berkisar di angka €4 juta per tahun. Transformasinya dari bek sayap kanan menjadi bek tengah sentral di bawah arahan Chivu dianggap sebagai salah satu kunci sukses Inter musim ini.
Chivu Jadi Pilihan di Atas Nama Besar
Bagian yang paling menarik dari pernyataan Marotta adalah ketika ia menyinggung proses pencarian pelatih musim panas lalu untuk menggantikan Simone Inzaghi. Saat itu, nama Cesc Fabregas dari Como menjadi kandidat terkuat yang diinginkan publik.
Baca juga: Dua Kali Catatkan Sejarah, Ini Kata Chivu Usai Segel Scudetto Bersama Inter
“Kami menilai Chivu sebagai orang yang sangat cocok dengan profil tersebut. Seorang pelatih adalah figur penting dan, dengan segala hormat kepada Fabregas, Chivu mewakili kandidat ideal karena dia tahu apa artinya bermain dan menang bersama Inter,” ungkapnya.
“Dia sudah memiliki pengalaman di Serie A dan membawa Parma lolos dari zona degradasi, jadi itulah mengapa kami memilihnya. Memang benar dia tidak memiliki banyak pengalaman melatih, tetapi kami ingin menunjukkan keberanian dengan pilihan ini.
Perjudian untuk merekrut Chivu, yang sebelumnya hanya melatih tim muda Inter dan sempat menangani Parma dalam waktu singkat, terbukti jitu. Chivu kini tercatat sebagai pelatih asing pertama yang memenangkan Serie A sejak Jose Mourinho pada tahun 2010.
Baca juga: Ungkap Alasan di Balik Scudetto Inter, Martinez Tak Sesali Kritik Pedas di Ruang Ganti
Menatap Masa Depan
Meski sukses besar di kancah domestik, Marotta sadar bahwa tantangan berikutnya bagi Chivu dan pasukannya adalah memperbaiki performa di level Eropa setelah tersingkir secara mengejutkan oleh Bodo/Glimt di awal tahun ini.
Dengan permanennya Akanji dan rencana perpanjangan kontrak bagi Chivu, Inter Milan mengirimkan pesan jelas kepada para pesaingnya: proyek ini baru saja dimulai. “Sekarang dia adalah pelatih yang sukses dan dapat bertahan di Inter selama bertahun-tahun,” tegasnya.