Ungkap Alasan di Balik Scudetto Inter, Martinez Tak Sesali Kritik Pedas di Ruang Ganti
Kapten Inter Milan, Lautaro Martínez, memberikan pengakuan jujur di tengah euforia keberhasilan timnya mengunci gelar Serie A ke-21. Usai kemenangan 2-0 atas Parma di San Siro, sang striker menegaskan bahwa keputusan klub mengganti Simone Inzaghi dengan Cristian Chivu adalah langkah krusial yang memang dibutuhkan oleh skuad Nerazzurri.
Meski menghabiskan empat tahun yang sukses di bawah asuhan Inzaghi, Lautaro merasa tim telah mencapai titik jenuh setelah kekalahan menyakitkan 5-0 dari Paris Saint-Germain di final Liga Champions musim lalu.
Penyegaran di Tangan Chivu
Berbicara kepada DAZN Italia, Lautaro menjelaskan bagaimana suasana di Appiano Gentile berubah drastis sejak kedatangan Chivu.
Baca juga: Inter Milan Segel Scudetto ke-21 usai Bungkam Parma 2-0 di San Siro
“Pelatih telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dengan membawa energi dan antusiasme baru, jadi setelah empat tahun yang hebat bersama Simone, mungkin kami membutuhkan perubahan suasana setelah Final Liga Champions itu,” kata Lautaro Martinez.
“Chivu memastikan semua orang merasa terlibat dan bahkan bisa berlatih dengan senyum, itu sangat membantu.”
Chivu kini mencatatkan namanya sebagai pelatih kelima dalam sejarah Inter yang memenangkan Scudetto di musim debutnya, mengikuti menyusul Arpad Weisz (1929/30), Alfredo Foni (1952/53), Giovanni Invernizzi (1970/71), and Jose Mourinho (2008/09).
Tak Ada Penyesalan Atas Kritik Internal
Selain soal pergantian pelatih, Lautaro juga merefleksikan momen ketegangan internal yang sempat pecah setelah tersingkirnya Inter dari Piala Dunia Antarklub musim panas lalu. Kala itu, sebagai kapten, ia secara terbuka mengkritik komitmen rekan-rekan setimnya, termasuk secara spesifik menyebut nama Hakan Çalhanoğlu.
Baca juga: Inter Memanas, Calhanoglu Balas Kritik Tajam Martinez
Ditanya apakah ia menyesali kata-kata kerasnya yang sempat memicu kontroversi tersebut, Lautaro menjawab dengan tegas.
“Apa yang saya katakan saat itu adalah apa yang saya rasakan dan telah saya pendam. Saya tidak merencanakannya, saya hanya melihat beberapa hal yang tidak saya sukai, dan saya mengatakan apa yang saya pikirkan,” tegas Lautaro Martinez.
Ia percaya bahwa kejujuran tersebut justru menjadi katalisator bagi persatuan tim yang baru. “Kami merasa sangat bahagia sekarang. Tidak mudah untuk memulai kembali setelah musim di mana kami kalah di semua kompetisi yang kami ikuti di akhir musim, tetapi saya sangat bahagia hari ini dengan pencapaian ini,” tambahnya.
“Ini adalah tujuan yang sangat penting bagi kami, mungkin banyak yang tidak menganggap kami sebagai favorit mengingat apa yang terjadi musim lalu, tetapi kami bekerja sangat keras di dalam dan di luar lapangan.”
Menatap Gelar Kedua
Kemenangan atas Parma yang diraih lewat gol Marcus Thuram dan Henrikh Mkhitaryan memastikan Inter unggul jauh di puncak klasemen dengan 82 poin. Namun, bagi Lautaro, ambisi Inter tidak berhenti di sini.
Baca juga: Dua Kali Catatkan Sejarah, Ini Kata Chivu Usai Segel Scudetto Bersama Inter
Dengan final Coppa Italia melawan Lazio yang sudah di depan mata pada 13 Mei mendatang, sang kapten mengirim pesan jelas kepada rival-rivalnya: "Masih ada ruang kosong di lemari trofi kami. Itulah mentalitas saya, dan itulah mentalitas Inter."
Inter kini berpeluang mengawinkan gelar liga dengan piala domestik, menegaskan dominasi total mereka di Italia pada musim 2025-26.