Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, memberikan apresiasi tinggi atas perubahan performa anak asuhnya saat menghancurkan AS Roma 5-2 di San Siro. Sempat bermain imbang 1-1 hingga menit ke-40, Nerazzurri mengamuk di babak kedua dengan mencetak tiga gol tambahan yang memastikan kemenangan telak sekaligus memperkokoh posisi mereka di puncak klasemen Serie A.

Chivu menyoroti perubahan drastis pada aspek psikologis dan taktis timnya setelah jeda. Menurut pelatih asal Rumania tersebut, keberanian untuk mendominasi total menjadi kunci utama Inter mampu melumat pertahanan Giallorossi.

Semangat untuk Membunuh Laga

Inter sebenarnya sempat berada dalam tekanan ketika Gianluca Mancini menyamakan kedudukan bagi Roma di akhir babak pertama. Namun, gol Hakan Çalhanoğlu tepat sebelum peluit jeda seolah menjadi katalisator bagi performa luar biasa di 45 menit kedua.

“Itulah yang kami minta saat jeda, untuk memiliki pendekatan yang tepat sejak awal, untuk menyelesaikan pertandingan dan mencetak lebih banyak gol,” kata Chivu.

Baca juga: Scudetto di Depan Mata usai Inter Gilas Roma 5-2

“Anda menyadari apa yang terjadi di lapangan, bahwa ada tanda-tanda kedewasaan dari tim ini. Ada beberapa goyah dalam pertandingan terakhir, ketika kami mencoba untuk berpuas diri dengan hasil dan seharusnya kami tidak melakukan itu.

“Malam ini, kami keluar untuk babak kedua dengan semangat yang tepat, mencoba untuk mendominasi dan mengakhiri pertandingan.”

Chivu menambahkan bahwa instruksinya di ruang ganti sangat jelas: jangan biarkan Roma bernapas. Strategi ini terbukti ampuh ketika Lautaro Martinez dan Marcus Thuram mencetak gol cepat hanya dalam kurun waktu lima menit setelah babak kedua dimulai.

Efektivitas Transisi dan Kembalinya Lautaro

Salah satu perubahan paling mencolok di babak kedua adalah kecepatan transisi Inter dari bertahan ke menyerang. Chivu memuji koneksi antara lini tengah yang digalang Çalhanoğlu dan Barella dengan duet lini depan mereka yang tampil sangat klinis.

“Tidak mudah untuk menekan Roma di lini depan, karena mereka banyak bergerak, mengosongkan lini tengah untuk menyerang dari sayap dengan para bek sayap mereka,” jawab Chivu.

“Kami sedikit khawatir mereka akan memberikan bola kepada Malen, jadi Calhanoglu sedikit mundur dan kesulitan untuk menutup pergerakan Pisilli, yang mengendalikan tempo permainan. Kami menunjukkan lebih banyak keberanian di babak kedua dan menembus lini pertahanan mereka, mengalirkan bola lebih cepat, dan mendorong playmaker kami ke peran yang lebih maju.

“Ketika Anda memberi pemain Roma waktu dan ruang, mereka sangat pandai menemukan ruang dan mengatur serangan untuk striker mereka. Kami meningkatkan tempo permainan, melakukan lebih banyak sprint untuk memperebutkan bola, dan babak kedua berjalan sangat baik.”

Baca juga: Chivu Akui Inter di Bawah Standar usai Takluk dari AC Milan

Scudetto di Depan Mata

Kemenangan lima gol ini membawa Inter unggul sembilan poin dari pesaing terdekat, namun Chivu memperingatkan skuadnya agar tidak terbuai dengan euforia. Dengan sisa tujuh pertandingan di musim 2025-26, ia menuntut konsistensi yang sama seperti yang ditunjukkan di babak kedua kontra Roma.

Selain tiga poin krusial, kemenangan ini juga mengirimkan pesan peringatan kepada seluruh pesaing di Serie A bahwa sang pemuncak klasemen telah menemukan kembali performa terbaiknya di saat yang paling menentukan.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!