AC Milan harus menelan pil pahit di hadapan publik sendiri setelah secara mengejutkan tumbang 1-2 dari tim papan bawah, Cagliari, di Stadio San Siro pada laga pamungkas Serie A, Senin dini hari tadi. Kekalahan tragis ini membuat Rossoneri gagal untuk mengunci posisi empat besar di pekan terakhir kompetisi musim 2025–26.

Dengan terpelesetnya Juventus dan kemenangan Como di pertandingan lain, jalan bagi Rossoneri sebenarnya sangat terbuka lebar: menang di kandang melawan Cagliari, tim yang sudah dipastikan aman dari degradasi, maka posisi empat besar menjadi milik mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya, performa buruk di akhir musim mencapai puncaknya dalam malam yang memilukan di hadapan pendukung sendiri. Milan tertahan di peringkat kelima dengan 70 poin dan harus rela turun kasta ke Liga Europa.

Awal Sempurna yang Sirna

Segalanya sempat terlihat akan berjalan mudah bagi tuan rumah. Laga baru berjalan belum genap 100 detik ketika Milan berhasil memecah kebuntuan. Fikayo Tomori melepaskan umpan panjang lambung andalannya, yang kemudian ditanduk dengan sempurna oleh Santiago Giménez. Alexis Saelemaekers, yang dipilih Allegri masuk dalam starting eleven formasi 3-5-2 menggeser Rafael Leão ke bangku cadangan, membiarkan bola memantul sekali sebelum melepaskan sepakan yang menaklukkan kiper Elia Caprile.

Baca juga: Milan Masuk Empat Besar, Allegri Sebut Tiket Liga Champions Masih Belum Aman

Gol cepat tersebut seharusnya menjadi fondasi, namun alih-alih membangun dominasi, intensitas permainan Milan justru menguap. Cagliari, yang bermain lepas tanpa beban di bawah arahan Davide Pisacane, perlahan tapi pasti mulai bangkit dan memberikan perlawanan.

Sinyal bahaya pertama datang ketika Gianluca Gaetano memaksa Mike Maignan melakukan penyelamatan terbang yang spektakuler untuk menghalau tembakan melengkung yang mengarah ke pojok atas gawang. Dari sepak pojok yang dihasilkan pada menit ke-20, rapuhnya pertahanan Milan akhirnya terekspos. Yerry Mina melompat paling tinggi untuk memenangkan duel udara, dan Gennaro Borrelli bereaksi paling cepat di dalam kotak penalti untuk menyambar bola muntah, sekaligus membungkam publik San Siro.

Milan sempat mendapatkan beberapa peluang untuk mengembalikan keunggulan sebelum turun minum, namun sontekan lemah Christopher Nkunku mengarah tepat ke pelukan Caprile, sementara sundulan Youssouf Fofana masih melenceng dari target.

Petaka Bola Mati

Jika babak pertama ditutup dengan rasa tegang, babak kedua menyajikan kepanikan yang luar biasa. Pada menit ke-57, mimpi buruk Milan dalam mengantisipasi situasi bola mati kembali terjadi. 

Sebuah eksekusi tendangan bebas Cagliari yang terukur berhasil disambut oleh Borrelli, yang sundulan pertamanya sempat ditepis secara heroik oleh Maignan. Sial bagi tuan rumah, lini belakang Rossoneri justru terpaku, membiarkan Juan Rodríguez mengantisipasi bola liar dengan sempurna untuk menceploskan bola lewat sundulan. Cagliari berbalik unggul 2-1.

Demi menyelamatkan musim mereka, Allegri langsung merombak strategi dengan memasukkan sejumlah pemain bertipe menyerang dari bangku cadangan. Luka Modrić, Niclas Füllkrug, dan Christian Pulisic, disusul oleh Rafael Leão beberapa menit kemudian. 

Baca juga: Genoa 1-2 Milan: Rossoneri Selangkah Lagi Amankan Tiket Liga Champions

Pulisic nyaris menyamakan kedudukan lewat sundulan sambil menjatuhkan diri yang sayangnya masih melebar tipis di sisi gawang, sementara Leão memberikan sedikit tusukan dari sisi sayap dengan mengirim umpan kepada Adrien Rabiot, yang tembakannya melambung jauh.

Maignan Menyelamatkan Wajah, Tapi Bukan Musim Milan

Saat Milan mengerahkan seluruh pemain ke depan dalam skema tekanan yang kacau dan tidak terstruktur, mereka meninggalkan lubang menganga di lini pertahanan yang dieksploitasi lewat serangan balik cepat Cagliari. 

Beruntung Milan memiliki Maignan di bawah mistar gawang, yang mengakhiri laga dengan catatan tujuh penyelamatan penting, jika tidak, skor bisa jauh lebih memalukan.

Kiper asal Prancis tersebut melakukan penyelamatan ganda yang luar biasa untuk menggagalkan peluang Borrelli dan Gabriele Zappa, sebelum memenangkan situasi satu lawan satu yang dramatis melawan Paul Mendy di menit-menit akhir laga. Bek tengah Matteo Gabbia juga harus melakukan blok krusial untuk menggagalkan peluang emas Michel Adopo.

Pada akhirnya, keputusasaan Milan tidak membuahkan hasil. Sundulan Füllkrug gagal menemui sasaran, sepakan terakhir Modrić meleset, dan waktu pun habis bagi ambisi Liga Champions Milan.

Menelan tiga kekalahan dari empat laga liga terakhir mereka, kapitulasi di hari terakhir ini mempertegas adanya krisis identitas taktis di dalam internal skuad Milan sepanjang musim. 

Sebaliknya bagi Cagliari, ini adalah kemenangan bersejarah, yang baru merupakan kemenangan kedua mereka dalam 43 pertemuan terakhir melawan Milan, sekaligus hadiah yang pantas bagi tim yang menolak untuk sekadar menjadi pelengkap di San Siro. Bagi Rossoneri, musim panas yang panjang penuh dengan evaluasi mendalam kini telah dimulai.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!