Amukan Spalletti usai Derby: Krisis Mentalitas Juventus dan Kecam Torino
Akhir pekan dramatis yang menutup Serie A musim 2025–2026 mengubur total ambisi Juventus untuk menembus zona Liga Champions. Hasil imbang 2-2 melawan rival sekota, Torino, dalam laga bertajuk Derby della Mole, Minggu malam, resmi melempar Bianconeri ke peringkat keenam dan harus rela bermain di Liga Europa musim depan.
Namun, bukan sekadar hilangnya tiket kompetisi tertinggi Eropa yang menjadi sorotan utama, melainkan amukan luar biasa dari sang arsitek Juventus, Luciano Spalletti, sesaat setelah peluit panjang berbunyi. Mantan pelatih Timnas Italia itu meledak dalam sesi konferensi pers, mempertanyakan mentalitas anak asuhnya sekaligus melempar kecaman keras kepada manajemen Torino.
Juventus Tanpa Karakter
Juventus sebenarnya sempat berada di atas angin. Sepasang gol dari Dušan Vlahović pada menit ke-24 dan 54 sempat membawa Si Nyonya Tua memimpin nyaman 2-0.
Namun, keunggulan itu menguap begitu saja. Gol sundulan Cesare Casadei disusul sambaran bola muntah Che Adams di menit-menit akhir membuyarkan kemenangan Juventus.
Bagi Spalletti, kapitulasi ini adalah bukti sahih dari rapuhnya mentalitas skuad yang ia warisi di pertengahan musim ini.
“Kami memegang kendali permainan; dalam permainan seperti inilah Anda melihat karakter orang dan bagaimana kepribadian mereka sebenarnya. Dalam permainan seperti inilah Anda mencari sesuatu yang lebih. Mendapatkan dua poin lebih atau dua poin kurang bukanlah hal yang sama,” kata Spalletti kepada Sky Sport Italia.
Baca juga: Ditahan Imbang Torino 2-2, Mimpi Liga Champions Juventus Kandas
Pelatih berkepala plontos itu menegaskan bahwa mengenakan jersi hitam-putih menuntut ketangguhan psikologis yang tidak bisa ditawar.
“Saya pikir karakter selalu membuat perbedaan. Terkadang, kepribadian bertemu. Itu adalah sesuatu yang sama pentingnya dengan kekuatan fisik dan teknik. Mentalitas seorang pemain sepak bola tidak boleh berubah melawan tim tertentu. Dia bisa menang atau kalah, tetapi selalu memiliki sikap yang sama,” lanjut Spalletti.
“Setiap orang memiliki keraguan tentang performanya saat turun ke lapangan. Ketika Anda tetap terikat pada keraguan ini, Anda menjadi ragu-ragu, jadi Anda perlu melepaskannya dan membuat keputusan. Itulah solusinya. Setiap orang memiliki keraguan, tetapi keputusan harus dibuat. Jika Anda memiliki terlalu banyak keraguan, Anda tidak memiliki cukup karakter, dan Anda tidak bisa bermain untuk Juventus karena inilah yang membuat perbedaan.”
Pernyataan keras ini seolah menjadi sinyalemen jelas bagi Direktur Olahraga Juventus, Damien Comolli, menjelang bursa transfer musim panas. Spalletti secara terbuka mengakui telah berdiskusi dengan manajemen untuk merombak skuad dan mendatangkan pemain-pemain yang memiliki kepribadian kuat di bawah tekanan.
Spalletti Kecam Torino
Kemarahan Spalletti tidak berhenti pada performa buruk skuadnya. Laga di Stadion Olimpico Grande Torino itu sendiri sempat tertunda selama satu jam akibat bentrokan hebat di luar stadion antara kelompok ultras Juventus dan Torino, yang menyebabkan seorang suporter Bianconeri dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis.
Spalletti mengaitkan ketegangan yang berujung anarki tersebut dengan pesan kontroversial yang dikirimkan oleh pihak Torino kepada para pembeli tiket menjelang laga. Dalam pesan tersebut, manajemen Granata secara implisit memperingatkan bahwa penonton yang mengenakan atribut atau warna yang identik dengan Juventus dilarang masuk ke area tribun tertentu.
Baca juga: Spalletti Pertanyakan Diri Sendiri usai Juventus Terancam Gagal Lolos Liga Champions
Merespons kebijakan tersebut, Spalletti tidak menahan diri untuk melayangkan kritik tajam yang menohok nilai-nilai sportivitas.
“Kita semua menunggu kabar terbaru dari rumah sakit, berharap penggemar ini dapat pulih secepat mungkin,” pungkas Spalletti.
“Namun, jika sehari sebelum pertandingan, pernyataan yang tidak masuk akal melarang mengenakan warna hitam dan putih di tribun, maka masalahnya adalah mereka yang mengatakan beberapa warna harus dikecualikan, karena pada akhirnya, kita merugikan diri sendiri.
“Dengan semua upaya yang kita lakukan untuk meningkatkan sepak bola. Ada ribuan anak-anak malam ini, dan mengatakan kepada seorang anak bahwa dia tidak boleh mengenakan syal hitam-putih adalah hal yang tidak masuk akal, dan kita harus menentang hal ini karena itu tidak benar.”
Kekalahan taktis di lapangan dan kekacauan di luar stadion melengkapi akhir musim yang kelam bagi kubu Turin. Dengan finis di posisi keenam di bawah Como dan AS Roma, Juventus kini menghadapi musim panas yang penuh pergolakan. Satu hal yang pasti: di bawah kendali Luciano Spalletti, badai revolusi mentalitas akan segera terjadi di Continassa.