Hari terakhir Serie A musim 2025–2026 menyajikan drama tingkat tinggi yang akan selalu dikenang dalam sejarah sepak bola Italia. Di saat AC Milan meratapi nasib akibat runtuh di San Siro, dua cerita luar biasa tertulis di tempat lain. AS Roma asuhan Gianiero Gasperini dan Como besutan Cesc Fàbregas sama-sama memetik kemenangan tandang krusial pada pekan ke-38 untuk mengunci tiket ke fase liga Champions League musim depan.  

Bagi sang serigala ibu kota, ini adalah akhir dari dahaga panjang selama tujuh tahun absen dari kompetisi tertinggi antarklub Eropa. Sementara bagi Como, ini adalah dongeng modern yang menjadi kenyataan, sebuah debut bersejarah ke panggung termegah Eropa hanya dalam musim kedua mereka setelah kembali ke kasta tertinggi.

Serigala Ibu Kota Kembali Melolong di Eropa

Bermain di Stadio Marcantonio Bentegodi, AS Roma tahu mereka harus menang demi memastikan nasib berada di tangan sendiri. Menghadapi Hellas Verona yang sudah dipastikan terdegradasi, armada Gasperini justru sempat dibuat frustrasi oleh kokohnya pertahanan tuan rumah di babak pertama.

Baca juga: Brace Mancini Bawa Roma Bekuk Lazio 2-0

Ketegangan baru pecah pada menit ke-56. Roma mendapatkan hadiah penalti, dan Donyell Malen maju sebagai eksekutor. Meski sepakan pertamanya sempat diblok oleh kiper Verona, Lorenzo Montipò, penyerang pinjaman asal Belanda itu bereaksi paling cepat untuk menyambar bola muntah hasil umpan manis Paulo Dybala menjadi gol. Itu adalah gol ke-14 Malen di kompetisi domestik musim ini.  

Unggul satu gol tak membuat laga menjadi mudah, terutama setelah Verona bermain dengan 10 orang yang membuat mereka menumpuk pemain di lini belakang. Namun, ketenangan Giallorossi akhirnya membuahkan hasil di masa injury time babak kedua. Stephan El Shaarawy melepaskan tembakan usai serangan balik cepat yang memastikan kemenangan 2-0. Roma resmi finis di peringkat ketiga dengan 73 poin.  

Dongeng Sempurna Como dan Fabregas

Jika kelolosan Roma adalah tentang kembalinya sang raksasa, keberhasilan Como mengamankan peringkat keempat adalah sebuah mahakarya taktis yang murni. Bertandang ke markas Cremonese di Stadio Giovanni Zini, anak asuh Cesc Fàbregas tampil meledak-ledak dan menggilas tuan rumah dengan skor telak 1-4.  

Anastasios Douvikas menjadi bintang lapangan dengan mencetak gol yang menempatkannya sejajar dengan Malen di daftar elite pencetak gol terbanyak Serie A. Skuad muda Como bermain dengan kombinasi umpan pendek rapat dan transisi mematikan yang menjadi ciri khas filosofi Fàbregas.

Menariknya, laga di Cremona selesai beberapa menit lebih awal dibanding laga AC Milan vs Cagliari. Alhasil, momen emosional pecah di pinggir lapangan saat para pemain dan staf pelatih Como berkumpul melingkari sebuah telepon genggam untuk menyaksikan detik-detik akhir kekalahan Milan di San Siro. 

Baca juga: Fabregas Bangga, tapi Belum Puas usai Bawa Como Segel Tiket Eropa

Begitu peluit panjang di Milano berbunyi, para pemain langsung mengenakan kaos perayaan khusus bertuliskan, "Como si dice Champions?"—sebuah frasa campuran Italia-Spanyol yang berarti, "Bagaimana cara mengucapkan Champions League?".  

"Ini adalah mahakarya dari seluruh skuad: bagaimana mereka percaya, bagaimana mereka menghormati semua pekerjaan yang ingin kami lakukan, mereka mendengarkan, mereka ingin meningkatkan level lebih jauh ketika memang harus ditingkatkan," kata Fabregas kepada DAZN.

Dengan hasil ini, Italia akan diwakili oleh Internazionale, Napoli, AS Roma, dan Como 1907 di Champions League musim depan. Dua kisah hebat dari dua kota yang berbeda, satu tim yang berhasil merebut kembali takhtanya, dan satu tim kecil dari tepi danau yang siap mengguncang Eropa.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!