Pelatih kepala Liverpool, Andoni Iraola, secara terbuka mengalihkan fokus evaluasi kepada barisan penyerangnya usai penampilan tidak memuaskan saat ditahan imbang tanpa gol oleh Fulham di Anfield. Iraola menegaskan bahwa para pemain depan wajib memberi kontribusi bertahan yang lebih besar agar sistem permainan yang ia usung dapat berjalan efektif.  

Hasil imbang 0-0 tersebut menandai hasil seri ketiga bagi The Reds dari empat laga awal Premier League musim ini. Kendati sorotan publik sempat tertuju pada duet gelandang tengah Ryan Gravenberch dan Dominik Szoboszlai yang kesulitan memenangi duel, Iraola menilai akar permasalahan sebenarnya bermula dari kelonggaran pressing di garis terdepan.  

Teguran untuk Para Penyerang Mahal

Iraola menurunkan kuartet lini depan bernilai fantastis yang diisi Alexander Isak, Bradley Barcola, Florian Wirtz, dan Víctor Muñoz. Namun, intensitas tekanan yang dihasilkan barisan serang tersebut dinilai jauh di bawah standar yang diharapkan untuk membongkar pertahanan lawan.  

"Ini bukan sekadar soal para gelandang," kata Iraola. "Saat performa kolektif kami bagus, para gelandang pun terlihat jauh lebih baik dan lebih sering merebut kembali bola. Mereka bermain lebih baik bukan semata-mata karena mereka memenangkan duel, melainkan karena kami lebih banyak membantu mereka memenangkan duel-duel tersebut.

Baca juga: Liverpool 2-1 Atletico Madrid: Mac Allister Lengkapi Comeback The Reds

"Jika para pemain depan menjalankan tugasnya dengan sangat baik, maka pemain bertahan dan gelandang pun akan terlihat bagus. Jika kami membiarkan mereka terus-menerus menghadapi situasi satu lawan satu tanpa bermain agresif, maka pemain bertahan kami pun akan kesulitan. Jika pemain di depan Anda menjalankan tugasnya, Anda akan terlihat sebagai gelandang atau bek yang lebih baik karena Anda memenangkan duel dengan lebih mudah dan memiliki peluang lebih besar untuk memenangkannya. Ini lebih merupakan upaya kolektif.

"Ini bukan soal mengganti pemain satu dengan pemain lainnya. Itulah bentuk bantuan yang harus kami berikan kepada pemain bertahan dan gelandang kami agar semua orang terlihat lebih baik, lebih cerdas, dan berada di posisi yang lebih menguntungkan."

Efek Domino pada Pertahanan dan Transisi

Mantan manajer Bournemouth itu menjelaskan bahwa kegagalan penyerang dalam menerapkan tekanan awal membuat Liverpool terpaksa merebut bola di area yang sangat dalam di lapangan. Kondisi ini menghambat alur serangan balik cepat yang menjadi senjata utama dalam skema taktiknya.

“Dibandingkan dengan pertandingan-pertandingan sebelumnya, kami merebut kembali penguasaan bola jauh di area permainan kami sendiri. Kami tidak banyak kebobolan, dan satu-satunya peluang besar yang kami berikan kepada lawan adalah akibat kesalahan kami sendiri saat melakukan tendangan gawang,” tambahnya.

Baca juga: Mac Allister Akui Sedih Tak Ditawari Kontrak Baru dan Nyaris Hengkang dari Liverpool

“Namun, kami selalu merebut bola di posisi yang sangat rendah, dan ketika itu terjadi, Anda harus menyerang menghadapi 11 pemain lawan; hal itu membuat upaya untuk menciptakan pembeda menjadi lebih sulit.”

Evaluasi Jelang Laga Berikutnya

Iraola mengisyaratkan bakal melakukan perubahan komposisi pemain saat menjamu Tottenham Hotspur di ajang Carabao Cup. Rotasi di lini depan dipastikan terjadi guna memberikan kesegaran fisik serta menanamkan kembali kedisiplinan taktis yang dibutuhkan tim.

Bagi Iraola, perbaikan intensitas pressing lini depan menjadi harga mati jika Liverpool ingin kembali ke jalur kemenangan. Sang manajer menuntut komitmen kolektif penuh dari seluruh penggawa lini serang demi menjaga momentum bersaing di papan atas musim ini.  

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!