Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, memberikan pandangan filosofis usai timnya memenangi laga spektakuler 5-3 atas Udinese di Stadio Giuseppe Meazza. Juru taktik asal Rumania tersebut menegaskan bahwa pertandingan penuh kejar-kejaran gol merupakan bentuk risiko yang tidak terhindarkan dalam sepak bola modern, seraya menekankan bahwa tidak ada satu pun tim di dunia yang tampil sempurna tanpa cela.
Inter sempat membuat para pendukungnya ketar-ketir setelah tertinggal dua gol lebih dulu dalam 16 menit awal laga akibat gol James Abankwah dan Jürgen Ekkelenkamp. Namun, Nerazzurri memperlihatkan karakter pantang menyerah untuk membalikkan keadaan lewat torehan Carlos Augusto, Nicolò Barella, Marcus Thuram, Francesco Pio Esposito, dan Ange-Yoan Bonny, sebelum Udinese memperkecil kedudukan di menit akhir melalui Idrissa Gueye.
Berbicara dalam konferensi pers usai laga, Chivu tidak menutupi kecemasannya saat Inter berada dalam posisi tertinggal. Meski demikian, ia menikmati keberanian timnya untuk terus tampil menyerang dan mengambil risiko taktis demi mengontrol permainan.
"Jika saya bilang tidak khawatir, berarti saya bukan seorang pelatih. Namun inilah sepak bola modern; intensitasnya sangat tinggi, lawan berani meladeni permainan terbuka, dan saya menyukai gaya bermain seperti ini, meskipun itu berarti harus mengambil risiko," ujar Chivu.
Baca juga: Inter Milan 5-3 Udinese: Nerazzurri Bangkit dari Ketertinggalan Dua Gol
Ia menambahkan bahwa dalam era kompetisi saat ini, dorongan untuk menekan lawan setinggi mungkin selalu menyisakan celah transisi yang bisa dimanfaatkan lawan yang jeli.
“Saya sangat menyukai gol penyama kedudukan menjadi 2-2 yang bermula dari keberhasilan merebut kembali bola dengan cepat. Kami tidak sempurna; kami sadar masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan ada aspek-aspek yang perlu kami perbaiki,” tambahnya.
Kemenangan dramatis ini menjadi kali kedua secara beruntun bagi Inter membalikkan keadaan setelah sempat tertinggal dua gol terlebih dahulu di kasta domestik.
Ditanya mengenai kerapuhan lini pertahanan yang kebobolan tiga gol di kandang sendiri, mantan bek Inter tersebut merespons dengan santai dan realistis.
“Sebagai pemain maupun pelatih, saya belum pernah melihat tim sepak bola yang sempurna,” jelasnya. “Kita harus berusaha memberikan yang terbaik dan mempertahankan identitas kita, demi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita pegang, baik dari segi taktis maupun sisi kemanusiaan.
Baca juga: Lautaro Martínez Ungkap Liga Champions Target Nyata Inter Milan
“Seperti inilah gaya yang saya sukai; namun, ada kalanya pendekatan ini berjalan lebih efektif dibandingkan di pertandingan lain—begitulah hakikat olahraga ini.”
“Menemukan keseimbangan yang tepat adalah kuncinya, melakukan hal-hal tertentu tanpa menghilangkan identitas kelompok ini. Beberapa pemain tidak menjalani pramusim secara penuh dan perlu mengembalikan kebugaran; kami berusaha memainkan mereka semua untuk mendukung proses tersebut. Kami menyadari risiko yang ada dalam langkah ini.”
Tambahan tiga poin dari laga sengit ini membawa Inter menempel ketat AS Roma di papan atas klasemen sementara Serie A dengan koleksi 12 poin. Hasil ini juga menjadi penawar dahaga yang sangat krusial bagi skuad Nerazzurri untuk mengembalikan kepercayaan diri usai kekalahan dari Real Madrid di ajang Liga Champions pertengahan pekan lalu.
Chivu menegaskan bahwa evaluasi pertahanan akan terus dilakukan menjelang bentrokan krusial kontra AS Roma sebelum jeda internasional. Pelatih berusia 45 tahun itu optimistis bahwa seiring berjalannya waktu, keseimbangan antara agresivitas penyerangan dan kedisiplinan koordinasi lini belakang Inter akan semakin solid.