Iraola Bidik Lolos Champions League Usai Segel Debut Eropa Bersejarah Bournemouth
Pada Selasa malam di Vitality Stadium yang bergemuruh, Bournemouth meraih hasil imbang 1-1 yang mendebarkan melawan Manchester City. Hasil ini terasa signifikan di kedua ujung klasemen: secara resmi menobatkan Arsenal sebagai juara Premier League, namun yang lebih penting bagi publik Pantai Selatan, hasil ini memastkan tiket kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 127 tahun sejarah klub.
Namun, bagi sang manajer Andoni Iraola, yang menerima standing ovation emosional dalam laga kandang terakhirnya sebelum Marco Rose mengambil alih kemudi musim panas ini, sejarah belum sepenuhnya selesai. Berdiri di ambang sesuatu yang dulunya mustahil, Iraola menegaskan skuadnya bertekad untuk mendorong dongeng ini selangkah lebih jauh: sebuah upaya akhir untuk menembus UEFA Champions League.
"Pada awal musim, Anda bahkan tidak bisa membayangkan hal ini," ujar Iraola kepada Sky Sports. "Ini sangat menyenangkan, dan kami memiliki kesempatan untuk berjuang memperebutkan Liga Champions di pertandingan terakhir.”
"Kami benar-benar pantas mendapatkan ini, terutama untuk pertandingan ini. Kami bermain sangat baik. Kami tidak memenangkan pertandingan, tetapi itu tidak masalah."
Tahan Imbang Manchester City
Keberhasilan historis Bournemouth lolos ke Eropa adalah puncak pencapaian dari evolusi taktik yang luar biasa di bawah asuhan Iraola.
Hasil imbang melawan skuad asuhan Pep Guardiola memperpanjang rekor tak terkalahkan Cherries menjadi 17 pertandingan, rekor tak terkalahkan beruntun terpanjang dari tim mana pun di kasta tertinggi musim ini.
Baca juga: Manchester City Gagal Raih Gelar Premier League usai Ditahan Imbang Bournemouth
Mereka tampil tanpa rasa takut di bawah sorotan lampu stadion, memecah kebuntuan pada menit ke-38 ketika sensasi remaja Eli Junior Kroupi melepaskan tembakan spektakuler dari jarak jauh.
Meski Erling Haaland menyelamatkan satu poin untuk City jauh di masa injury time babak kedua, pembagian poin ini memastikan Bournemouth tidak akan finis lebih rendah dari peringkat ketujuh.
Duduk di peringkat keenam dengan 37 pertandingan yang telah dimainkan, rekor poin baru klub kini berada di depan mata jika mereka terhindar dari kekalahan saat bertandang ke markas Nottingham Forest pada pekan terakhir.
"Saya sangat menikmatinya, bagaimana kami bermain dan kepribadian yang kami tunjukkan. Kami memiliki peluang besar untuk mencetak gol kedua dan kami ingin memenangkan pertandingan, tetapi saya menikmatinya,” tambah Iraola.
"Hari ini merupakan cerminan yang baik dari klub. Saya sangat senang untuk klub, para pemain, pendukung, dan staf.
"Ini adalah cara terbaik untuk mengakhiri karier, dengan sesuatu yang bisa Anda sentuh. Saya tidak bisa meminta lebih dari itu."
Jalur Rumit Menuju Liga Champions
Meskipun tiket Europa League atau Conference League sudah aman di tangan, impian untuk mendengarkan lagu kebangsaan Champions League bergema di Vitality Stadium kini bergantung pada kombinasi hasil eksternal yang cukup rumit.
Untuk mengamankan tiket ke kompetisi elite Eropa tersebut, Bournemouth harus meraih minimal satu poin melawan Forest pada hari Minggu demi mengunci posisi keenam dari kejaran Brighton. Setelah itu, mereka akan menjadi penonton yang paling berdebar.
Pertama, mereka membutuhkan Aston Villa besutan Unai Emery untuk mengalahkan Freiburg dalam final Europa League hari Rabu ini di Istanbul. Jika Villa mengangkat trofi tersebut dan kemudian kalah dari Manchester City pada hari Minggu, sementara Liverpool mengalahkan Brentford, Villa akan turun ke peringkat kelima.
Baca juga: Demi Arsenal Juara, Arteta Jadi Suporter "Terbesar" Bournemouth
Berdasarkan regulasi koefisien UEFA saat ini, efek domino matematis tersebut akan secara spektakuler mengubah finis peringkat keenam milik Bournemouth menjadi tiket emas menuju Champions League.
"Malam ini, kami adalah pendukung berat Aston Villa," aku Iraola.
Satu Laga Terakhir di City Ground
Apa pun yang terjadi di Istanbul atau dalam kick-off serentak pada hari Minggu nanti, warisan dari musim terakhir Iraola di Pantai Selatan sudah terukir dengan tinta emas. Ia telah mengubah Bournemouth dari tim yang sekadar berjuang lolos dari degradasi menjadi skuad Eropa yang modern dan tanpa rasa takut.
Koper-koper sudah dikemas untuk petualangan benua musim gugur mendatang. Namun sebelum Iraola menyerahkan kursi kepelatihan klub, skuad Cherries-nya yang tak kenal lelah dengan high-pressing mereka masih memiliki 90 menit tersisa untuk mengubah musim yang sudah luar biasa ini menjadi abadi.