Vitinha Tegaskan PSG Sama Sekali Tak Diuntungkan atas Arsenal di Final UCL
Gelandang andalan Paris Saint-Germain, Vitinha, menegaskan bahwa status juara bertahan maupun kemenangan atas Arsenal musim lalu sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi timnya. Pernyataan ini dilontarkan sang metronom lini tengah pada Senin waktu setempat, di tengah persiapan intensif PSG jelang laga final UEFA Champions League kontra The Gunners di Budapest, Sabtu ini.
Kedua tim raksasa Eropa ini memiliki sejarah rivalitas yang masih sangat hangat. Pada semifinal kompetisi yang sama musim lalu, PSG sukses mendepak tim asuhan Mikel Arteta dengan keunggulan agregat 3-1, sebelum akhirnya melenggang ke tangga juara setelah melumat Inter Milan di partai puncak. Namun, bagi Vitinha, memori manis di masa lalu tidak akan mengubah fakta bahwa laga di Puskas Arena nanti akan dimulai dari awal dengan tensi yang jauh berbeda.
Sejarah Baru di Depan Mata
Laga final yang akan digelar pada Sabtu, 30 Mei 2026 ini membawa pertaruhan sejarah yang luar biasa bagi kedua belah pihak. PSG, yang baru saja mengamankan gelar ke-14 Ligue 1 di bawah asuhan Luis Enrique, membidik misi besar untuk mempertahankan takhta Eropa sekaligus menyamai rekor Real Madrid sebagai tim yang mampu memenangkan trofi si Kuping Besar dalam dua musim berturut-turut di era modern.
Baca juga: Fabian Ruiz Akui Rindu Napoli di Tengah Persiapan Final UCL Kontra Arsenal
Di kubu seberang, Arsenal datang dengan motivasi yang tidak kalah membara. Tim asal London Utara tersebut baru saja menyudahi dahaga gelar domestik selama 22 tahun dengan merengkuh trofi Premier League pekan lalu. Kini, Bukayo Saka dan kolega mengincar trofi Liga Champions pertama sepanjang sejarah klub untuk mengawinkan gelar tersebut menjadi historic double.
Menanggapi peta kekuatan calon lawannya, Vitinha menunjukkan rasa hormat yang tinggi. Ketika ditanya apakah ia merasa timnya bisa mendapat manfaat dari pengalaman itu, ia mengatakan, ”Saya rasa tidak, final Liga Champions adalah final Liga Champions.
"Pada tahun yang sama, kami bermain melawan mereka tiga kali, di fase liga juga, dan kemudian menyingkirkan [mereka] di semifinal.
"Jadi, saya rasa tidak. Tahun lalu adalah tahun lalu, ini berbeda. Ini hanya satu pertandingan. Itulah final Liga Champions. Kami akan siap. Kami harus siap, dan kami akan siap."
Jalur Berliku Menuju Budapest
Perjalanan kedua tim menuju partai puncak musim ini terbilang sangat kontras. Arsenal melaju mulus sejak fase grup dengan menyapu bersih delapan kemenangan di league phase, sebuah rekor baru dalam sejarah kompetisi, sebelum mendepak Bayer Leverkusen, Sporting CP, dan Atletico Madrid di fase gugur berkat kokohnya dinding pertahanan William Saliba dan Gabriel Magalhaes.
Sebaliknya, sang juara bertahan PSG harus menempuh jalur yang jauh lebih terjal. Setelah hanya finis di peringkat ke-11 pada fase liga, Les Parisiens harus melewati babak play-off yang menegangkan melawan sesama klub Prancis, Monaco.
Baca juga: Enrique Sebut Arsenal Tim Pertahanan Terbaik Jelang UCL Kontra PSG
Namun, mentalitas juara mereka terbukti ampuh di fase krusial: mereka menghancurkan Chelsea dengan agregat 8-2, menyingkirkan Liverpool, hingga akhirnya lolos dari semifinal drama 11 gol (agregat 6-5) melawan Bayern Munich.
"Ini adalah hal terpenting yang saya miliki. Saya selalu bermimpi bermain di final Liga Champions sejak kecil,” tambah Vitinha.
“Tahun lalu kami mendapat kesempatan untuk bermain dan menang. Saat ini, bermain di final Liga Champions kedua dan mampu memenangkannya, akan menjadi mimpi."
Duel Kreativitas di Lini Tengah
Pertempuran di Puskas Arena akhir pekan ini diprediksi akan menjadi panggung adu taktik yang sangat cair. Peran Vitinha sebagai pengatur tempo permainan PSG akan menjadi kunci utama untuk meredam agresivitas lini tengah Arsenal yang dikomandoi oleh Declan Rice dan Martin Zubimendi.
Luis Enrique diprediksi akan menurunkan komposisi terbaiknya di lini depan, mengandalkan kreativitas Khvicha Kvaratskhelia dan ketajaman Ousmane Dembele yang sudah mengoleksi 7 gol di Eropa musim ini.
Dengan kondisi kedua tim yang sedang berada di puncak performa dan baru saja menjuarai kompetisi domestik masing-masing, akhir pekan ini Budapest akan menjadi saksi pertempuran epik antara tim yang ingin membangun dinasti baru dan tim yang ingin menaklukkan Eropa untuk pertama kalinya.