Di tengah gemuruh puluhan ribu pendukung yang memadati Spotify Camp Nou dan selebrasi juara yang liar, Hansi Flick berdiri terpaku. Pelatih asal Jerman itu tampak emosional, matanya berkaca-kaca saat para pemainnya melemparnya ke udara. Bagi Flick, hari Senin (11/5) dini hari WIB kemarin bukan sekadar tentang memenangkan El Clásico atau mengunci gelar La Liga ke-29 bagi Barcelona; itu adalah hari di mana ia harus mengubur duka pribadinya demi kejayaan tim.

Hanya beberapa jam sebelum sepak mula laga krusial melawan Real Madrid, Barcelona mengonfirmasi kabar duka: ayah Hansi Flick telah meninggal dunia. Meski ditawarkan kesempatan untuk segera pulang ke Jerman, Flick memilih tetap berada di klub, memimpin pasukannya meraih kemenangan 2-0 yang memastikan gelar juara liga berturut-turut bagi Blaugrana.

Kemenangan di Tengah Kabar Duka

Dalam konferensi pers pasca-pertandingan yang terasa sangat emosional, Flick mengakui bahwa ini adalah tantangan profesional dan personal terberat dalam kariernya.

Flick menambahkan bahwa para pemain baru mengetahui kabar tersebut sesaat sebelum pertandingan dimulai, yang menurutnya menjadi motivasi tambahan bagi skuad untuk memberikan penampilan tanpa cela.

Baca juga: Bungkam Real Madrid di Camp Nou, Barcelona Segel Gelar Juara La Liga

"Ini hari yang berat," kata Flick. "Semuanya dimulai pagi ini dan, yah, saya tidak akan pernah melupakan hari ini. Pagi ini, ibu saya menelepon dan mengatakan bahwa ayah saya telah meninggal dunia. Jadi saya berpikir: Haruskah saya menyembunyikannya atau haruskah saya berbicara dengan tim saya? Karena bagi saya, ini seperti keluarga.

"Dan saya berkata, 'Oke, saya ingin menyampaikan informasi ini juga kepada para pemain.' Dan apa yang mereka lakukan sungguh luar biasa. Saya tidak akan pernah melupakan momen ini."

"Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang, terima kasih atas segalanya, terima kasih karena telah berjuang dengan sungguh-sungguh," lanjutnya. "Saya sangat menghargai semuanya. Ini seperti keluarga."

Penampilan yang Dominan

Di lapangan, Barcelona tampil seolah-olah mereka sedang menjalankan sebuah misi suci. Marcus Rashford membuka keunggulan di awal babak pertama lewat tendangan bebas yang tak mampu dijangkau Thibaut Courtois, disusul oleh gol penyelesain dari Ferran Torres.

Dominasi lini tengah yang digalang Pedri dan Gavi membuat Real Madrid tak berkutik. Bahkan saat Real Madrid mencoba menekan di babak kedua, koordinasi pertahanan yang diterapkan Flick tetap solid, memastikan clean sheet di malam yang paling bersejarah musim ini.

Baca juga: Arbeloa Sebut Fans Patut Marah usai Real Madrid Saksikan Pesta Barcelona

Warisan Hansi Flick

Dalam keduanya di Spanyol, Flick telah berhasil mengubah Barcelona menjadi mesin pemenang yang efisien dengan dua gelar La Liga beruntun. Gaya bermain menekan tinggi dan transisi cepat yang ia bawa dari Jerman telah mengembalikan identitas juara ke Catalunya.

"Saya belum pernah merasakan [cinta sebesar hari ini]," tambah Flick. "Ini luar biasa."

"Kami ingin memberikan lebih banyak untuk klub ini," lanjutnya. "Kami ingin mencapai level berikutnya. Dan saya tahu semua orang di Barcelona ingin memenangkan Liga Champions. Semoga kita bisa mencapai tujuan ini.

"Inilah yang selalu saya inginkan, berjuang untuk mimpi Anda. Saya pikir kita memiliki lebih banyak mimpi. Ini bagus untuk musim depan."

Saat para pemain Barcelona mengangkat trofi tinggi-tinggi ke langit malam Barcelona, Hansi Flick hanya menatap ke atas, memberikan penghormatan terakhir bagi sosok yang membentuknya menjadi pria seperti sekarang ini.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!