Italia, juara empat kali Piala Dunia dan salah satu tim besar dalam sejarah sepak bola, membuat kejutan pahit bagi penggemarnya ketika gagal lolos ke Piala Dunia 2022 di Qatar. 

Ini adalah kedua kalinya secara beruntun Gli Azzurri absen dari turnamen paling bergengsi itu, setelah sebelumnya juga gagal pada edisi 2018 di Rusia.

Berikut adalah ulasan tentang bagaimana proses kegagalan tersebut terjadi dan faktor-faktor utama di baliknya:

Bagaimana Italia Gagal Lolos?

Italia masuk ke kualifikasi zona UEFA sebagai juara bertahan Euro 2020 (yang digelar pada 2021 akibat pandemi). Mereka tergabung di Grup C bersama Swiss, Irlandia Utara, Bulgaria, dan Lithuania. Banyak yang memperkirakan Italia akan melaju mudah sebagai juara grup, namun kenyataannya berbeda.

Italia hanya finis di posisi kedua grup, kalah bersaing dengan Swiss yang menjadi juara grup.

Dari delapan pertandingan, Italia mencatatkan empat kemenangan dan empat hasil imbang.

Dua kali imbang melawan Swiss dan kegagalan mengalahkan Irlandia Utara di laga terakhir membuat mereka harus menjalani babak play-off.

Pada babak play-off, Italia bertemu Makedonia Utara. Di luar dugaan, Italia kalah 0-1 di kandang sendiri di Palermo pada 24 Maret 2022. Gol Aleksandar Trajkovski di menit ke-92 mengubur harapan Italia untuk tampil di Qatar.

Mengapa Italia Gagal Lolos?

Beberapa faktor utama yang sering disebut sebagai penyebab kegagalan tersebut antara lain:

1. Ketergantungan pada Pemain Senior

Meski juara Euro 2020, sebagian besar skuad Italia masih mengandalkan pemain yang sama saat kualifikasi. Pemain-pemain seperti Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci sudah memasuki usia senja dalam sepak bola, dan serta pemain muda berbakat tidak mendapatkan waktu bermain.

2. Masalah di Lini Depan

Italia kesulitan mencetak gol dalam laga-laga penting. Ciro Immobile, yang tampil tajam di level klub, gagal meneruskan ketajamannya di tim nasional. Selain itu, Italia kekurangan striker kelas dunia seperti yang pernah mereka miliki di masa lalu.

Baca juga: Insigne Bidik Klub Baru dan Panggilan ke Timnas Italia

3. Tekanan Mental dan Rasa Puas Diri

Setelah sukses besar di Euro 2020, tim seolah kehilangan rasa lapar. Beberapa pertandingan kualifikasi melawan tim yang di atas kertas lebih lemah justru berakhir dengan hasil imbang.

4. Kesalahan Taktik dan Pemilihan Pemain

Roberto Mancini tetap mendapat dukungan publik, tetapi beberapa keputusannya dalam hal rotasi dan pilihan starting XI dianggap tidak efektif. Ketergantungan pada formasi dan pemain yang sama terkadang membuat Italia mudah ditebak lawan.

5. Kurangnya Pemain Bintang Baru di Serie A

Serie A saat ini tak lagi menjadi liga yang mendominasi Eropa seperti era 1990-an atau awal 2000-an. Banyak pemain muda Italia sulit mendapatkan kesempatan reguler di klub besar, sehingga berdampak pada kualitas tim nasional.

Reaksi dan Konsekuensi

Kegagalan ini memicu kekecewaan besar di Italia. Namun, berbeda dari 2018, kali ini Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memutuskan mempertahankan Roberto Mancini sebagai pelatih hingga Agustus 2023, berharap ia bisa memimpin regenerasi tim untuk masa depan.

Italia juga dipaksa melakukan evaluasi mendalam terhadap struktur sepak bola nasional, dari pengembangan pemain muda hingga perbaikan sistem liga.

Kesimpulan

Gagalnya Italia lolos ke Piala Dunia 2022 bukanlah hasil dari satu pertandingan saja, melainkan akumulasi dari masalah yang lebih dalam: transisi generasi yang tersendat, kurangnya striker tajam, dan sistem sepak bola nasional yang perlu diperbarui.

Meski begitu, sejarah menunjukkan bahwa Italia selalu mampu bangkit dari krisis. Para penggemar Gli Azzurri kini berharap kebangkitan itu akan terlihat di Piala Dunia berikutnya dan di turnamen-turnamen besar mendatang.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!