Sebuah gerakan tangan kini dikenali di setiap sudut planet ini: seorang wasit menghentikan permainan, melangkah ke tepi lapangan, dan membentuk pola layar televisi imajiner di udara. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, sistem Video Assistant Referee (VAR) telah bertransformasi dari sebuah eksperimen penuh kontroversi menjadi reformasi kepemimpinan laga paling berpengaruh dalam sejarah olahraga si kulit bundar.

Apa yang bermula sebagai gerakan teknologi secara diam-diam di Belanda telah merombak taktik, dinamika selebrasi gol, hingga esensi dari perdebatan sepak bola itu sendiri.

Perlawanan dan Terobosan dari Belanda

Selama berdekade-dekade, sepak bola dunia sangat resisten terhadap peninjauan ulang berbasis video. Ketika olahraga seperti tenis, kriket, dan rugbi merangkul teknologi demi menyelesaikan keputusan-keputusan krusial, FIFA di bawah kepemimpinan Sepp Blatter dengan teguh berpendapat bahwa kesalahan manusia adalah bagian dari daya tarik universal sepak bola. Filosofinya sederhana: permainan yang dimainkan di lapangan tanah di desa terpencil harus dipimpin oleh sepasang mata manusia yang sama persis dengan yang memimpin laga final Liga Champions.

Baca juga: Mengapa Nomor 10 Identik dengan Playmaker?

Namun, rentetan blunder fatal pada turnamen-turnamen besar, yang paling terkenal adalah handball Thierry Henry yang luput dari pengamatan saat melawan Irlandia pada 2009 serta gol Frank Lampard yang dianulir saat bersua Jerman di Piala Dunia 2010, menciptakan dorongan reformasi yang tak lagi bisa dibendung. Siaran beresolusi tinggi dan tayangan ulang instan di ponsel pintar membuat para pendukung di tribun stadion mengetahui kesalahan wasit bahkan sebelum bola kembali ditendang.

Titik balik hadir pada awal dekade 2010-an melalui Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belanda (KNVB). Di bawah inisiatif bertajuk "Refereeing 2.0", para pejabat sepak bola Belanda secara diam-diam menjalankan uji coba sistem peninjauan video secara offline dalam pertandingan-pertandingan Eredivisie. 

Pada 21 September 2016, sejarah resmi tercipta ketika VAR diuji coba secara langsung dalam laga kompetitif senior pada ajang KNVB Beker antara Ajax melawan Willem II. Petugas video di luar lapangan berkomunikasi langsung dengan wasit utama, mengakhiri era ketergantungan mutlak pada penglihatan tunggal manusia.

“Sudah saatnya perdebatan didasarkan pada bukti,” kata David Elleray, mantan wasit Premier League dan sekarang direktur teknik IFAB. “Semua orang setuju bahwa kita perlu melihat apakah ini berhasil dan apakah ini bermanfaat bagi permainan.

“Pengujian awal sengaja akan memiliki fokus terbatas untuk meminimalkan dampak alur dan emosi yang sangat penting bagi sepak bola.”

Debut Global di Piala Dunia 2018

Didorong oleh suksesnya uji coba di KNVB Beker dan Piala Dunia Antarklub FIFA 2016 di Jepang, International Football Association Board (IFAB) secara resmi memasukkan VAR ke dalam Laws of the Game pada Maret 2018. Tiga bulan berselang, sistem ini menghadapi ujian terbesarnya di panggung termegah sepak bola: Piala Dunia FIFA 2018 di Rusia.

Baca juga: Stadion Paling Angker di Dunia

Turnamen tersebut menandai pergeseran seismik. Sepanjang 64 pertandingan di Rusia, VAR meninjau ratusan insiden, mengoreksi penalti krusial, dan menganulir keputusan yang keliru. Turnamen itu dipuji luas karena berhasil menghindarkan sepak bola dari kesalahan perwasitan yang merusak hasil pertandingan, memberikan lampu hijau bagi FIFA untuk menerapkan sistem ini secara global.

Liga-liga domestik segera menyusul secara masif. Bundesliga Jerman dan Serie A Italia memperkenalkan VAR pada musim 2017–18, disusul oleh La Liga Spanyol dan Ligue 1 Prancis pada musim 2018–19. Premier League Inggris mengadopsi teknologi ini pada musim 2019–20, sementara UEFA Champions League mengintegrasikannya mulai babak gugur musim 2018–19.

Gesekan, Kontroversi, dan Offside 

Meski meningkatkan persentase keputusan yang tepat secara drastis, implementasi luas VAR memicu gesekan budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para kritikus menilai bahwa sistem ini merusak keriuhan spontan saat merayakan gol, menggantikan emosi murni dengan kecemasan menunggu hasil peninjauan visual.

Penerapan aturan offside secara ketat menjadi sorotan paling tajam. Garis yang ditarik hingga hitungan milimeter menunjukkan posisi offside hanya karena bagian ketiak, lengan jersey pemain, atau bahkan jari kaki, memicu perdebatan sengit mengenai apakah teknologi tersebut masih menghormati semangat permainan. 

Baca juga: Selebrasi Gol Sepak Bola Terikonik

Durasi peninjauan yang lama serta perbedaan dalam menafsirkan clear and obvious error (kesalahan yang jelas dan nyata) kerap membuat manajer, pemain, dan suporter merasa bingung.

Masa Depan: Offside Semi-Otomatis dan Transparansi

Untuk mengatasi proses peninjauan yang memakan waktu dan melelahkan, otoritas sepak bola kini beralih ke Semi-Automated Offside Technology (SAOT). Menggunakan kamera pelacak khusus di atap stadion dan sensor presisi di dalam bola pertandingan, SAOT menyediakan visualisasi cepat untuk mempercepat pengambilan keputusan.

Hari ini, VAR telah digunakan di ratusan kompetisi di seluruh belahan dunia. Meskipun perdebatan seputar pelanggaran subjektif dan handball tidak akan pernah benar-benar lenyap dari budaya sepak bola, era di mana kesalahan fatal dibiarkan tanpa koreksi sebagian besar telah menjadi kenangan masa lalu. VAR tidak membunuh kontroversi sepak bola; teknologi ini hanya memindahkan perdebatan ke layar monitor yang baru.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!