Cesc Fàbregas tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya, sekaligus sedikit penyesalan, setelah tim asuhannya, Como, menahan imbang raksasa Inter Milan 0-0 pada leg pertama semifinal Coppa Italia di Stadion Giuseppe Sinigaglia.

Meski menghadapi tim yang mendominasi Serie A, pelatih asal Spanyol itu menegaskan bahwa anak asuhnya adalah pihak yang lebih pantas keluar sebagai pemenang. Fàbregas menyoroti bagaimana tim tamu harus mengubah identitas taktis mereka hanya untuk menetralisir kekuatan Lariani.

Pengakuan atas Dominasi Como

Fàbregas tampak emosional saat menganalisis jalannya pertandingan. Baginya, statistik penguasaan bola 51% milik Como dan jumlah tembakan yang lebih banyak menjadi bukti bahwa timnya tidak sekadar numpang lewat di semifinal.

“Hasilnya memang seperti itu. Secara keseluruhan, saya merasa mungkin kami pantas mencetak gol, atau setidaknya lebih dekat untuk mencetak gol,” kata Fabregas kepada Sport Mediaset.

Baca juga: Coppa Italia: Como Tahan Imbang Inter Tanpa Gol

“Ini seperti pertandingan catur, sangat taktis, di mana melawan tim paling dominan di Serie A, kami memainkan permainan yang kami inginkan. Kami solid, memiliki dua atau tiga peluang bagus, dengan Alex Valle di mana tampaknya lebih sulit untuk gagal mencetak gol daripada mencetak gol, tetapi hal-hal seperti ini terjadi.

“Inter telah mendominasi sepak bola Italia dalam lima tahun terakhir, tetapi mereka hanya memiliki satu tembakan ke gawang hari ini. Ini meninggalkan sedikit rasa pahit di mulut kami, karena kami merasa setidaknya kami bisa menang 1-0.”

Fàbregas juga mencatat sebuah kemenangan moral yang signifikan: perubahan taktik radikal yang dilakukan Cristian Chivu. 

“Kami bermain di semifinal Coppa Italia, jadi jika Anda memberi tahu penggemar Como atau bahkan saya sendiri ketika kami masih di Serie B dua tahun lalu, saya ragu ada yang akan mempercayai Anda. Masih ada jalan panjang sebelum leg kedua, kami masih memiliki banyak pertandingan Serie A yang harus dimainkan terlebih dahulu, dan kami harus fokus pada pertandingan-pertandingan tersebut,” tambah Fabregas.

“Saya pikir pertanyaan sebenarnya ditujukan kepada Cristian Chivu, karena Inter datang ke sini dan bermain berbeda dari biasanya. Mereka mendominasi di Serie A, melakukan pressing keras, tidak memberi Anda ruang, dan saya pikir para pemain saya menampilkan performa yang luar biasa hari ini.”

Ambisi Tanpa Batas

Sejak mengambil alih kursi kepelatihan, Fàbregas telah mengubah mentalitas Como dari tim promosi menjadi penantang serius. Hasil imbang melawan Inter ini bukan dianggap sebagai keberuntungan, melainkan buah dari visi jangka panjang yang ia usung.

“Kita bisa terus seperti ini dengan tetap membumi. Saya tidak bisa berbohong bahwa impiannya adalah untuk terus berkembang, dan mungkin ketika kita lebih siap, untuk menantang sesuatu yang lebih besar,” ucapnya.

Baca juga: Chivu Jelaskan Eksperimen Taktik Inter usai Ditahan Imbang Como

“Kita juga tidak boleh melupakan dari mana kita berasal, karena proyek ini baru berjalan dua tahun, dan kita perlahan-lahan meningkatkan standar. Kita akan lihat di mana kita akan berakhir suatu hari nanti.”

Menatap San Siro

Meskipun gagal mencetak gol di kandang, Fàbregas tetap optimis menatap leg kedua yang akan digelar di San Siro pada 22 April mendatang. Ia percaya bahwa tekanan justru berada di pundak Inter yang akan bermain di hadapan pendukungnya sendiri.

Hasil ini memastikan bahwa pertarungan memperebutkan satu tiket ke final Coppa Italia 2025-26 masih sangat terbuka, dengan Como yang kini memegang momentum psikologis.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!