Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, memberikan penjelasan jujur di balik perubahan formasi radikal timnya saat ditahan imbang 0-0 oleh Como pada leg pertama semifinal Coppa Italia, Rabu dini hari WIB.

Absennya sejumlah pilar lini depan, termasuk Lautaro Martínez dan Ange-Yoan Bonny yang cedera, memaksa sang allenatore asal Rumania itu menanggalkan skema klasik 3-5-2 demi sebuah eksperimen yang jarang terlihat di kubu Nerazzurri musim ini.

Perubahan Formasi 3-4-2-1

Dalam laga yang berlangsung di Stadion Giuseppe Sinigaglia tersebut, Inter tampil dengan struktur yang berbeda. Chivu memasang dua gelandang serang di belakang striker tunggal, Francesco Pio Esposito, sebuah langkah yang ia akui sebagai bentuk adaptasi darurat.

Baca juga: Coppa Italia: Como Tahan Imbang Inter Tanpa Gol

“Saya menghadapi beberapa masalah, kami terpaksa melakukan beberapa perubahan. Ini pertama kalinya saya bermain dengan dua gelandang kreatif yang mendukung striker,” ungkap Chivu kepada Sport Mediaset.

“Kami juga mengubah cara bertahan, terutama di separuh lapangan kami sendiri, kami mencoba menyerang mereka secara man-to-man, tetapi agak lambat dengan bek sayap kami yang menutup pergerakan bek kiri mereka. Ada dua striker Como yang bukan striker murni, mundur sedikit, dan menimbulkan masalah bagi kami.”

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Dengan badai cedera yang menghantam lini depan, Chivu merasa tidak punya pilihan selain menumpuk kreativitas di lini tengah untuk menutupi kurangnya daya gedor murni. 

Selain itu, rotasi pemain ini terjadi menjelang laga Serie A hari Minggu ini melawan rival Milan, yang selain Derby della Madonnina juga merupakan pertarungan perebutan Scudetto.

Hasilnya, meski Inter gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran, mereka berhasil menjaga organisasi pertahanan tetap solid.

“Kami memiliki dua striker yang tersedia hari ini, jadi kami memutuskan untuk membagi waktu bermain di antara mereka,” jelas Chivu.

“Kami harus memanfaatkan apa yang kami miliki, dan para pemain berhasil menyadari kesulitan pertandingan ini. Mereka memiliki pendekatan yang tepat, meskipun ini bukan tipe pertandingan Inter yang sebenarnya, dan memang tidak terlalu menghibur untuk ditonton.”

Pujian untuk Komitmen Pemain

Meski eksperimen taktiknya belum membuahkan gol, Chivu tetap mengapresiasi kerja keras para pemainnya yang mampu beradaptasi dalam waktu singkat dengan sistem baru.

“Kami berhasil memahami apa yang perlu kami lakukan, dan beruntung dalam beberapa situasi,” tambah Chivu.

Baca juga: Fàbregas: "Kami Layak Menang," Sebut Inter Terpaksa Ubah Taktik demi Redam Como

“Mengingat kami tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri, bermain setelah 72 jam, para pemain berhasil memahami instruksi dengan cepat dan memberikan yang terbaik, mengetahui bahwa terkadang kami harus menerima permainan penguasaan bola Como.”

Hasil imbang tanpa gol ini dianggap Chivu sebagai modal yang cukup adil untuk dibawa kembali ke Milan, mengingat timnya tampil dalam kondisi pincang. Ia menegaskan bahwa segalanya masih sangat terbuka untuk penentuan di San Siro pada 22 April mendatang.

Menuju Derby della Madonnina

Kekhawatiran kini beralih ke laga besar berikutnya. Inter akan menghadapi AC Milan dalam laga Derby della Madonnina akhir pekan ini, di mana kemenangan bisa semakin memantapkan posisi mereka di puncak klasemen Serie A.

Publik kini menanti apakah Chivu akan kembali ke pakem asli atau justru menyiapkan kejutan taktis lainnya untuk meredam rival sekota mereka.

“Kita punya waktu empat hari sebelum derbi, kita akan lihat siapa yang tersedia, lalu memutuskan apa yang akan dilakukan untuk pertandingan itu,” pungkasnya.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!