Manajer Inggris, Thomas Tuchel, menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa kecewa dengan banyaknya pemain yang menarik diri dari skuad menjelang laga persahabatan melawan Jepang di Stadion Wembley malam ini. Pelatih asal Jerman tersebut justru membela integritas para pemainnya dan menyebut fenomena ini sebagai konsekuensi yang tidak terelakkan dari jadwal kompetisi klub yang sangat padat.

Badai pengunduran diri ini menjadi sorotan tajam setelah delapan pemain senior, termasuk pilar utama seperti Declan Rice dan Bukayo Saka, dipulangkan ke klub masing-masing. Namun, Tuchel menolak narasi yang menyudutkan pemain dan lebih memilih untuk bersikap pragmatis menghadapi realitas kalender sepak bola modern di bulan Maret.

Kekhawatiran Terhadap Pemain

Tuchel mengungkapkan bahwa para pemain yang mengundurkan diri, khususnya duo Arsenal Rice dan Saka, sebenarnya sangat bersemangat untuk tampil membela The Three Lions. 

Namun, hasil penilaian medis menunjukkan adanya risiko cedera yang lebih serius jika mereka dipaksakan bermain.

Baca juga: Delapan Pemain Tinggalkan Kamp Inggris Jelang Hadapi Jepang

Noni Madueke, John Stones, dan Adam Wharton telah dicoret dari skuad sejak hasil imbang 1-1 melawan Uruguay pada pekan lalu. Selain itu, Dominic Calvert-Lewin, Fikayo Tomori, dan Aaron Ramsdale juga dicoret dari skuad Tuchel.

Tuchel menekankan bahwa kelelahan fisik dan mental adalah faktor utama yang harus dikelola dengan bijak demi kepentingan jangka panjang pemain dan tim nasional.

"Kami memiliki pemain di kamp yang sudah bermain lebih banyak menit daripada musim lalu, jadi ada beberapa kekhawatiran," kata Tuchel.

"Para pemain membutuhkan dan pantas mendapatkan istirahat mental dari sepak bola. Kami dapat melihat energi yang mereka tunjukkan saat kembali ke kamp dan untuk terhubung kembali sekarang di lingkungan baru.

"Kami ingin mereka tampil di klub mereka, tetapi kenyataannya ini adalah kamp terakhir kami sebelum kami berangkat ke Amerika, jadi kami ingin terhubung kembali dengan prinsip-prinsip kami.

"Ini mengecewakan tetapi saya tidak marah kepada para pemain. Saya tidak geram."

Realitas Beban Kerja Maret

Mantan pelatih Bayern Munchen dan Chelsea itu menjelaskan bahwa ia sangat memahami tekanan yang dihadapi para pemain yang masih berkompetisi di kancah Eropa dan piala domestik. 

Menurutnya, periode Maret selalu menjadi titik jenuh bagi kondisi fisik pemain profesional.

"Inilah realita akhir musim dan akhir Maret; realita memiliki pemain yang bermain di pertandingan Eropa dan lebih dari satu kompetisi dengan semua piala yang sedang berlangsung,” jelas Tuchel.

Sekali lagi, ia tidak menyesalkan soal para pemain yang mengundurkan dari skuad. Ia menegaskan mereka datang ke kamp timnas dengan semangat dan telah melakukan pemeriksaan medis.

Baca juga: Peluang Kedua White, Tuchel Buka Lembaran Baru untuk Bintang Arsenal

"Saya merasa semua orang sangat ingin datang. Beberapa pemain yang cedera bahkan tetap tinggal untuk menjalani perawatan mereka, itu menunjukkan bahwa mereka ingin berada di sekitar tim. Tidak ada yang langsung pergi, semangatnya bagus dan memang seharusnya seperti itu,” tegasnya.

Panggung bagi Wajah Baru

Meski skuadnya compang-camping, Tuchel melihat situasi ini sebagai berkah tersembunyi untuk menguji kedalaman tim. 

Absennya para bintang utama memberikan kesempatan bagi pemain seperti Elliot Anderson dan bahkan Ben White, yang baru saja kembali dari masa pengasingan, untuk membuktikan kelayakan mereka masuk ke dalam 26 nama final untuk Piala Dunia 2026.

Laga melawan Jepang malam ini akan menjadi simulasi taktis yang berbeda, menghadapi tim yang menurut Tuchel memiliki disiplin dan struktur permainan yang sangat baik. Dengan absennya kapten Harry Kane dari starting XI pada laga sebelumnya, rotasi pemain diprediksi akan kembali terjadi di Wembley malam nanti.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!