Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Hanya ada satu malam dalam siklus empat tahunan di mana planet bumi benar-benar berhenti berputar dan mata seluruh umat manusia tertuju pada satu titik: laga Final Piala Dunia FIFA, Senin (20/7) dini hari WIB nanti, Stadion MetLife di New York-New Jersey bersiap menggelar edisi ke-23 saat Spanyol dan Argentina bentrok demi memperebutkan trofi paling sakral di jagat olahraga.
Menjelang laga akbar di Amerika Utara tersebut, mari kita menengok kembali lembaran sejarah kronologis partai puncak yang telah melahirkan para legenda, menyisakan air mata, dan mendefinisikan keagungan sepak bola global sejak tahun 1930.
Semua drama ini bermula di Montevideo pada tahun 1930, ketika Uruguay mengalahkan tetangga serumpun mereka, Argentina, untuk menjadi raja dunia yang pertama. Era awal ini dipenuhi dengan dongeng-dongeng epik, mulai dari tragedi nasional Brasil yang dikenal sebagai Maracanazo pada tahun 1950, hingga lahirnya bocah ajaib bernama Pelé pada tahun 1958 yang memulai hegemoni emas Seleção.
1930 (Uruguay): Uruguay 4–2 Argentina (Stadion Centenario, Montevideo)
1934 (Italia): Italia 2–1 (a.e.t.) Cekoslowakia (Stadio Nazionale PNF, Roma)
1938 (Prancis): Italia 4–2 Hungaria (Stade Olympique de Colombes, Paris)
1950 (Brasil): Uruguay 2–1 Brasil (Laga penentu grup final) (Stadion Maracanã, Rio de Janeiro)
Baca juga: Negara Mana yang Paling Banyak Juara Piala Dunia?
1954 (Swiss): Jerman Barat 3–2 Hungaria (The Miracle of Bern) (Stadion Wankdorf, Bern)
1958 (Swedia): Brasil 5–2 Swedia (Stadion Råsunda, Solna)
1962 (Cile): Brasil 3–1 Cekoslowakia (Estadio Nacional, Santiago)
1966 (Inggris): Inggris 4–2 (a.e.t.) Jerman Barat (Stadion Wembley, London)
1970 (Meksiko): Brasil 4–1 Italia (Estadio Azteca, Kota Meksiko)
Memasuki dekade 70-an dan 80-an, sepak bola berevolusi secara taktis. Kita menyaksikan Total Football Belanda yang memikat namun harus tumbang di dua final beruntun, era magis Diego Maradona yang berdansa di Meksiko pada 1986, hingga drama adu penalti pertama dalam sejarah final yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 1994.
1974 (Jerman Barat): Jerman Barat 2–1 Belanda (Olympiastadion, Munchen)
1978 (Argentina): Argentina 3–1 (a.e.t.) Belanda (Estadio Monumental, Buenos Aires)
1982 (Spanyol): Italia 3–1 Jerman Barat (Santiago Bernabéu, Madrid)
Baca juga: Siapa Pemain Tertua yang Pernah Mencetak Gol Piala Dunia?
1986 (Meksiko): Argentina 3–2 Jerman Barat (Estadio Azteca, Kota Meksiko)
1990 (Italia): Jerman Barat 1–0 Argentina (Stadio Olimpico, Roma)
1994 (Amerika Serikat): Brasil 0–0 (3–2 p.) Italia (Rose Bowl, Pasadena)
1998 (Prancis): Prancis 3–0 Brasil (Stade de France, Saint-Denis)
2002 (Korea/Jepang): Brasil 2–0 Jerman (Stadion Internasional, Yokohama)
Abad ke-21 membawa persaingan ke tingkat intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dominasi total Eropa sempat tercipta melalui empat edisi beruntun (2006-2018), sebelum akhirnya dipecahkan oleh salah satu final terbaik sepanjang masa di Lusail, Qatar, di mana Lionel Messi mengukuhkan statusnya sebagai yang terbaik di dunia melalui drama enam gol yang menegangkan.
2006 (Jerman): Italia 1–1 (5–3 p.) Prancis (Olympiastadion, Berlin)
2010 (Afrika Selatan): Spanyol 1–0 (a.e.t.) Belanda (Soccer City, Johannesburg)
Baca juga: Siapa Pemenang di Piala Dunia 2010?
2014 (Brasil): Jerman 1–0 (a.e.t.) Argentina (Stadion Maracanã, Rio de Janeiro)
2018 (Rusia): Prancis 4–2 Kroasia (Stadion Luzhniki, Moskow)
2022 (Qatar): Argentina 3–3 (4–2 p.) Prancis (Stadion Ikonik Lusail, Lusail)
Hingga saat ini, Brasil masih memimpin takhta kolektor bintang terbanyak dengan 5 trofi, diikuti oleh Italia dan Jerman dengan masing-masing 4 gelar. Siapa pun yang keluar sebagai pemenang di New York akhir pekan ini, nama mereka akan dipahat abadi dalam barisan sejarah elit yang telah tertulis selama hampir satu abad ini.