Kamu bisa masuk kembali kapan saja.
Semua data dan riwayat kamu akan terhapus secara permanen.
Pelatih kepala tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, secara tegas menyatakan komitmen penuhnya untuk tetap menukik taktik The Three Lions hingga Euro 2028 mendatang.
Pernyataan ini ia lontarkan langsung guna meredam segala spekulasi mengenai masa depannya pasca-kekalahan menyakitkan 2-1 dari Argentina di babak semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Mercedes-Benz.
Ditanya secara lugas setelah pertandingan apakah dirinya masih memiliki ambisi dan rasa lapar untuk memimpin Inggris di turnamen Piala Eropa yang akan digelar di rumah sendiri, juru taktik asal Jerman tersebut tidak ragu sedikit pun. "100 persen," tegas Tuchel. "Masih banyak hal yang harus kami tingkatkan, dan saya sangat siap untuk melakukan itu. Saya menikmati setiap hari di Piala Dunia ini. Kami hanya perlu melangkah ke level berikutnya demi meraih trofi utama."
Pernyataan berani Tuchel ini muncul di tengah gelombang kritik tajam yang mengarah kepadanya. Mantan pelatih Chelsea dan Bayern Munich itu menjadi sasaran empuk pundit sepak bola Inggris setelah keputusan taktisnya di babak kedua kontra Argentina dinilai blunder fatal.
Baca juga: Tuchel Salahkan DNA Sepak Bola Inggris Usai Disingkirkan Argentina
Setelah Inggris unggul lebih dulu lewat gol Anthony Gordon, Tuchel memilih menarik keluar sang pencetak gol pada menit ke-72 dan memasukkan Ezri Konsa demi mengubah formasi menjadi lima bek yang sangat defensif.
Keputusan reaktif tersebut membuat Inggris kehilangan kendali permainan dan sepanjang periode setelah gol Gordon hingga gol penentu Lautaro Martinez, statistik mencatat Inggris hanya memegang 12 persen penguasaan bola, sebuah angka yang sangat mengenaskan untuk tim yang berambisi menjadi juara dunia.
Meski dihujani kritik dari mantan pemain seperti Wayne Rooney yang menyebut strateginya "terlalu pasif", Tuchel tetap membela struktur formasinya. Ia justru menyoroti adanya masalah psikologis dan kecemasan mendalam yang mendadak melumpuhkan kreativitas anak asuhnya di bawah tekanan laga besar.
Tuchel mengakui ada jurang pemisah yang besar antara performa apik yang ditunjukkan para pemain Inggris saat sesi latihan dengan ketakutan yang muncul saat pertandingan hidup-mati di turnamen resmi. Memperbaiki mentalitas inilah yang menjadi tugas utama Tuchel selanjutnya.
“Setelah pertandingan melawan Norwegia, saya mengatakan bahwa saya melihat adanya ketidaksesuaian antara apa yang saya lihat dalam latihan di level sepak bola, dan dalam pertandingan,” jelas Tuchel.
Baca juga: Neville Ogah Ikut-Ikutan Hujat Tuchel Usai Inggris Tersingkir dari Piala Dunia
“Saya pikir kita bisa lebih mendominasi penguasaan bola. Saya masih berpikir kita bisa menunjukkan betapa bagusnya kita sebagai pemain sepak bola. Saya pikir itu masih ada dalam diri kita, seperti yang saya lihat dalam latihan dan di setiap kamp pelatihan. Dan di sini juga di Piala Dunia. Saya masih merasa ada level tambahan yang perlu kita taklukkan dan perlu kita tingkatkan ke level berikutnya untuk mendapatkan hadiah besar.”
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) sendiri dipastikan tidak akan mengambil tindakan gegabah. Otoritas tertinggi sepak bola Inggris tersebut bahkan telah memperpanjang kontrak Tuchel hingga akhir Euro 2028 sejak Februari lalu, sebuah langkah terencana untuk mengamankan stabilitas tim. Chief Executive FA, Mark Bullingham, juga menegaskan bahwa posisi Tuchel tetap aman dan mendapatkan dukungan penuh untuk memimpin masa transisi tim.
Sebelum proyek Euro 2028 resmi dimulai, Inggris harus lebih dulu menyelesaikan laga hiburan perebutan tempat ketiga melawan Prancis di Miami. Namun bagi Tuchel, fokus utamanya sudah beralih pada rencana jangka panjang demi membawa sepak bola Inggris berbuka puasa gelar di Stadion Wembley dua tahun lagi.