Spalletti Pertanyakan Diri Sendiri usai Juventus Terancam Gagal Lolos Liga Champions
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, secara jantan mengakui bahwa dirinya harus mulai mempertanyakan kelayakannya sendiri setelah Si Nyonya Tua menelan kekalahan memalukan 2-0 di kandang sendiri dari Fiorentina, Minggu lalu.
Hasil minor ini menjadi pukulan telak yang sangat fatal. Kekalahan di hadapan publik Turin ini melempar Juventus keluar dari zona empat besar, membuat mereka kini tertinggal dua poin dari zona Liga Champions dengan hanya menyisakan satu pertandingan lagi di pekan pamungkas Serie A.
Bagi klub sebesar Juventus, absen dari kompetisi kasta tertinggi Eropa untuk musim depan adalah sebuah bencana finansial dan reputasi yang tidak boleh terjadi. Namun, melihat performa tanpa arah yang ditunjukkan skuadnya semalam, Spalletti sadar betul bahwa badai kritik yang mengarah kepadanya sangatlah beralasan.
Evaluasi Diri Spalletti
Berbicara kepada media di Allianz Stadium, Spalletti yang tampak lesu tidak mencari-cari alasan terkait performa anak asuhnya maupun keputusan taktis yang ia ambil.
Baca juga: Menyerah 0-2 Lawan Fiorentina, Juventus Terlempar dari Empat Besar
"Performa kami buruk dalam banyak aspek," aku Spalletti jujur. "Pertama-tama, saya harus mempertanyakan diri saya sendiri, bukan para pemain. Seperti yang saya katakan kepada mereka hari ini, jika ini adalah performa maksimal yang bisa diberikan tim, maka saya harus mengevaluasi sebagian besar dari apa yang telah saya kerjakan sebelum menganalisis apa yang mereka lakukan di lapangan."
Introspeksi dari sang taktis veteran ini menunjukkan besarnya krisis yang sedang melanda klub. Juventus kesulitan mendikte permainan, kalah dalam duel-duel individu, dan membiarkan Fiorentina yang disiplin mengatur ritme laga. Meski mendominasi penguasaan bola, Juventus hanya bisa meratapi ambisi Eropa mereka yang perlahan memudar sepanjang pertandingan.
Dibekuk Fiorentina
Cetak biru taktis yang disiapkan Spalletti hancur berantakan oleh serangan balik cepat dan tajam dari La Viola. Statistik pertandingan menceritakan sebuah kenyataan yang pahit: gawang Juventus bobol lewat tembakan tepat sasaran pertama Fiorentina, sebuah mimpi buruk yang terus berulang bagi lini pertahanan Bianconeri musim ini.
Cher Ndour membungkam publik tuan rumah, memanfaatkan kelengahan lini belakang untuk menaklukkan Michele Di Gregorio. Alih-alih mencetak gol penyeimbang, Juventus justru menerima pukulan telak. Rolando Mandragora melepaskan tembakan indah yang menggandakan keunggulan Fiorentina menjadi 2-0, sekaligus memicu eksodus massal pendukung tuan rumah sebelum laga usai.
Baca juga: Vlahovic Penyelamat, Juventus Ditahan Imbang Tim Degradasi Verona
Meski Kenan Yıldız berulang kali mengancam dengan melepaskan empat tembakan, penampilan gemilang David de Gea di bawah mistar gawang Fiorentina lewat sembilan penyelamatan krusial membuat Juventus frustrasi dan gagal menyelamatkan poin.
Satu Laga Tersisa Demi Menyelamatkan Musim
Secara matematis, situasinya kini menjadi sangat sederhana namun mengerikan bagi Spalletti. Tertahan dengan raihan 68 poin, nasib Juventus kini tidak lagi berada di tangan mereka sendiri.
Untuk bisa merebut tiket Liga Champions di pekan pamungkas, Juventus wajib memenangkan laga tandang berintensitas tinggi dalam duel Derby della Mole melawan Torino di Stadion Olimpico Grande Torino. Mereka harus menang, sambil berharap tim-tim di atas mereka terpeleset.
Jika gagal, evaluasi yang dibicarakan Spalletti tidak akan lagi dilakukan oleh dirinya sendiri, melainkan oleh jajaran direksi Juventus yang selalu menuntut kesuksesan dan tidak akan menoleransi bencana finansial akibat absen dari panggung tertinggi Eropa.