Postecoglou Yakin Bisa Bangkit Meski Babak Belur di Premier League
Mantan manajer Tottenham Hotspur dan Nottingham Forest, Ange Postecoglou, menegaskan bahwa ambisinya di dunia sepak bola belum padam meski baru saja melewati periode tersulit dalam karier manajerialnya.
Berbicara dalam wawancara eksklusif dengan radio SEN Australia, pelatih berusia 60 tahun itu menyatakan dengan penuh percaya diri bahwa dirinya masih bisa memberikan yang terbaik.
Pernyataan ini muncul di tengah masa vakumnya setelah dipecat oleh Nottingham Forest pada Oktober 2025 lalu, hanya dalam waktu 39 hari setelah menjabat.
Pukulan di Premier League
Tahun 2025 menjadi tahun yang penuh dinamika bagi sang pelatih. Ia berhasil mengukir sejarah bersama Tottenham Hotspur dengan menjuarai Liga Europa pada Mei 2025, mengakhiri dahaga trofi selama 17 tahun bagi klub London Utara itu.
Baca juga: Ange Postecoglou Bongkar Borok Tottenham Usai Pemecatan Thomas Frank
Namun, ironisnya, ia dipecat hanya dua minggu kemudian setelah performa buruk di Premier League yang membuat Spurs terpuruk di posisi ke-17.
Petualangan singkatnya di Nottingham Forest bahkan lebih brutal. Menggantikan Nuno Espirito Santo, Postecoglou gagal meraih satu pun kemenangan dalam delapan laga, yang berujung pada pemecatannya sesaat setelah kekalahan 3-0 dari Chelsea.
"Anda tidak bisa selalu terbang tinggi dan sukses. Terkadang Anda perlu menerima beberapa pukulan,” kata Postecoglou.
"Itu tidak berhasil. Itu mungkin merusak reputasi saya, mungkin di sini di EPL, tetapi saya tidak khawatir tentang itu.
"Itu tidak meninggalkan bekas apa pun pada saya sebagai pribadi atau manajer sepak bola. Malahan, itu membuat saya tahu bahwa lain kali, saya akan mencari nasihat sebelum mengambil risiko yang terlalu besar."
Mengubah Skeptisisme Menjadi Energi
Sepanjang kariernya, dari Australia hingga Skotlandia, Postecoglou selalu datang ke klub baru dengan iringan nada skeptis. Ia mengaku justru merindukan tantangan untuk membuktikan orang-orang salah.
"Saya masih ingin memenangkan sesuatu. Saya masih memiliki dorongan dan semangat untuk meraih prestasi, itu tidak berubah," tambah Postecoglou.
Baca juga: Pochettino Akui Rindu Inggris, Sinyal Kembali ke Premier League Menguat
"Ke mana pun saya pergi, akan ada banyak skeptisisme. Saya tahu apa pun yang akan terjadi, saya memiliki keyakinan dalam pikiran saya bahwa ini akan menjadi yang terbaik yang pernah saya lakukan... pengalaman baru-baru ini, mungkin saya membutuhkannya."
Rasa Sakit Melihat Mantan Klub Berjuang
Di saat ia mempersiapkan langkah berikutnya, Postecoglou mengakui bahwa ia merasa tidak nyaman melihat dua mantan klubnya, Tottenham dan Forest, kini terjebak dalam zona merah degradasi. Spurs saat ini berada di peringkat ke-17, hanya unggul satu poin dari zona maut.
Pria asal Australia itu mengakui bahwa ia menonton pertandingan dua mantan timnya tersebut pada akhir pekan yang berakhir dengan kemenangan 3-0 untuk Forest di London utara.
“Saya memang menontonnya – saya masih sangat terlibat – terutama di Spurs karena para pemain dan beberapa staf di sana,” katanya lebih lanjut.
“Kami bersama selama dua tahun, Anda selalu memiliki ikatan itu. Jika Anda memberi tahu saya pada Mei tahun lalu bahwa ini akan menjadi skenario menonton dua tim yang pernah saya latih dalam setahun terakhir, saya akan mengatakan 'tidak, itu di luar kemungkinan'.
“Saya menontonnya. Itu tontonan yang tidak nyaman, saya tidak menikmatinya, itu sudah pasti.”
Gambaran Masa Depan
Meskipun belum mengungkapkan klub mana yang akan menjadi pelabuhan berikutnya, pria kelahiran Athena ini mengisyaratkan bahwa ia sudah memiliki gambaran.
Pelajaran terbesar yang ia ambil dari kegagalan di Forest adalah pentingnya keselarasan visi dengan manajemen klub sebelum menerima pekerjaan.
“Saya masih merasa bahwa apa yang saya lakukan masih memiliki dampak di level ini. Saya belum selesai. Masih ada beberapa hal yang harus dilakukan,” tegasnya.
Dengan rekam jejaknya yang mampu membangun tim dengan identitas menyerang yang kuat, dunia sepak bola kini menanti di mana "Ange-ball" akan kembali dipentaskan. Apakah ia akan tetap di Eropa, atau mencari tantangan baru di belahan dunia lain? Satu yang pasti, semangat juang sang pelatih masih menyala terang.