Legenda hidup Manchester United, Gary Neville, melontarkan kritik tajam kepada jajaran direksi klub dan menuntut dihentikannya segala bentuk eksperimen manajerial menyusul pemecatan Ruben Amorim pada Senin kemarin.

Pelatih asal Portugal itu didepak dari kursinya setelah hanya 14 bulan bertugas. Masa jabatannya berakhir tragis hanya beberapa jam setelah konferensi pers panas pasca-hasil imbang 1-1 melawan Leeds United, di mana Amorim secara terbuka menyerang departemen pemandu bakat dan kepemimpinan klub.

Berbicara kepada Sky Sports, Neville menegaskan bahwa meskipun waktu pemecatan ini mengejutkan, kegagalan Amorim sudah terlihat akibat benturan antara sistem 3-4-3 yang kaku dengan ekspektasi tradisional di Old Trafford.

DNA Klub di Atas Segalanya

Neville, yang merengkuh delapan gelar Premier League di bawah asuhan Sir Alex Ferguson, menyatakan bahwa United telah kehilangan jati diri karena terus mempekerjakan manajer yang mencoba memaksakan filosofi asing ke dalam skuad.

"Eksperimen ini harus dihentikan," tegas Neville. "Manchester United harus menunjuk manajer yang sesuai dengan DNA klub mereka. Ajax tidak akan pernah berubah untuk siapa pun, Barcelona tidak akan pernah berubah untuk siapa pun. Saya tidak percaya Manchester United harus berubah untuk siapa pun."

Baca juga: Era Ruben Amorim di Man Utd: Antara Sihir di Anfield dan Tragedi Grimsby Town

"Klub harus mencari manajer sekarang yang berpengalaman, yang bersedia memainkan sepak bola cepat, menghibur, menyerang, dan agresif."

Mantan kapten Setan Merah ini mengaku heran melihat kegagalan tim dalam beradaptasi dengan formasi tiga bek ala Amorim. Di bawah kendalinya, United hanya mencatatkan persentase kemenangan sebesar 32%, angka terendah bagi manajer permanen mana pun di era pasca-Ferguson.

Keretakan di Ruang Direksi

Laporan internal menunjukkan bahwa hubungan antara Amorim dan Direktur Olahraga, Jason Wilcox, mencapai titik nadir pekan lalu. Ketegangan memuncak setelah hasil imbang memalukan melawan Wolves di kandang, di mana manajemen kabarnya mendesak Amorim untuk lebih fleksibel secara taktik.

Sikap menantang Amorim, yang menegaskan bahwa dirinya datang sebagai "manajer" dengan otoritas penuh, bukan sekadar "pelatih kepala" yang bisa didikte, akhirnya membuat posisinya tidak lagi bisa dipertahankan. Pelatih berusia 40 tahun itu meninggalkan United di posisi keenam klasemen sementara Liga Inggris.

Baca juga: Kronik Kegagalan Manchester United Mencari "The Next Fergie"

Langkah Selanjutnya

Saat ini, Darren Fletcher telah ditunjuk sebagai pelatih interim dan diperkirakan akan memimpin tim dalam laga tandang melawan Burnley pada hari Rabu. Meskipun Fletcher membawa aura familiar, tekanan besar kini berada di pundak INEOS dan CEO Omar Berrada untuk mencari suksesor permanen.

Beberapa nama seperti Oliver Glasner dan mantan pelatih timnas Inggris, Gareth Southgate, mulai muncul di bursa taruhan. Namun bagi Neville, profil lebih penting daripada sekadar nama besar.

"Louis van Gaal memiliki filosofinya sendiri. Jose Mourinho memainkan gaya sepak bola tertentu. Begitu juga David Moyes. Erik ten Hag, sekali lagi, gaya sepak bola yang sangat berbeda - berbeda dengan apa yang biasanya dimainkan Man Utd," tambah Neville.

"Ruben Amorim, gaya sepak bola yang sangat berbeda dari yang biasanya diharapkan Man Utd. Eksperimen-eksperimen ini harus dihentikan."

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!