CEO Tottenham Hotspur Akui Klub Butuh ‘Reset Total’ usai Nyaris Degradasi
Beberapa hari setelah lolos dari jurang degradasi di pekan pamungkas Premier League yang menegangkan pada hari Minggu lalu, Chief Executive Tottenham Hotspur, Vinai Venkatesham, akhirnya angkat bicara. Dalam sebuah pernyataan terbuka yang jujur dan tajam, ia menegaskan bahwa klub London Utara tersebut membutuhkan "reset total" dan harus segera mengembalikan fokus utama mereka ke sektor sepak bola.
Keberhasilan mempertahankan posisi di kasta tertinggi kompetisi Inggris akhir pekan lalu tidak dirayakan dengan pesta, melainkan dengan rasa lega yang bercampur kecemasan mendalam di kalangan suporter. Bagi klub sebesar Tottenham, yang dalam beberapa tahun terakhir rutin bersaing di papan atas dan kompetisi Eropa, situasi musim ini merupakan titik nadir yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Kenyataan Pahit Setelah Satu Tahun Menjabat
Venkatesham, yang mengambil alih kursi pimpinan eksekutif setahun lalu setelah menyeberang dari rival abadi mereka, Arsenal, tidak menutupi kekecewaannya. Dalam wawancara mendalam bersama BBC, pria yang dianugerahi gelar OBE ini mengakui bahwa tantangan internal yang dihadapinya di Spurs jauh lebih berat daripada perkiraan awal.
Baca juga: Gol Tunggal Palhinha Selamatkan Tottenham dari Jurang Degradasi
"Jika Anda bertanya kepada saya beberapa bulan setelah saya bergabung, ketika saya bukan lagi orang luar, saya akan mengatakan kepada Anda bahwa klub berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk di beberapa tempat daripada yang saya kira," kata Venkatesham.
"Itu sama sekali bukan kritik terhadap siapa pun atau apa pun. Itu hanya apa yang saya temukan. Sangat jelas bahwa ini bukanlah semacam perubahan haluan yang dibutuhkan klub di beberapa area. Ini benar-benar reset total.
"Skuad ini perlu perbaikan dan belum memiliki keseimbangan yang tepat. Kita membutuhkan pengalaman dan kepemimpinan, serta ketahanan fisik untuk bermain di liga paling menuntut yang ada."
Musim 2025/26 berjalan layaknya mimpi buruk bagi publik London Utara. Setelah rentetan hasil buruk yang membawa klub terlempar ke papan bawah, manajemen memutuskan mendepak Thomas Frank pada pertengahan Februari menyusul kekalahan kandang 2-1 dari Newcastle United. Igor Tudor kemudian ditunjuk sebagai manajer interim jangka pendek untuk menstabilkan kondisi tim yang limbung.
Venkatesham juga membantah keras tudingan dari kelompok suporter yang menyebut dewan direksi bertindak "pasif" dan terlambat dalam merespons krisis kepelatihan di awal tahun. "Ada banyak pemberitaan bahwa klub bersikap pasif selama periode ini. Dan itu sama sekali tidak benar," tegas Venkatesham.
Janji Investasi dan Surat Terbuka Pemilik
Krisis hebat ini juga memicu reaksi langsung dari pemilik mayoritas klub. Keluarga Lewis, selaku pengendali ENIC yang memegang saham utama Tottenham, merilis surat terbuka kepada para suporter. Mereka mengaku "sangat kecewa" dengan pencapaian finis di posisi ke-17, namun menegaskan komitmen penuh mereka untuk tidak menjual klub.
Baca juga: Palhinha Ingin Bertahan di Spurs usai Jadi Pahlawan Hindari Degradasi
Pernyataan senada dikeluarkan oleh Ketua Non-Eksekutif Spurs, Peter Charrington. Pihak manajemen berjanji akan mengucurkan dana segar untuk melakukan perombakan skuad secara masif yang akan dibagi ke dalam beberapa jendela transfer mendatang.
Jendela Transfer Musim Panas yang Krusial
Bagi suporter Tottenham, kegagalan total musim ini terasa semakin menyakitkan karena sang rival, Arsenal, klub yang ditinggalkan Venkatesham setahun lalu, justru keluar sebagai juara Premier League musim ini. Sementara Spurs, yang terakhir kali mencicipi takhta juara liga pada musim 1960/61, harus puas merayakan keberhasilan bertahan di kasta tertinggi.
Wakil kapten tim, Micky van de Ven, secara jujur menyebut performa tim sepanjang musim ini "tidak bisa diterima" bagi klub sebesar Tottenham.
Baca juga: Berjuang dari Degradasi di Pekan Terakhir, Maddison Sebut Posisi Spurs Memalukan
Venkatesham sangat sadar bahwa kata-kata manis tidak lagi cukup untuk meredam amarah suporter yang telah menggelar berbagai aksi protes di stadion dalam beberapa bulan terakhir. Fokus utamanya kini tertuju pada bursa transfer musim panas yang akan segera dibuka.
"Kita perlu memperkuat klub selama beberapa jendela transfer, tetapi jendela transfer kali ini, khususnya, akan sangat penting,” pungkasnya.