Gelandang asal Portugal, João Palhinha, menegaskan komitmennya untuk bertahan di Tottenham Hotspur setelah muncul sebagai juru selamat klub dari jurang degradasi. Pemain yang mencetak gol penentu kemenangan krusial kontra Everton pada hari Minggu kemarin tersebut berharap status pinjamannya dari Bayern Munich dapat segera diubah menjadi kontrak permanen di London Utara.  

Gol tunggal Palhinha di menit ke-43 tidak hanya memastikan kemenangan 1-0 atas Everton di laga pamungkas, melainkan juga mengamankan posisi ke-17 klasemen akhir Premier League dengan koleksi 41 poin. Hasil dramatis di Stadion Tottenham Hotspur tersebut sekaligus mematikan harapan West Ham United, yang harus rela terlempar ke kasta Championship meski di laga lain menang telak 3-0 atas Leeds United.  

"Seperti Sebuah Pernikahan"

Palhinha, yang menghabiskan sepanjang musim ini sebagai pemain pinjaman dari raksasa Bundesliga, Bayern Munich, mengaku sudah jatuh cinta dengan atmosfer klub sejak menginjakkan kaki di London Utara.

Baca juga: Gol Tunggal Palhinha Selamatkan Tottenham dari Jurang Degradasi

Berbicara kepada media pada hari Senin waktu setempat mengenai masa depannya, gelandang bertahan berusia 30 tahun itu mengibaratkan proses transfernya seperti ikatan pernikahan.

“Sejak hari pertama saya tiba, saya merasa seperti di rumah,” kata Palhinha. “Mulai dari para pendukung, penonton. Klub top. Siapa yang tidak ingin bermain untuk Tottenham dan tetap di sini? Saya memiliki segalanya di sini. Tapi ini seperti pernikahan. Yang bisa saya katakan adalah saya sangat ingin berada di sini dan saya sangat menikmati musim ini bersama klub ini – meskipun ini musim yang sulit.”

Tottenham sendiri memiliki klausul khusus untuk mempermanenkan jasa mantan penggawa Fulham tersebut dengan biaya tebusan senilai 30 juta euro. Manajer Spurs, Roberto De Zerbi, bahkan secara terbuka menyatakan bahwa dirinya "100 persen" mendesak jajaran manajemen untuk mengaktifkan klausul tersebut demi membangun fondasi skuad musim depan.  

Akhir dari Musim yang Penuh Trauma

Bagi klub sebesar Tottenham, harus berjuang menghindari degradasi hingga pekan ke-38 merupakan sebuah anomali dan trauma tersendiri. Ini adalah pertama kalinya sejak tahun 1977 klub berjuluk The Lilywhites tersebut berada begitu dekat dengan jurang kasta kedua Inggris.  

Baca juga: Berjuang dari Degradasi di Pekan Terakhir, Maddison Sebut Posisi Spurs Memalukan

Badai cedera parah yang menimpa pilar penting seperti Cristian Romero, Mohammed Kudus, hingga Xavi Simons sempat membuat tim limbung di bawah kepemimpinan sebelumnya. 

Beruntung, manajemen bergerak cepat melakukan penyelamatan darurat dengan menunjuk Roberto De Zerbi di sisa musim. Pelatih asal Italia tersebut terbukti sukses meraup 11 poin krusial dari tujuh laga terakhirnya demi mengamankan napas Spurs di kasta tertinggi.  

Palhinha meyakini bahwa penderitaan musim ini harus dijadikan pelajaran berharga agar marwah klub bisa kembali ke papan atas pada kompetisi berikutnya.

“Saya pikir musim depan mudah-mudahan akan sangat berbeda dan saya benar-benar percaya,” ujarnya. “Musim ini akan membantu Tottenham untuk masa depan. Menganalisis musim ini, apa yang kami lakukan salah, apa yang kami lakukan dengan baik dan itu akan menjadi peningkatan besar dan kelegaan besar setelah musim berakhir.”

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!