Ini adalah diskusi yang telah menghancurkan persahabatan, memicu perdebatan sengit di kedai-kedai kopi dari Buenos Aires hingga Jakarta, dan mendominasi ruang redaksi olahraga selama beberapa dekade. Memilih satu pemain sebagai yang terbaik sepanjang masa adalah tugas yang hampir mustahil, karena setiap generasi memiliki pahlawan dan standar kehebatannya sendiri. 

Sepak bola telah berevolusi dari permainan bertempo lambat dengan bola kulit yang berat menjadi tontonan atletik berkecepatan tinggi, membuat perbandingan lintas era menjadi sangat subjektif.

Namun, sejarah panjang olahraga ini menuntut kita untuk menyusun sebuah panteon, sebuah daftar nama-nama dewa yang pernah menyentuh rumput hijau dengan sihir di kaki mereka.

Para Dewa Masa Lalu: Pelé dan Maradona

Selama paruh kedua abad ke-20, perdebatan ini hanya melibatkan dua nama besar yang mewakili dua kutub berbeda dari kejeniusan sepak bola.

Dari Brasil, muncul seorang remaja ajaib bernama Edson Arantes do Nascimento, yang dunia kenal sebagai Pelé. Ia bukan sekadar pemain sepak bola, melainkan duta global pertama olahraga ini. 

Baca juga: Mengapa Sepak Bola Menjadi Olahraga Paling Populer di Dunia?

Memenangkan tiga trofi Piala Dunia, sebuah rekor yang masih bertahan teguh hingga hari ini, Pelé menggabungkan ketangkasan, visi permainan, dan insting mencetak gol yang belum pernah disaksikan sebelumnya oleh dunia. Ia mengubah sepak bola menjadi sebuah bentuk seni murni dan membuat seluruh dunia jatuh cinta pada konsep "Jogo Bonito".

Lalu datanglah Diego Armando Maradona. Jika Pelé adalah representasi dari kesempurnaan dan harmoni, Maradona adalah kejeniusan yang lahir dari kekacauan jalanan. 

Pemain Argentina ini tidak sekadar memenangkan pertandingan, ia memenangkan seluruh turnamen dengan usahanya sendiri, seperti yang ia demonstrasikan pada Piala Dunia 1986. Gol abad ini yang ia ciptakan melawan Inggris, di mana ia membelah pertahanan setengah tim lawan sendirian, adalah bukti nyata dari bakatnya yang hampir tidak masuk akal. 

Maradona bermain dengan gairah yang meledak-ledak, membuatnya dipuja bak dewa yang hidup di Napoli dan Argentina.

Era Modern: Duel Messi dan Ronaldo

Memasuki abad ke-21, dunia olahraga disuguhi rivalitas individu terhebat dalam sejarah peradaban manusia. Selama lebih dari lima belas tahun, Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo saling mendorong satu sama lain hingga menyentuh batas absolut dari potensi fisik dan teknis manusia.

Cristiano Ronaldo adalah perwujudan nyata dari dedikasi dan kesempurnaan fisik. Penyerang asal Portugal ini berevolusi dari seorang pemain sayap yang lincah menjadi mesin pencetak gol paling mematikan dalam sejarah sepak bola profesional. 

Baca juga: Teknologi Garis Gawang vs VAR dalam Menentukan Penalti

Kemampuannya melompat melawan gravitasi, menembak dengan kedua kaki secara sama buasnya, dan mentalitas pemenang yang menolak untuk menyerah membawanya meraih lima penghargaan Ballon d'Or dan lima gelar Liga Champions. Ia adalah monumen hidup dari apa yang bisa dicapai oleh kerja keras dan ambisi tanpa batas.

Di sisi lain, Lionel Messi menawarkan sesuatu yang sama sekali berbeda dan seringkali sulit dijelaskan dengan logika. Bermain sepak bola tampak seperti bernapas baginya. Visi bermainnya yang melampaui ruang dan waktu, kontrol bola yang seolah menempel secara magnetis di kakinya, dan kemampuannya melewati kerumunan bek lawan dengan gerakan tubuh yang mengalir halus membuatnya tampak seperti makhluk yang bermain di dimensi berbeda. 

Messi mencatatkan rekor gol yang tak terhitung jumlahnya dan mengumpulkan delapan Ballon d'Or, sebuah pencapaian yang mungkin tidak akan pernah disamai oleh pesepak bola mana pun di masa depan.

Momen Puncak di Lusail

Selama bertahun-tahun, satu-satunya argumen valid yang sering digunakan oleh para kritikus untuk menahan Messi dari tahta tertinggi adalah ketiadaan trofi Piala Dunia, sebuah lambang keabadian yang dimiliki oleh Pelé dan Maradona.

Semua narasi itu hancur lebur pada malam magis tanggal 18 Desember 2022 di Stadion Lusail, Qatar.

Dalam sebuah pertandingan final epik yang langsung diakui sebagai salah satu pertandingan olahraga terbaik yang pernah dimainkan umat manusia, Messi memimpin Argentina meraih kejayaan melawan Prancis. 

Baca juga: Perbedaan Interpretasi Pelanggaran di Kotak Penalti antara Liga Inggris dan Liga Spanyol

Ia mencetak dua gol krusial, tampil dengan ketenangan seorang maestro di tengah badai tekanan, dan akhirnya mengangkat trofi emas yang selama ini selalu menghindarinya. Bagi sebagian besar jurnalis olahraga, analis taktik, dan miliaran penggemar di seluruh dunia, momen saat Messi mengangkat trofi di bawah langit Qatar adalah momen di mana perdebatan ini resmi menemui titik akhir. Ia telah menaklukkan segalanya di level klub dan memenangkan kepingan terakhir di level internasional.

Pelé akan selalu dihormati sebagai Sang Raja, Maradona akan selalu disembah sebagai Dewa bagi rakyatnya, dan Cristiano Ronaldo akan selalu dikenang sebagai gladiator paling sempurna. 

Namun, jika kita harus memilih satu nama tunggal yang menggabungkan kejeniusan murni, konsistensi tak masuk akal selama hampir dua dekade, dan lemari trofi, nama itu adalah Lionel Messi. Sang penyihir kecil dari Rosario itu telah menyelesaikan sepak bola.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!